Obsesi Otto Budayakan Jalan Kaki

Profil
Rabu, 02 April 2008 , 00:27:40 wib

PEJUANG LINGKUNGAN
Obsesi Otto Budayakan Jalan Kaki
Kisdiantoro, Tiah SM

Pejuang lingkungan yang berdiri di atas kakinya sendiri itu tak pernah berpihak kepada kelompok mana pun. Dan ia akan mengatakan dengan jujur, baik atau buruk terhadap apa yang ia perhatikan. Komentarnya sering kontroversial. Ia banyak menebar pelajaran hidup penuh makna.

BERPULANGNYA Prof Dr Ir Otto Soemarwoto di usia ke 82 tahun mewariskan banyak pelajaran hidup bagi masyarakat luas, terutama mereka yang tinggal di Kota Bandung. Bukan saja masa hidupnya yang penuh perhatian terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di Jawa Barat, tapi juga pelajaran hidup yang bersahaja dan penuh kesederhanaan.

“Orang yang kritis mengenai lingkungan mungkin banyak, tapi yang santun dan sesederhana dia tak banyak,” tutur Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Unpad, Erri Megantara, saat melayat ke rumah duka almarhum Otto Soemarwoto, Jalan Cimandiri 16 Bandung, Selasa (1/4).

Bukti kebersahajaannya ia tunjukan selama menjabat lebih dari 20 tahun sebagai kepala Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL). Lembaga ini dulu bernama Lembaga Ekologi Unpad. Lembaga ini didirikannya sejak 23 September 1972 dengan berbagai keterbatasannya, baik anggaran maupun tenaga. Semula, lembaga ini hanya dikelola tiga orang, termasuk Idjah Natadipradja, isteri Otto. Peralatan pun hanya pensil, kertas, dan mistar. Sampai akhirnya menjadi Lembaga Ekologi yang patut dibanggakan oleh Unpad.

Lembaga ini begitu populer dengan banyaknya masalah yang diolah, serta banyak cerita yang dipublikasikan. Lembaga Ekologi Unpad ini kemudian berubah nama menjadi Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL). Otto juga menjabat sebagai kepala. Dia mengabdi di lembaga penelitian itu lebih dari 20 tahun. Lembaga ini bahkan sempat sebagai salah satu pelaksanaan resolusi konferensi Stockholm.

“Dia adalah orangtua yang banyak membuat kader pejuang lingkungan. Dia selalu mengatakan, kalau hendak bergabung di lembaga Ekologi bukanlah tempat untuk mencari duit, tapi berjuang untuk perbaikan lingkungan,” lanjut Erri.

Sejak memimpin lembaga itu, Otto dikenal sebagai seorang ahli yang sering melontarkan pernyataan kontroversial. Sampai-sampai dia diumpamakan sebagai tokoh wayang, Bratasena. Salah satu contoh, ketika kemacetan di kawasan Puncak, Bogor diributkan, dengan santainya Otto mengatakan,”Biar saja Puncak macet, tidak usah dibenahi. Lama-lama orang kan bosan ke sana.”

Otto adalah ahli lingkungan yang berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tak pernah berpihak kepada kelompok manapun. Dan ia akan mengatakan dengan jujur, baik atau buruk terhadap apa yang ia perhatikan. Sama seperti ketika pemerintah Kota Bandung hendak membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai solusi terhadap pemasalahan sampah di Bandung. Dengan jujur ia meminta pemerintah untuk meninjau ulang rencana tersebut karena tidak ramah lingkungan. Namun, hingga akhir hayatnya pemikirannya diabaikan. Pada suatu kesempatan, doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926 ini, mengatakan setiap proyek harus pro lingkungan.

“Dia pernah menyampaikan ke pemerintah untuk mempertimbangkan lagi rencana PLTSa. Ini adalah kewajiban kita untuk mengupayakan pengeolahan sampah yang ramah lingkungan. Kita belum menemukan orang sehebat dia,” komentar Ketua Wanaha Lingkungan Hidup (WALHI) Jabar Deni Jasmara saat melayat.

Saat diminta pendapatnya soal PLTSa, Otto tidak tuntas memaparkan pendapatnya karena pendapatnya diintrupsi Ketua Komisi C Yod Mintaraga yang merasa diceramahin. Saat itu Otto secara tegas menyatakan belum memiliki pendirian terhadap pembangunan PLTSa karena tidak memiliki detail tentang PLTSa yang akan dibangun di Kota Bandung. Otto mempertanyakan MOu antara PD Kebersihan dan PT BRIL yang terkesan menguntungkan pihak pengusaha.

