Mengenang Politisi Dingin, Buya Ismail Hasan Metareum

Nasional
Sabtu, 02 April 2005 | 15:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pelan-pelan, tanah merah itu menutupi liang lahat. Angin berhenti bertiup, dan tepat jam 14:00 WIB, jenazah tokoh Partai Persatuan Pembangunan Ismail Hasan Metareum, dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Sabtu (2/4).

Ismail Hasan Metareum atau lebih dikenal dengan sebutan Buya Ismail, menghembuskan nafas terakhir dinihari tadi, setelah seminggu lebih dirawat di RS Pelni Petamburan.

Sebelum pemakaman, datang melayat ke rumah duka di Komplek DPR Joglo, Jakarta Barat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan isteri, Ketua DPR HR Agung Laksono, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, serta sejumlah politisi PPP yang pernahmenjabat sebagai menteri, kaum kerabat, famili, serta tetangga almarhum.

Semasa hidup, Buya merupakan sosok politisi unik, tenang, tidak garang berpidato, berbicara nyaris tanpa emosi, datar. Ayah lima anak dengan isteri bernama Maryani ini sejak lama dikenal sebagai politisi “dingin” pembawa “kesejukan”. Predikat ini sudah melekat bahkan sejak masih jadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Karena sosoknya yang tenang inilah, gadis-gadis anggota HMI pada waktu itu memanggilnya dengan sebutan Buya, panggilan buat orang Minang yang berasal dari kata abi, abuya dalam Bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati.

Toh, Ismail bisa juga tampil “garang”. Ketika menjabat Ketua Umum PB HMI pada akhir 1950-an misalnya. Saat itu ia sempat marah kepada Bung Karno karena membubarkan DPR terpilih dan menggantinya dengan DPR GR (Gotong Royong) bentukan Bung Karno sendiri. Sebagai bentuk protes, ketika Bung Karno meminta Buya Ismail mengirim tiga utusan HMI untuk ditempatkan di lembaga terhormat itu, Buya menolaknya. Sebab Buya menilai apa yang dilakukan Bung Karno sudah inkonstitusional.

Buya dilahirkan dalam keluarga ulama di Metareum, Sigli, Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam. Ayahnya, Teungku Hasan, memimpin sebuah pesantren disana. Sejak kecil, Buya menunjukkan bakat kepemimpinannya. Belum lagi ia menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR), setingkat SD sekarang, Buya kerap menjadi imam salat. Dalam pergaulan dengan teman-teman sebayanya, ia dikenal tidak terlalu bebas. Buya juga tidak suka bermain belama-lama, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menekuni buku-buku dan belajar ilmu agama.

Ismail remaja pernah menjadi anggota organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) Banda Aceh. Setelah pindah ke Jakarta, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua PII cabang Jakarta. Buya melebarkan sayap aktivitas organisasinya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di organisasi ekstrauniversiter ini, Buya pernah duduk sebagai Wakil Ketua Umum dan Ketua Umum.

Perjalanan politiknya dimulai saat bergabung dengan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) menjelang pemilu 1971. Pada tahun yang sama ia terpilih sebagai anggota DPR mewakili partai tersebut. Ketika Parmusi melebur dalam PPP, Buya jadi salah satu pilar di partai fusi ini. Berikutnya, Buya duduk sebagai angota DPR mewakili PPP dan langsung dipercaya menjadi sekretaris Fraksi PPP.

Buya kemudian terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan untuk periode 1989-1994. Selama menjadi pimpinan PPP itu, ia membawa semangat dan hawa baru di partai berlambang bintang itu. Penampilannya yang sejuk dan adem, membuat partai itu pun terkenal sebagai partai yang adem pula. Perlu dicatat, selama Buya Ismail memimpin PPP, banyak konflik internal yang berhasil diredam. Sehingga PPP hampir dapat dikatakan bersih dari konflik internal.

Selain aktif di dunia politik, Buya Ismail dikenal sebagai seorang guru. Ia pernah menjadi dosen di Fakultas Hukum Universitas Indonesia serta dosen di Fakultas Hukum Universitas Tarumanegara sampai ajal menjemputnya.

Deni Mukbar

Sumber: Tempo Interaktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s