Otto Soemarwoto Telah Berpulang

BANDUNG, (PR).-
Tembakan salvo mengiringi pemakaman jenazah pemerhati lingkungan hidup dan pakar ekologi Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga Jln. Pajajaran Bandung, Selasa (1/4). Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu meninggal dalam usia 82 tahun karena mengalami komplikasi gangguan lever.

Otto mengembuskan napas terakhir di ruang Intensive Care Unit (ICU) Santosa Bandung International Hospital (SBIH) Jln. Kebonjati Bandung pukul 00.05 WIB Selasa (1/4). Jenazah disemayamkan di kediamannya di Jln. Cimandiri No. 16 Bandung.

Almarhum yang lahir di Purwokerto, 19 Februari 1926 itu meninggalkan istri, Ny. Idjah Soemarwoto, tiga anak yaitu Gatot P. Soemarwoto, Rini S. Soemarwoto, dan Bambang I. Soemarwoto, serta tiga cucu.

Anak tertuanya, Gatot P. Soemarwoto tak kuasa menahan tangis ketika jenazah Otto dimasukkan ke peti jenazah untuk dibawa ke tempat pemakaman. Sementara Ny. Idjah tampak lebih tegar.

Otto merupakan sosok yang bersahaja. Prosesi pemakaman militer dilakukan di tengah-tengah TPU Sirnaraga karena dalam pesan terakhirnya kepada keluarga, almarhum ingin agar keluarga memakamkan dirinya di tempat tersebut. Dia pun meminta, tidak perlu dilakukan upacara pelepasan di kampus Unpad sebagaimana tata cara pelepasan jenazah untuk guru besar.

Menurut Ny. Idjah Soemarwoto, penyakit lever yang diderita suaminya itu menyebabkan kadar kolesterol darah naik. “Terus dikasih obat untuk menurunkan kolesterol, malah kaki Bapak bengkak-bengkak,” ujarnya.

Setelah itu, dokter memberikan obat untuk mengeluarkan cairan berlebih dalam tubuh Otto. “Tapi, setelah itu Bapak jadi lemas dan mungkin tidak kuat lagi menahan sakit dan akhirnya meninggal,” katanya.

Namun, Ny. Idjah yang juga seorang pakar biologi menyatakan bahagia karena dia dan ketiga anaknya diberi kesempatan merawat Otto sampai akhir hayat. “Dua anak saya bermukim di luar negeri. Saat ayahnya sakit, semua pulang dan bergantian merawat di rumah sakit,” ungkapnya.

Ny. Idjah dan keluarga tetap memegang teguh ajaran yang sering dilontarkan Otto lewat ungkapan percakapan sehari-hari. “Dia senang sekali kalau banyak orang yang lebih memilih jalan kaki atau bersepeda. Itu juga kami anut. Kalau jarak tempuh tidak terlalu jauh, lebih baik jalan kaki saja supaya sehat,” ujarnya.

Sosok sederhana
Ucapan belasungkawa disampaikan Rektor Unpad Ganjar Kurnia. Menurut Ganjar, Otto Soemarwoto adalah pejuang lingkungan dan pendidik yang sederhana. Kesederhanaannya terlihat dari sikap ataupun tindakannya.

Salah satu langkah besar Otto terkait pembangunan Unpad, ucap Ganjar, yakni dibentuknya Lembaga Ekologi atau yang kini dikenal dengan nama Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL). Otto juga tercatat sebagai penggagas Bina Mulya Hukum yang menjadi pola ilmiah pokok Unpad pada tahun 1972.

Wali Kota Bandung Dada Rosada juga mengaku kehilangan atas wafatnya Otto. Dada memuji tindakan Otto yang tak hanya mengkritik jika ditemukan sesuatu yang tak sesuai dengan dirinya, tetapi juga memuji kebijakan jika dirasakan sudah baik.

Tokoh Jawa Barat Solihin G.P. menilai, Otto Soemarwoto sebagai seorang pejuang lingkungan dan cendekiawan yang sangat hebat.

Sementara Kepala PPSDAL Erry N. Megantara mengatakan, almarhum Otto memiliki prinsip hidup yang kuat terutama dalam hal lingkungan. “Beliau mendidik semua kader di PPSDAL untuk tidak menjadikan uang sebagai tujuan. Beliau sangat peduli terhadap lingkungan dan tidak berdiri di satu pihak,” katanya.

Sementara itu, sebelum melakukan kampanye Pilgub, Danny Setiawan bersama Ny. Rinania Danny Setiawan, Ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan, dan cawagub Iwan Ridwan Sulandjana, menyempatkan diri melayat jenazah Otto Soemarwoto di rumah duka, Jln. Cimandiri, Bandung.

“Sejak awal hingga akhir hayatnya, beliau telah mengabdikan diri sepenuhnya, untuk mengapresiasi lingkungan yang begitu hebat. Kami juga selalu mengikuti nasihat-nasihat beliau, dalam mengapresiasi lingkungan di Jabar,” ujar Danny.

Bahkan, katanya, terakhir ia bersama Otto mendeklarasikan Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Bandung Utara (KBU), guna ikut mengendalikan kawasan KBU bersama bupati/wali kota di wilayah tersebut. Banyak tokoh yang melayat ke rumah duka, termasuk Dirut “PR” H. Syafik Umar.

Penghargaan

Pada usia 34 tahun, Otto sudah diangkat sebagai guru besar Universitas Gadjah Mada. Dia pernah menjabat sebagai Direktur Lembaga Biologi Nasional dan merangkap Director Regional Center for Tropical Biology (Biotrop). Selain itu, Otto juga diangkat sebagai Guru Besar Tata Guna Biologi dan Direktur Lembaga Ekologi Unpad sebelum pensiun 1991, dan sampai sekarang menyandang gelar Guru Besar Emeritus Unpad.

Otto pernah menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari Pemerintah RI (1981), Satyalancana Karyasatya (1981), dan Anugerah Sultan Hamengku Buwono IX UGM (1994). Pada taraf internasional, nama Otto tak kalah berkibar. Terbukti, pernah mendapat penghargaan Doctor Honoris Causa in Agricultural and Environmental Sciences Wageningen Agricultural University Wageningen Belanda. (A-124/A-136/A-157/A-158)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s