Sistem Pewarisan

Di negara kita secara umum dikenal dua sistem pewarisan, yaitu mengacu pada agama dan adat. Sistem pewarisan menurut agama, secara umum membagi hak waris anak laki-laki dua kali lebih besar dibanding perempuan (laki-laki sepikul, perempuan segendongan). Selain itu pada beberapa masyarakat dikenal pula sistem pewarisan mengacu pada adat (kebiasaan) setempat. Hak waris anak laki-laki dan perempuan dianggap sama.

Masyarakat di salah satu desa yang ada di wilayah Jawa Tengah sampai saat ini masih menggunakan aturan adat untuk membagi waris terhadap anak keturunan mereka. Ada anggapan bahwa pembagian waris ‘sepikul’ dan ‘segendongan’ menyebabkan ahli waris tidak guyub (rukun). Pernyataan ini memang tidak dapat dianggap umum. Kemungkinan ahli waris tidak menjadi rukun karena masing-masing di antaranya merasa tidak mendapat hak yang sama dan menimbulkan iri satu sama lain. Pertimbangan mencegah perselisihan itulah aturan adat lebih banyak dipilih masyarakat untuk membagi harta waris kepada anak-anaknya. Semua anak mendapat pembagian secara merata, terlepas dari laki-laki atau perempuan. Harta yang diwariskan adalah harta-harta yang berada di luar rumah, sementara rumah dan isinya akan diberikan kepada anak yang mampu merawat orang tuanya.

Umah (rumah) yang ditinggali orang tua umumnya tidak menjadi harta yang dibagikan. Rumah tersebut akan diserahkan kepada anak yang dianggap bisa ngerumat (merawat) orang tua. Bisa diberikan kepada anak bungsu (ragil), anak tengah, atau anak sulung (barep). Kesepakatan pemberian umah tersebut diatur dalam keluarga masing-masing. Namun, kebiasaan yang muncul memberikan umah tersebut kepada anak bungsu keluarga tersebut.

Sistem bagi waris pada keluarga yang tidak memiliki anak berbeda dengan bagi waris pada keluarga yang memiliki anak. Harta si jenazah, baik suami atau istri, akan dikembalikan ke ahli waris masing-masing. Sementara itu, harta bersama yang diperoleh selama menikah anak dibagi rata dan diberikan kepada masing-masing. Pembagian harta waris ini akan diberikan kepada saudara sekandung masing-masing jenazah.

Pola pewarisan pada masyarakat memang tidak dapat dianggap sebagai gejala anutan umum. Masih banyak pula wilayah yang memiliki tata cara sendiri, berbeda dari lainnya. Hal ini perlu menjadi perhatian. Tidak perlu pula pengaturan yang memaksa tanpa melihat dampak yang dapat muncul di kemudian hari. Marilah menjunjung kebebasan dan menyadari bahwa yang terbaiklah yang perlu diutamakan.

2 responses to “Sistem Pewarisan

  1. Lah kalo pewarisan buat yang beda agama gimana? soalnya kalo menurut islam si yang beda agama itu nggak bisa dapet warisan, sebab klo di islam nggak ada hubungan lagi bagi yang beda agama. Jadi itu menghalangi ahli waris untuk menerima warisan..
    Tapi kalo ahli warisnya nggak setuju, dan tetep nuntut bagiannya, gimana????? apa tetap perlu dijunjung kebebasan dalam mewaris???
    euh……….. hukum waris di Indonesia belon ada yang berlaku secara nasional seh..jadi bingung pake hukum waris yang mana….
    #@$%#%

  2. terkait dengan pewarisan beda agama sepertinya bisa didasarkan atas kesepakatan antara pemberi waris dengan ahli waris. Masih ada mekanisme hibah. tapi kalaupun sampai ada saling tuntut menuntut paling parahnya sih masuk ke jalur pengadilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s