Authors: Deni Mukbar, Dyan w, Titik Hartini, Yulia IS
ISBN: 111
Manufacturer: ASPPUK-Akatiga
Publication date: 2007
Edition: 1
Language: NOTHING
Price: 25000
Rating:
Order from Amazon:
Comment:
Informasi Lebih lanjut hubungi:
AKATIGA, Center for Social and Analyst
Jl. Tubagus Ismail II/2 Bandung
(022) 2502302
Uraian singkat dapat dilihat dalam Abstrak
Laporan penelitian ini membahas pengaruh strategi pemberdayaan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) dan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M), sebagai anggota ASPPUK, dalam menyelesaikan persoalan Perempuan Usaha Kecil (PUK) mikro di Batu Gadang, Padang. Metode kualitatif digunakan agar mendapat perbandingan kondisi PUK-mikro sebelum dan setelah pemberdayaan. Data diperoleh melalui pengamatan, wawancara dan studi literatur.
LP2M mendampingi PUK-mikro sejak 1995 melalui pelatihan-pelatihan dan diskusi mengenai persoalan ketidakadilan gender, teknis usaha, dan pemahaman politik PUK-mikro. Strategi pemberdayaan dilakukan secara berjenjang melalui empat lapisan, mulai dari lapis kesatu (pengurus kelompok PUK-mikro dan community organizer) hingga keempat (PUK-mikro yang tidak aktif). Hasilnya adalah ketidakseragaman pengaruh pemberdayaan antarlapisan PUK-mikro. Pengaruh pemberdayaan terhadap PUK-Mikro secara nyata tampak pada lapis kesatu, terkait dengan terjadinya perubahan relasi gender dalam rumah tangga. Keikutsertaan mereka dalam lembaga formal di masyarakat cenderung menjadikan mereka memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi dan membentuk elitisasi dibandingkan anggota dari lapisan lainnya.
Pengaruh pemberdayaan secara umum tampak dalam peningkatan ekonomi, relasi gender yang lebih setara, dan meningkatnya partisipasi politik PUK-mikro, baik di rumahtangga maupun masyarakat. Pertemuan rutin kelompok tidak hanya berperan sebagai wadah sosialisasi, tetapi juga arena yang berpotensi meningkatkan kemampuan PUK-mikro untuk lebih “bersuara”.
Pemberdayaan gender dan politik merupakan kekuatan LP2M, yang dilakukan melalui advokasi di tingkat lokal untuk menumbuhkan kesadaran kritis PUK-mikro. Personal is political adalah konsep yang cukup berhasil diterapkan LP2M karena tidak hanya dipahami sebagai bentuk kesadaran kritis PUK-mikro atas kondisi lokal, tetapi juga diwujudkan dengan kemampuan PUK-mikro untuk memobilisasi anggota Jarpuk demi mengadvokasikan kepentingan mereka sebagai perempuan ataupun perempuan usaha kecil.
Secara umum budaya matrilineal tetapi patriarkal di Batu Gadang tampak masih bertautan dalam kehidupan PUK-mikro sehari-hari. Meski patriarki dapat ditawar apabila ada kontribusi nyata, ekonomi ataupun sosial, dari kegiatan PUK-mikro di luar rumah untuk meningkatkan kedudukan keluarga, pemberdayaan LP2M penting untuk mengikutsertakan suami dan mamak. Kedua kelompok laki-laki tersebut merupakan para pelaku yang erat dengan kehidupan PUK-mikro dan berpotensi untuk melanggengkan ataupun memperbaiki relasi gender dalam budaya patriarki di Batu Gadang agar lebih setara.
Kata kunci: PUK-mikro, pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan gender, pengorganisasian,kesetaraan relasi gender, matrilineal, patriarki.
