Mutiara PPP Itu Telah Pergi

Headline
Minggu, 03 April 2005

Di siang yang terasa begitu garing, kemarin, jenazah Buya Ismail Hasan Metareum dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Di siang yang terasa begitu garing, kemarin, jenazah Buya Ismail Hasan Metareum dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Infeksi paru-paru yang menyerangnya sejak beberapa hari sebelum dia pulang dari tanah suci Mekkah, 31 Januari lalu, membuat bekas orang nomor satu di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini pergi menghadap Sang Khalik—ketika dengung azan subuh masih begitu lekat.

“Sewaktu di Mekkah itu hemoglobinnya turun. Akhirnya kami berencana memasukkannya ke Rumah Sakit Saudi,” kata Nazarudin, anak kedua Metareum. Namun, kata satu-satunya anak Metareum yang menemaninya berangkat ke Arab Saudi ini, pihak keluarga mengurungkan niat memasukkannya ke Rumah Sakit Saudi. Soalnya, apabila telanjur dirawat inap, dapat dipastikan Metareum tidak diperbolehkan pulang cepat.

Nazarudin mengambil inisiatif meminta rawat jalan. Pihak Rumah Sakit Saudi memberikan perawatan langsung, infus, dan suntik vitamin. Saat kondisi Metareum menurun drastis di Arab Saudi, kata Nazarudin, di Mekkah kebetulan juga banyak orang yang sedang mengidap infeksi paru-paru. Kondisi lingkungan memang tidak mendukung. Nazarudin memastikan almarhum terkena penyakit ini di Arab Saudi.

Metareum dibawa pulang ke Indonesia pada akhir Januari lalu. Di Tanah Air, dia sempat dirawat inap di Rumah Sakit Haji selama satu bulan hingga kondisinya membaik. Belakangan, penyakit yang diderita saat di Arab Saudi ternyata kambuh lagi sehingga dia dibawa ke Rumah Sakit Pelni untuk dirawat inap. Di rumah sakit inilah Metareum mengembuskan napas terakhir kemarin pagi.

Sebelum beristirahat panjang, Metareum telah meniti karier yang berliku di dunia politik. Selama dua periode, dia menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PPP (1989-1994 dan 1994-1999). Lewat partai itulah, sejak 1971, dia menjadi anggota DPR. Seluruh aktivitas politik alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1964) ini dimulai dengan kiprahnya di berbagai organisasi sosial dan politik.

Pertama aktif di organisasi, dia menjadi anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) Banda Aceh (1946-1950). Selama menjadi politikus, lelaki kelahiran Sigli, Aceh, 4 April 1929, itu menghadapi banyak aral melintang. Serangan bertubi-tubi harus dihadapi lantaran karier politiknya yang melesat. Serangan tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam tubuh partainya sendiri.

Para politikus di negeri ini tentu masih ingat ketika tiba-tiba saja PPP mencalonkan Soeharto sebagai presiden kembali pada periode 1993-1998. Pencalonan itu mengemuka sebelum Golkar mencalonkan kembali Soeharto secara resmi. “Matori (Abdul Djalil, Sekretaris Jenderal PPP) ingin menjegal saya,” kata Metareum kepada Tempo ketika itu. Tidak hanya itu, Sri Bintang Pamungkas saat masih aktif di PPP juga pernah menyatakan diri sebagai calon presiden.

Dan Metareum menghadapi semua itu dengan tenang. “Boleh saja, silakan. Bisa itu, misalkan jadi presiden komisaris walaupun tidak ada perusahaannya,” katanya.

Hingga menjelang akhir hidupnya, Metareum masih terus melontarkan sikap politik ke depan publik. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majelis Penasihat Pusat PPP, misalnya, dia menyatakan dukungannya kepada Susilo Bambang Yudhoyono sebelum pemilu presiden berjalan.

Dukungan itu disampaikan di kediaman Yudhoyono. Ketika itu, Metareum didampingi tokoh PPP seperti Husni Thamrin (Wakil Ketua MPR), Faisal Baasir (anggota Majelis Penasihat Parmusi), Darmansyah (Ketua Parmusi), dan Usamah Hisyam (Sekjen Parmusi).

Dan ternyata dukungan Metareum tidak sia-sia. Yudhoyono, yang siang kemarin juga tampak melayat, akhirnya memang terpilih menjadi presiden. Doa yang dibacakan Menteri BUMN Sugiharto mengantar Metareum pergi meninggalkan istrinya, Mariani, serta lima orang anak, masing-masing Ratna Sahara, Nazarudin, Hilman, Mustafa Fahari, dan Taufik Churohman. Menurut Sugiharto, Metareum adalah orang yang telah memberinya inspirasi untuk membangun bangsa dan negara Indonesia.

“Di antara para pemimpin, almarhum adalah salah satu mutiara yang patut dijadikan teladan,” ujar Sugiharto. Dan salah satu mutiara PPP itu pun akhirnya tidur panjang dengan tenang. utomo tri rahasto/deni mukbar/nur hidayat

@ korantempo

Sumber: http://www.korantempo.com/korantempo/2005/04/03/headline/krn,20050403,13.id.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s