Pendapat Otto itu kemudian harusnya disampaikan dalam sidang Amdal PLTSa yang digelar Selasa (1/4) di Gedung Pos Giro Jalan Banda. Nama Otto Sumarwoto tertulis no 33 dari undangan 112 orang diundang sebagai pakar lingkungan. Namun Tuhan memanggil Otto.

Sejak usianya masih muda, Otto sudah punya komitmen tentang pelestarian lingkungan hidup. Ia menjalani hidup apa adanya bagaikan air mengalir. Dia hidup bersahaja.

Kebersahajaan lain, terlihat dari kegemarannya mengendarai sepeda ontel pada masa dia mengajar di Unpad dulu. Dia mengayuh sepeda dari Jalan Cimandiri menuju Kampus Unpad di Jalan Dipati Ukur, Bandung, dan begitu sebaliknya.

Kebiasaan naik sepeda itu sudah dilakoninya sejak kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Saat itu, ia mampu bersepeda dari Blunyah hingga Mangkubumen. Kira-kira jaraknya mencapai lima kilometer.

Sekarang, ia tidak berani lagi menyusuri jalanan Kota Bandung dengan sepedanya. Selain karena sudah tua, jalanan di Kota Bandung sangat tidak aman bagi pengguna sepeda ontel. Tapi, ia masih suka berjalan kaki untuk jarak yang tidak jauh. Ia melakukan itu sebagai satu upaya untuk mengurangi polusi udara.

“Gagasan dia yang belum terwujud adalah ingin membudayakan jalan kaki atau bersepeda untuk mengurangi polusi,” lanjut Erri.

Otto Soemarwoto menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar) di Temanggung (1941) dan MULO di Yogyakarta (1944). Anak keenam dari 13 bersaudara pegawai DPU zaman Belanda, yang bercita-cita jadi ahli pertanian ini, sempat nyasar menjadi pelaut, hanya karena senang melihat kapal. Dia memasuki Sekolah Tinggi Pelayaran di Cilacap (1944). Lalu dia sempat menjadi Mualim Kapal Kayu (1944-1945).

Namun cita-citanya menjadi ahli pertanian tak pernah padam. Maka selepas menamatkan SMA di Yogyakarta (1947), dia mendaftar di Fakultas Pertanian Klaten. Setelah lulus sebagai insinyur pertanian dari UGM, dia menjabat Asisten Ahli FP UGM (1955). Kemudian setelah meraih gelar Doktor filosofi tanaman (Plant Physiology) dari Universitas California, Berkeley, AS dengan disertasi: “The Relation of High Energy Phospate to Ion Absorption by Excised Barley Roots” (1960), dia pulang ke tanah air, kembali ke UGM.

Setelah beberapa tahun mengajar di UGM, kemudian, Otto dipercaya menjadi Direktur Lembaga Biologi Nasional (LBN) di Bogor (1964-1972). Di sini dia mendalami biologi, terutama biologi molekuler, bidang yang memerlukan peralatan rumit dan mahal. Saat mendalami biologi ini, dia makin tertarik pada ekologi lingkungan, kendati masih terbatas pada ekologi tumbuh-tumbuhan.

Lalu, sejak 1972, dia aktif sebagai Guru Besar Tata Guna Biologi Unpad.
Ketika pensiun 1 Maret 1999, dengan jabatan terakhir Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Unpad, Otto mewariskan delapan doktor dan sejumlah master. *

Sumber; Tribunjabar

2 responses to “Obsesi Otto Budayakan Jalan Kaki

  1. pantarhei1filsafat1ugm

    sayang otto suemarwoto meninggal sebelum saya interogasi tentang pemikirannya tentang hubungan antara manusia sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya. barangkali anda tahu? bisa berbagi informasi?

  2. Saya kira, persoalan yang anda rencanakan itu bisa digali info-nya dari pada ahli yang menguasai antara dua variabel, yaitu ‘manusia ‘dan ‘lingkungan’.
    Diskusi mengenai dua hal itu bisa saja dicapai bersama para ekolog-ekolog lain, atau juga bisa menghubungi para antropolog.
    COba saja anda hubungi lembaga penelitian di UNPAD (PPSDAL). Kalo tidak salah disana ada ahlinya yg paham ttg dua hal tersebut.

    tabik,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s