Analisis Gender

Apa yang perlu diketahui mengenai gender? Apa pula yang dibahas dalam kajian gender?

Analisis jender dapat dilihat sebagai menjadi kriteria yang digunakan gerakan feminisme untuk mempertanyakan ketidakadilan sosial dari aspek hubungan antarjenis kelamin. Dalam melakukan identifikasi terhadap ketidakadilan ini analisis jender mula-mula membuat pembedaan antara apa yang disebut “seks” dan “jender”.

Seks, demikian didefinisikan, adalah pembedaan laki-laki dan perempuan yang didasarkan atas ciri-ciri biologis. Sedangkan jender adalah pembedaan laki-laki dan perempuan secara sosial.

Pada prinsipnya analisis jender tidak mempermasalahkan pembedaan-pembedaan itu selama tidak melahirkan ketidakadilan. Akan tetapi, analisis ini melihat pembedaan secara jender (gender differences) sangat potensial melahirkan ketidakadilan jender (gender inequalities). Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang dilakukan analisis jender adalah menggugat pembedaan jender, khususnya yang melahirkan ketidakadilan.

Menurut analisis jender, ketidakadilan jender bisa diidentifikasi melalui berbagai manifestasi ketidakadilan, yakni: marjinalisasi (proses pemiskinan ekonomi), subordinasi (anggapan tidak penting), stereotype, kekerasan (violence), dan beban kerja ganda (double burden).

Stereotype adalah pemberian cap yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki yang telah dikonstruksikan secara sosial. Pekerjaan mencari nafkah adalah pekerjaan laki-laki sementara pekerjaan mengurus rumah dan keluarga adalah pekerjaan perempuan. Ruang domestik, pekerjaan reproduktif dan kerja bukan upahan menjadi milik perempuan; ruang publik, pekerjaan produksi dan kerja upahan adalah milik laki-laki. Pelabelan inilah yang kemudian melahirkan beberapa ketidakadilan yang akan diuraikan di bawah ini.

Sangat terkait dengan pelabelan-pelabelan tersebut, maka salah satu implikasinya ada pada akses dan kontrol terhadap sumber daya ekonomi (seperti tanah, asset, modal) yang menyebabkan marjinalisasi perempuan atau proses pemiskinan ekonomi. Konsep peminggiran ekonomi (economic marginalisation) terhadap perempuan menggunakan empat dimensi yang bisa dijadikan alat analisis sebagai berikut: (1) peminggiran sebagai proses tersistematis untuk menyisihkan perempuan dari pekerjaan produktif sehingga sebagai akibatnya banyak perempuan yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang dibayar. (2) peminggiran sebagai konsentrasi/pemadatan di pinggiran pasar kerja. Hal ini merujuk pada tingkat pemadatan semua perempuan bekerja ke kegiatan-kegiatan pinggiran; (3) peminggiran sebagai feminisasi atau pemisahan. Ini merupakan pengaruh pemadatan perempuan di pinggiran di suatu sektor atau kegiatan yang menjadi didominasi perempuan. Hasilnya, kegiatan-kegiatan ini memunyai kedudukan rendah dan miskin kemampuan pengembangan diri; (4) peminggiran sebagai ketidaksetaraan ekonomi (Mulyanto, 2006; 79-80). Hal ini bisa dinilai lewat upah dan bayaran berbeda serta ketidaksetaraan akses terhadap keuntungan tertentu seperti bonus, pelatihan, dan lain-lain. Sebagai contoh di bidang-bidang pekerjaan yang dilakukan baik oleh perempuan maupun oleh laki-laki, buruh perempuan cenderung disisihkan ke dalam sektor-sektor industri tertentu, dan ke dalam jenis jenis pekerjaan tertentu pula dalam sektor tersebut. Dan dalam pekerjaan-pekerjaan itu, buruh perempuan biasanya mendapat upah lebih rendah, dianggap kurang memiliki ketrampilan, ditempatkan dalam urutan yang lebih rendah dalam jajaran kekuasaan serta menjalani kondisi kerja yang relatif buruk (Phillips dan Taylor, 1980).

Bentuk ketidakadilan jender lainnya yaitu sub-ordinasi atau penomerduaan. Konsep subordinasi posisi perempuan terhadap laki-laki mengacu pada hubungan antara perempuan dan laki-laki di dalam proses sosial secara keseluruhan, dan bagaimana hubungan ini berlangsung sehingga merendahkan posisi perempuan, perempuan dianggap tidak penting. Di lingkup ini, Moore [1988] secara kritis mengkaitkan pelabelan seksual dengan konsep kerja. Menurut Moore [1998] di dunia kapitalis ini, terjadi anggapan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan upah/bernilai ekonomi (produksi dan di publik) dianggap sebagai kerja, sementara pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghasilkan upah/tidak bernilai ekonomi dianggap bukan kerja, hanya aktivitas. Oleh karena itu dengan tajam Moore (1988: 15) menyimpulkan kerja-kerja perempuan seringkali tidak tampak (invisible) karena keterlibatan perempuan tampak di pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghasilkan upah atau tidak dilakukan di luar rumah (walaupun memberikan penghasilan) , maka perempuan dianggap hanya beraktivitas, bukan kerja, dan karenanya tidak penting. Studi yang dilakukan oleh Chotim (1994) memperlihatkan adanya pembagian kerja yang merendahkan perempuan di industri kecil batik. Perempuan banyak dipekerjakan sebagai buruh ‘putting out’ lewat sistim makloon, dan upah buruh perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

