“Jadikan Birokrasi Jujur, Transparan, Murah, dan Cepat”

Selasa , 15 April 2008 , 01:12:48 wib
Wawancara Khusus

Calon gubernur Ahmad Heryawan (PKS-PAN) langsung menggelar tur media di Bandung, sehari setelah pencoblosan dan penghitungan cepat sejumlah lembaga survei membukukan kemenangan untuk pasangan Hade. Di depan awak redaksi Tribun, Ahmad Heryawan membeber banyak hal. Dedi Herdiana merangkum jawaban-jawaban Heryawan atas sejumlah pertanyaan awak redaksi Tribun. Berikut petikannya:

Apa sih strategi Anda dan Dede Yusuf sehingga masyarakat banyak yang memilih pasangan Hade?
Kita kerja tanpa beban karena bukan orang terkenal. Kami juga tertolong Dede Yusuf yang artis dan disukai ibu-ibu. Lalu lembaga-lembaga survei tidak ada yang mengunggulkan kami. Hanya lembaga survei internal partai yang mengunggulkan Hade.

Jadi, kita juga sosialisasi dengan alakadarnya, kita hanya datang ke pasar-pasar setelah subuh sebelum kampanye. Lalu pasang iklan juga kecil, sederhana, murah meriah, tapi bisa terus-menerus. Jadi, asal orang tahu saja bahwa ada gambar kami.

Dari hasil turun ke masyarakat itu, kita menemukan sejumlah keinginan masyarakat di Jabar seperti yang diungkap lembaga survei, yakni sembako, pengangguran dan kemiskinan, pendidikan dan kesehatan, sarana prasarana jalan, dan layanan publik dari pemerintah.

Kemenangan Hade merupakan sinyal perubahan bagi Jabar. Apa program 100 hari Anda jika memimpin?
Saat di Jakarta, Rektor UI juga menanyakan itu. Tapi yang perlu diketahui ketika gubernur dan wakil dilantik pada Juni nanti, APBD 2008 sedang berjalan. Jadi, tidak mungkin ada kegiatan di luar APBD, apalagi yang menyangkut pembiayaan.

Karena untuk memindahkan alokasi dana dari gedung SD ke Puskesmas saja, harus dilakukan perubahan APBD di DPRD. Itu rumitnya, tapi sistemnya memang seperti itu. Jadi, program 100 hari yang benar-benar dari Hade, itu akan sulit.

Kemungkinannya program 100 hari itu akan dilakukan setelah perubahan APBD 2008 (APBDP) sekitar Agustus. Meski demikian, kita tetap akan segera melakukan konsolidasi, koordinasi yang melibatkan semua stake holder di Jabar, mulai LSM, pers, masyarakat umum, pengusaha, buruh, pakar, untuk merumuskan penanganan masalah di Jabar.

Melibatkan semua pihak itu juga pernah dilakukan Korea Selatan saat dililit krisis ekonomi berbarengan dengan kita, tapi mereka berhasil lebih dulu menanganinya. Kalau untuk jangka pendeknya, saya akan berupaya untuk menstabilkan harga sembako dengan cara bebas dari penimbunan.

Ke depannya kita juga akan berupaya untuk mendayagunakan sumber daya alam Jabar yang mendukung kestabilan sembako dan kemiskinan serta pengangguran, sehingga meningkatkan daya beli.
Selain itu kita akan berupaya untuk meningkatkan SDM dengan meningkatkan pendidikan dengan segera sehingga pada tahun keempat kita bisa merintis pendidikan dasar 12 tahun, agar tidak terus-menerus pendidikan dasar kita 9 tahun saja.

Kesehatan juga harus segera ditingkatkan. Dan tahun 2009, kita harus segera menyelesaikan soal infrastruktur. Karena di Jabar selatan, khususnya jalan provinsi Sukabumi selatan itu rusak parah.
Dalam jangka menengahnya kita akan upaya ke Departemen PU agar menjadikan sejumlah jalan di Jabar selatan menjadi jalan nasional. Sebab, di Jabar itu jalan nasional hanya ada di bagian utara dan tengah, tapi di Jawa Tengah dan Jawa Timur ada jalan nasional di utara, tengah, dan selatan.

Kemudian, yang berkaitan pelayanan publik, juga kita lakukan perubahan. Minimal kita bisa sumbangkan kerangka besar pembangunan Jabar. Tapi maaf, sekarang ini masih belum terperinci.
Karena pakar di ITB itu banyak. Tapi banyak pakar di ITB yang mengaku selama ini tidak pernah diajak bicara. Seperti yang saya tahu, di ITB ada Prof Harkunti, ahli teknik sipil yang mengaitkan dengan kawasan bahaya gempa. Ini kan harusnya diterapkan untuk membangun jalan di Jabar selatan.

Apa prioritas utama Anda mewujudkan harapan masyarakat?

Tentu semuanya harus kita lakukan, dengan cara sebagian-sebagian. Saya pikir untuk menstabilkan distribusi sembako, kita bisa. Kedua yang bisa segara dilakukan adalah pelayanan publik. Karena kita harus segera mengubah kultur birokrasi yang berbelit-belit, mahal, lambat.

