Selamat Jalan Begawan Lingkungan…

to afflict the powerful, to comfort the afflicted.

TAK dinyana. Wawancara mendalam dengan Prof. Dr. Otto Soemarwoto, M.Sc. di kediamannya, beberapa hari menjelang HUT-nya yang ke-82, 19 Februari 2008, adalah pertemuan terakhir saya dengan sosok yang tak pernah bosan dimintai pendapat soal lingkungan hidup.

Ketika itu, saya diminta Pemimpin Redaksi II Pikiran Rakyat H. Widodo Asmowiyoto untuk kembali mewawancarai beliau, dikaitkan dengan momen hari kelahirannya tersebut. Hasil wawancara di kediamannya di Jln. Cimandiri 16 Bandung itu dimuat pada rubrik Berakhir Pekan harian ini, Minggu (17/2) atau dua hari menjelang peringatan HUT-nya yang ke-82, dengan judul “Jangan Pernah Mau Didikte!”.

Dalam setiap kesempatan bersua dengan Prof. Otto, selalu mengendap kesan santun, sederhana, serta menghargai siapa pun yang menjadi lawan bicara. Selain itu, penuturan yang detail, empirik, dan eksplanatif juga menjadi bagian dari gaya bicaranya. Sungguh, berbincang dengan Pak Otto ibarat menimba ilmu dari “oasis” pengetahuan yang tak pernah kering.

Akan tetapi, sesungguhnya, di balik tutur santun dan pembawaan bersahaja itu, tersimpan sikap konsisten dan peduli pada pelestarian ekologi. Sejak wawancara pertama saya dengan beliau pada masa awal profesi saya sebagai wartawan (1999), sampai wawancara terakhir itu (hampir satu dekade), konsistensi itu tetap melekat. Tak lekang.

Sebagai ilmuwan dan akademisi, sepak terjang beliau paralel dengan jargon yang kerap dikutip filsuf dan sastrawan dunia (Honoré de Balzac, F.A. Kemble, atau William Faulkner), noblesse oblige. Dalam kehormatan atau kemuliaan, maka sekaligus juga terletak kewajiban. Status sebagai intelektual, identik dengan kehormatan. Dalam teori kelas dan perubahan sosial, intelektual menjadi bagian dari kelas menengah (middle class) yang menarik gerbong masyarakat menuju perubahan lebih baik. Oleh karena itu, dalam kehormatan dan kemuliaannya, sekaligus melekat tanggung jawab sosial.

Pak Otto terbukti senantiasa menjalankan kewajiban sosialnya. Ia bukan sosok akademisi yang hanya berdiri kukuh bak menara gading namun tercerabut dari lingkungan sosial di sekitarnya. Ia jelas bukan kategori intelektual yang disindir esais Prancis, Julien Benda kerap melakukan “pengkhianatan” (la trahison des clercs).

Meskipun seringkali dianggap menentang arus bahkan di hadapan para pengambil kebijakan dan pemegang otoritas, sikap kritisnya tak pernah berhenti. Bahkan, sampai saat-saat terakhir menjelang akhir hayatnya. “Dalam setiap kesempatan saya diminta melakukan penelitian, sebelumnya saya selalu menegaskan dan menjadi syarat; apa pun hasilnya akan kami tulis. Kalau memang feasible, saya katakan ya. Kalau tidak, akan kami katakan tidak, tetapi juga dengan solusi,” demikian dituturkan Pak Otto pada wawancara terakhir dengan saya.

Pak Otto juga selalu berpesan kepada murid-murid dan staf beliau, “Kalau Anda bekerja sebaik-baiknya, orang akan melihat dan mencari Anda. Kalau orang mau didikte, bekerja hanya untuk projek itu saja, maka ketika projek itu habis, selesai sudah.”

Dulu, pada awal Orde Baru ia telah mewanti-wanti terjadinya pembalakan hutan besar-besaran. Apa yang disebutnya sebagai green gold rush. Sejak 1960-an, tatkala menjabat Direktur Lembaga Biologi Nasional sekaligus Direktur Kebun Raya Bogor, Pak Otto juga sudah lantang berteriak tentang kawasan Puncak, antara Bogor dan Cianjur, yang kritis akibat pembangunan vila-vila mewah. Buktinya, kini banjir dan longsor atau kekeringan, menjadi fenomena nyata.

Di Cekungan Bandung, kontroversi kebijakan menyangkut pembangunan fisik di kawasan Bandung utara (KBU) atau yang paling akhir pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), juga tak luput dari kritik tajamnya. Meski kritiknya kerap berujung pada kiasan “ibarat anjing menggonggong, kafilah berlalu”, toh tak membuatnya patah arang. “Banyak orang jengkel pada saya. Katanya, saya ini ngotot. Tidak, saya tidak ngotot, saya hanya ingin mengatakan sebagai peneliti, kita jangan pernah mau didikte oleh pemilik projek,” ujar Prof. Otto.

To afflict the powerful and comfort the afflicted, demikian bunyi kalimat bersayap. Jejak langkah almarhum Otto Soemarwoto teramat sesuai dengan makna kalimat itu. Beliau adalah intelektual yang senantiasa “mengingatkan mereka yang mapan dan menghibur mereka yang papa”. Selamat jalan, sang begawan lingkungan. (Erwin Kustiman/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s