Pedagang Pasar Menjerit

Rabu, 20 April 2005

Udin, pedagang sembilan kebutuhan pokok (sembako) di kawasan Jembatan Besi, Jakarta Barat, kini hanya bisa pasrah. Tak jauh dari tempatnya berdagang telah berdiri pusat perbelanjaan serba lengkap (hipermarket) yang menjual semua kebutuhan konsumen. Sejak pusat belanja itu beroperasi, kata dia, omzet penjualannya menurun drastis. “Boleh saja hipermarket berdiri, tapi jangan sampai mematikan usaha pedagang kecil seperti kami,” ujarnya.

Dampak pendirian sejumlah hipermarket baru di Jakarta Barat tidak hanya menurunkan pendapatan Udin, tapi juga pedagang lainnya. Apalagi barang yang dijual oleh pengelola pusat belanja tersebut hampir sama dengan pedagang pasar. Kalau sudah begitu, tentu saja pembeli lebih condong berbelanja ke hipermarket daripada ke pedagang pasar.

Sejumlah pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Cabang Jembatan Besi, Jakarta Barat, Selasa (19/4), menyatakan, penolakan adanya hipermarket dan jaringannya di dekat pasar tradisional. Mereka juga menyatakan melalui Gerakan Satu Juta Tanda Tangan agar pemerintah daerah tidak menerbitkan izin-izin baru pendirian hipermarket. “Kami tidak mempermasalahkan banyaknya hipermarket, tapi jangan sampai menyalahi aturan pemerintah daerah,” kata Ketua Umum APPSI Sunardi.

Para pedagang menuntut pengelola pasar, PD Pasar Jaya, agar mengelola pasar secara profesional, memberikan jaminan kepastian tempat usaha yang layak, melibatkan pedagang dalam peremajaan dan pengelolaan pasar, serta meminta pemerintah untuk menerbitkan undang-undang perpasaran yang melindungi pedagang pasar tradisional.

Sunardi yang juga pedagang alat-alat tulis mengatakan, keberadaan hipermarket di dekat Pasar Jembatan Besi sudah menyalahi Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI No. 44 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perpasaran Swasta di Provinsi DKI Jakarta. Dalam SK tersebut disebutkan hipermarket mulai beroperasi pukul 09.00-22.00 WIB. “Faktanya hipermarket buka mulai pukul 07.00 WIB,” ujarnya.

Sedangkan Poniman, pedagang sandal di Pasar Jembatan Besi, mengatakan, keberadaan hipermarket menyalahi SK gubernur, yaitu jarak dengan pasar tradisional minimal 500 meter. “Tapi jarak 200 meter sudah ada hipermarket.”

Menurut dia, PD Pasar Jaya selaku pengelola pasar dinilai tidak berpihak kepada pedagang. “Seharusnya PD Pasar Jaya sebagai orang tua pedagang bisa melindungi kami, yang terjadi sebaliknya,” kata Poniman.

Manajer Areal 11 PD Pasar Jaya Hidayat menyatakan prihatin dengan banyaknya usaha hipermarket di dekat pasar tradisional. “Kami prihatin dengan adanya kompetitor buat pedagang pasar,” ujarnya. Namun, kata dia, di era globalisasi persaingan sudah biasa. “Apalagi sekarang ada AFTA (kawasan perdagangan besar Asia Tenggara).”

Calon pembeli, kata Hidayat, selama ini lebih memilih datang ke hipermarket karena kondisi tempatnya lebih nyaman dan tidak semrawut. “Pembeli mungkin malas datang ke pasar tradisional, apalagi kalau di Pasar Jembatan Besi yang sering banjir kalau musim hujan,” katanya. Untuk menarik calon pembeli dia mengusulkan agar pasar tradisional di Jakarta Barat direnovasi.

deni mukbar

Sumber: Koran Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s