Kita berusaha minimal izin usaha bisa selesai dalam 90 hari karena sekarang itu info dari Kadin masih memerlukan waktu sampai tiga empat bulan. Malah ada sampai setahun atau dua tahun. Ini bisa dilakukan dengan layanan satu atap atau penyederhanaan izin.
Kita akan berupaya jadikan birokrasi yang jujur, transparan, murah, dan cepat. Dan saya yakin itu bisa dilakukan karena di Sragen dan Jembrana juga bisa. Meski pasti ada resistensi, Insya Allah, kita bisa mengatasinya.

Pendidikan juga harus kita perhatikan karena di pinggiran Jabar yang drop out itu banyak. Saya merindukan seperti di Jerman atau Belanda, karena di sana itu ada mobil yang keliling kota mencari anak usia sekolah yang tidak sekolah. Kalau ada langsung dibawa ke orang tuanya dan ditangani kenapa tidak sekolah. Dan cara seperti itu dilakukan di Jembrana.

Untuk kesehatan, kita akui harga kesehatan itu sangat mahal, apalagi kalau masuk pada pelayanan kesehatan. Padahal dalam teori alokasi kesehatan, layanan kesehatan puskesmas dan lain-lain itu hanya 20 persen, sedangkan 80 persennya untuk membangun lingkungan dan gaya hidup sehat.

Agar penyakit-penyakit yang dikarenakan bakteri itu bisa segera selesai, kalau lingkungan dan gaya hidupnya sehat, karena penyakit seperti disentri, kolera, chikungunya, demam berdarah, itu penyakit khas negara berkembang.

Dan setelah saya cek ke rumah sakit bicara dengan pasien, tidak selamanya anak kurang gizi itu karena kekurangan pangan. Karena ternyata orang tua pasien itu punya kolam ikan dan ternak ayam, tapi sering makan mi instan dengan alasan masuknya lebih cepat.

Apakah Anda masih akan rutin turun seperti yang dilakukan pada masa kampanye jika nanti benar-benar jadi gubernur?
Saya berasal dari masyarakat bawah. Dan kalau saya turun ke bawah bukan rekayasa, tapi kejiwaan saya pribadi secara utuh. Saya salaman dengan petani atau tidur di atas tikar, itu sudah jadi kebiasaan saya, bukan tebar pesona. Jadi, untuk mendengarkan aspirasi dengan turun ke bawah, bagi saya tidak ada hambatan sama sekali.
Insya Allah, saya akan terus turun ke bawah. Kalau memang selama ini aspirasi banyak tidak terserap gara-gara pemimpin jarang turun ke bawah.

Apa langkah Anda mengamankan diri dari kepentingan orang dekat, partai, keluarga jika nanti memimpin?
Untuk pengamanan itu, saya pikir dengan transparansi dan menggunakan teknologi informasi (TI). Kita akan wujudkan Jabar sebagai cyber province. Supaya segalanya transparan, dan tidak ada yang main-main, sehingga akhirnya, masing-masing akan berkompetensi. Yang berkualitas paling tinggi akan menjadi pemenang.

Saya juga merasa tidak terhambat dalam melakukan itu, karena keluarga saya juga tidak menjadi masalah. Anak-anak saya masih kecil-kecil, jadi belum bisa main proyek. Yang pasti, kami yang berangkat dari idealisme akan selalu mengedepankan idealisme, yang mudah-mudahan bisa mencapai 100 persen. Minimal kita akan tetap menjadikan kebaikan yang mendominasi.

Apa rencana Anda mengatasi kebocoran dan inefisiensi anggaran? Contoh kasus, selama ini kita mendengar jika ada sekolah roboh, pemerintah selalu bilang anggaran terbatas?
Memang soal ini dikarenakan adanya kebocoran pendapatan dan inefisiensi anggaran. Ketika ada pendapatan dan pengeluaran, kerap terjadi kebocoran dan inefisiensi. Itu yang akan kita hilangkan. Karena bisa jadi ada permainan di antara kedua pihak terkait.

Jadi, kita akan hadirkan sebuah birokrasi yang meniadakan kebocoran pendapatan dan mengefisiensikan pengeluaran secara tepat sasaran. Termasuk pebaikan gedung SD, karena biasanya kerap terjadi perbaikan gedung SD pada bangunan yang masih baik.
Jadi, saya akan berupaya menggunakan dana yang terbatas itu dengan menghilangkan kebocoran pendapatan dan mengeluarkan dengan efisien.

Apa visi dan misi Anda di bidang olahraga, terutama Persib?
Persib, mangga, Insya Allah. Tapi begini, satu hal yang harus kita lakukan untuk memperbaiki moral generasi muda adalah, pertama, tentu melakukan perbaikan pada moralnya yang bersumber pada agama.
Kedua, menyiapkan infrastruktur olahraga untuk mengaktualisasikan diri dalam olahraga. Jadi, sangat penting untuk membangun infrastruktur di mana-mana. Begitu juga dalam menyediakan infrastruktur bagi anak muda dalam bidang seni budaya.

Karena sekarang di sini, kita masih sulit di mana bisa mencari tempat menonton ada pagelaran budaya Sunda. Karena saya pernah ditelepon teman saya, orang Jerman, menanyakan di mana bisa menonton seni Sunda, saya sulit mengatakannya karena di mana bisa menonton pentas seni Sunda. Padahal itu bisa menjadi industri seni budaya.(*)

Sumber: Tribun Jabar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s