Kamis, 14 April 2005 | 18:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Omzet pedagang bunga di pusat promosi tanaman hias hasil pertanian dan kehutanan di Rawa Belong anjlok sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Akibatnya, harga jual bunga di sentra pusat penjualan bunga tersebut anjlok.
Marwan (38), pedagang bunga mengatakan, turunnya jumlah pembeli ini mulai terasa setelah kenaikan BBM awal Maret lalu. Penjualan makin turun pada saat bencana alam melanda Indonesia. “Omzet membaik sebentar pada saat imlek, tapi setelah itu sepi lagi,” katanya. Dia mengaku, pada saat ramai keuntungan yang bisa diperoleh sebesar Rp 400 ribu. “Hari biasa hanya Rp 50 ribu,” tambah dia lebih lanjut.
Sedangkan pedagang lainnya, Sunarto (29) menyatakan, sepinya pembeli bunga dipengaruhi oleh tidak adanya perayaan pernikahan di kalangan etnis Tionghoa. “Menurut kepercayaan mereka, hingga 2-3 bulan ke depan saat perayaan Ceng Beng, mereka tidak boleh mengadakan perayaan perkawinan. Padahal orang-orang Tionghoa yang paling beli kembang.”
deni mukbar
SUmber: Tempo Interaktif
