Ceng Beng Datang, Penjualan Bunga Anjlok

Koran Tempo
Metropolitan
Sabtu, 16 April 2005

JAKARTA – Omzet pedagang bunga di Pusat Promosi Tanaman Hias Hasil Pertanian dan Kehutanan Rawa Belong anjlok. Selain akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, penurunan penjualan disebabkan oleh pengaruh bulan Sura atau Safar dan Ceng Beng.

Marwan, 38 tahun, pedagang bunga, mengatakan, turunnya jumlah pembeli ini mulai terasa setelah kenaikan harga BBM awal Maret lalu. Penjualan makin turun pada saat bencana alam melanda Indonesia. “Omzet membaik sebentar pada saat Imlek, tapi setelah itu sepi lagi,” katanya. Dia mengaku, pada saat ramai, keuntungan yang bisa diperoleh adalah Rp 400 ribu. “Hari biasa hanya Rp 50 ribu.”

Sedangkan pedagang lainnya, Sunarto, 29 tahun, menyatakan, sepinya pembeli bunga dipengaruhi oleh tidak adanya perayaan pernikahan di kalangan etnis Tionghoa. “Menurut kepercayaan mereka, hingga 2-3 bulan ke depan saat perayaan Ceng Beng, mereka tidak boleh mengadakan perayaan perkawinan. Padahal orang Tionghoa yang paling banyak beli kembang.”

Menurut staf pelayanan di Pusat Promosi Bunga/Pemasaran Hasil Pertanian dan Hasil Hutan, Somadi, penurunan penjualan bunga dipengaruhi oleh berkurangnya pesta pernikahan di kalangan etnis Tionghoa, Jawa, dan Sunda.

Dia menjelaskan, setelah perayaan Imlek, menurut kepercayaan etnis Tionghoa, berkaitan dengan masa Ceng Beng. Momentum itu pun hampir bersamaan dengan datangnya bulan Sura dan Safar. Pada bulan-bulan itu, masyarakat dari suku Sunda dan Jawa memiliki pandangan untuk tidak melaksanakan pesta pernikahan karena menganggapnya kurang baik. “Orang Tionghoa biasanya membeli bunga dalam jumlah banyak dan harganya mencapai miliaran, tapi karena Ceng Beng, pembeli berkurang,” ujarnya kemarin.

Selain karena masalah budaya, kata Somadi, penurunan penjualan bunga dipengaruhi oleh adanya bencana alam di berbagai daerah. “Paskah kemarin saja yang beli bunga berkurang. Biasanya gereja beli bunga untuk dekorasi,” katanya.

Penjualan bunga makin berkurang ketika pemerintah menaikkan harga BBM. “Setelah harga BBM naik, konsumen mengurangi beli bunga untuk tanda ucapan,” kata Somadi. Akibatnya, banyak penjual bunga yang menurunkan harga jual.

Agustino, perencana pernikahan, mengatakan, masyarakat Tionghoa pada April-Mei memang tidak diperbolehkan melaksanakan perayaan perkawinan. Menurut dia, hal ini karena tradisi Ceng Beng. “Untuk April dan Mei, perkawinan memang tidak ada karena menurut tradisi tidak boleh. Juni, baru mereka akan menggelar pesta kembali,” katanya.

Dia menjelaskan, tradisi Ceng Beng merupakan masa untuk mendoakan leluhur, dan perayaan perkawinan dianggap tabu. “Sebenarnya ini hanya terjadi pada kalangan Tionghoa totok (orang tua), tapi anak mudanya kan masih mendengarkan nasihat orang tuanya. Jadi pernikahan pun tidak dilakukan.”

Sedangkan dari sisi budaya Jawa, bulan Sura merupakan bulan pertama kalender Jawa yang merupakan saat sakral dan dijadikan momentum “pantang dhuwe gawe” atau memiliki hajat, baik pernikahan, khitanan, maupun pesta lainnya. Mereka memiliki keyakinan, siapa saja yang melanggar pantangan itu akan mendapat berbagai nasib sial.

deni mukbar

Sumber: Koran Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s