Marjinalisasi dan stereotype jender ini selain bersumber pada konteks struktural ekonomi juga bersumber pada kebudayaan-kebudayaan setempat.Bahkan studi yang dilakukan oleh Van Velzen (1990) memperlihatkan bahwa ke-4 dimensi peminggiran tersebut tidak selalu terjadi, terutama untuk industri kecil pengolahan makanan. Peminggiran yang terjadi lebih di citranya sebagai penguasa usaha setelah keikutsertaan suaminya, dimana mereka selalu berusaha menjaga perasaan suaminya sehingga pengelolaan dan pemilikan usaha menjadi kabur antara suami sebagai penguasa usaha formal dengan istrinya yang memang menjadi pengelola usaha.

Stereotype dan subordinasi juga menyebabkan ketika seorang perempuan (yang mayoritas motivasi usahanya karena kondisi kritis dan kemiskinan keluarganya) memutuskan berusaha, selalu diikuti dengan embel-embel “boleh bekerja asalkan tidak melupakan rumahtangga”. Akibatnya ketika seorang perempuan berusaha maka mayoritas dari mereka akan mengalami apa yang disebut sebagai beban kerja berlebih. Hampir seluruh waktu perempuan digunakan untuk bekerja, dan akibatnya sedikit waktu yang digunakan oleh perempuan untuk dirinya sendiri seperti waktu tidur, membicarakan hal-hal diluar rutinitasnya seperti membaca koran, mendengarkan informasi atau sekedar menjalankan minatnya.

Bentuk marjinalisasi lainnya yaitu kekerasan. Deklarasi Anti-Kekerasan terhadap Perempuan menyebutkan, kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin, berakibat atau mungkin berakibat pada kerugian fisik, seksual, atau psikologis; atau penderitaan perempuan, termasuk ancaman terjadinya perbuatan itu, pemaksaan atau penghilangan kebebasan secara sewenang-wenang, baik di depan umum atau dalam kehidupan pribadi (Pasal 1). Dengan demikian bentuk kekerasan terhadap perempuan mencakup kekerasan fisik maupun psikologis. Kekerasan terhadap perempuan seringkali dilakukan baik oleh pihak luar maupun juga terjadi di ruang-ruang keluarga, oleh suami, tetangga atau saudara.

Walaupun beberapa literatur secara tegas memperlihatkan terjadinya ketidakadilan jender yang selalu merugikan perempuan dan kemudian berdampak pada usahanya, beberapa studi lainnya memperlihatkan hal yang berbeda. Studi yang dilakukan oleh Schiller [1978] mengenai perempuan pedesaan di daerah Jawa memperlihatkan bahwa kerjasama antara perempuan dan laki-laki di Jawa itu mungkin terjadi, hubungan yang ada tidak selalu hubungan penindasan. Studi yang dilakukan oleh Dewayanti (2004) juga pada beberapa kasus menunjukkan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. Sebagai anggota rumahtangga sekaligus pengelola usaha, resiko yang ditanggung biasanya relatif sama. Kasus-kasus ini memperlihatkan seringkali kacamata untuk selalu memposisikan perempuan sebagai kelompok yang selalu tertindas juga tidak selalu benar, karena di rumah tangga relasi antara perempuan dan laki-laki juga bersifat dinamik dan cair.

6 responses to “Analisis Gender

  1. thanks… for blog really such a handy stuff for me…

  2. isinya sangat bagus dan mudah dipahami
    saya minta ijin untuk menyadur isi dari analisis gender sebagai pembelajaran lebih lanjut

    • Terima kasih atas kunjungan dan apresiasi anda. Silakan anda menyadur dan menggunakannya sesuai kebuuhan,selama masih tetap menggunakan asas-asas menyadur. Selamat belajar dan mari berdiskusi lebih lanjut.

      • Saya sangat terinspirasi….. materi pembahasan yang ada akan sangat membantu pengetahuan saya tentang perjuangan perempuan, khususnya tentang pergerakan dan perjuangan gender. Hidup Perjuangan Perempuan ! (apakah diijinkan saya menyadur isi yang ada yg mana akan saya gunakan sebagai motivasi dan materi ilmu di organisasi saya yg saat ini sedang fokus kepada perjuangan gender

  3. Terima Kasih Mbak Evi atas responnya.
    Silakan anda menyadur isi dalam tulisan tersebut, saling berbagi ilmu tidak ada salahnya juga bukan?hehe
    Kalau boleh tau, organisasi apa yang anda geluti sekarang?
    Selamat berjuang Mbak, sukses selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s