“Kemenangan” yang Mengagetkan

Senin, 14 April 2008
Utama
Oleh ASEP WARLAN YUSUF

KEMENANGAN pasangan Ahmad Heryawan/Dede Yusuf (Hade) dalam kancah pertarungan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2008 memang mengagetkan semua pihak. Keunggulan pasangan muda ini benar-benar di luar prediksi banyak orang.

Bagaimana tidak, pasangan ini menghadapi dua pasangan sebagai lawan yang tangguh yakni Danny Setiawan/Iwan Sulandjana (Da’i) dan Agum Gumelar/Nu’man Abdul Hakim (Aman). Danny yang merupakan calon incumbent dan Agum yang seorang tokoh nasional merupakan lawan yang cukup berat bagi Hade.

Hal itu pun disadari oleh Hade ataupun dua partai pengusung mereka yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Oleh karena itu, kubu Hade yang dimotori dua partai reformis itu pun harus bekerja keras untuk bisa memenangkan jago mereka. Karena Heryawan (PKS) dan Dede (PAN) merupakan kader murni partai, maka sejak awal kubu ini memiliki militansi kerja partai yang sangat kuat.

Mesin politik, baik PKS maupun PAN, juga dikerahkan secara optimal. Oleh karena itu, Hade pada hari pertama pencoblosan Pilgub Jabar yakni Minggu, 13 April 2008 melalui beberapa quick count lembaga survei, mampu mengungguli Da’i ataupun Aman.

Namun, kerja mesin politik yang optimal bukanlah satu-satunya penentu unggulnya Hade dibandingkan dengan dua kandidat lain. Figur Dede Yusuf sebagai artis ibu kota juga memegang peranan penting. Ia dikenal secara luas oleh kaum muda dan perempuan, sebagai sosok yang bisa membawa pembaruan.

Kaum muda dan perempuan di Jabar merupakan kelompok pemilih yang tidak terlalu ekspresif tetapi menjadi kekuatan silent majority yang tak terungkap. Pihak Da’i dan Aman pun kurang bisa menangkap sinyal dari silent majority ini secara optimal.

Faktor lain yang mengunggulkan Hade dibandingkan dengan Aman dan Da’i yakni faktor keberuntungan. Sebab, seperti dikatakan tadi, Da’i dan Aman bukanlah lawan yang ringan, tetapi ternyata Hade mampu mengalahkan keduanya.

Pada awal pendaftaran kandidat ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat sampai dengan satu bulan yang lalu, banyak pihak yang underestimate terhadap pasangan Hade ini.

Bukan hanya lawan mereka, para akademisi pun banyak yang memandang sebelah mata kepada mereka. Namun, pada akhirnya, Hade mampu membuktikan bahwa mereka layak pilih dibandingkan dengan calon lain.

Kendati Danny Setiawan sangat mengandalkan mesin-mesin birokrasi, tetapi ternyata langkahnya tak begitu efektif. Sebab, pegawai negeri sipil (PNS) Jabar saat ini cukup disiplin dan netral.

Apalagi, pemilih di Jabar ini rupanya cukup dewasa dalam menentukan nasib mereka. Dengan unggulnya Hade, jelas bahwa warga Jabar benar-benar menginginkan perubahan yang lebih lugas dalam hidup mereka.

Lalu bagaimana dengan risiko kepemimpinan Hade di Gedung Sate?

Tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pasangan muda yang memiliki energi cukup besar ini. Apalagi, baik Heryawan maupun Dede bukanlah orang yang memiliki resistensi tinggi untuk belajar dan menerima masukan dari birokrat yang ada di Gedung Sate saat ini.

Seyogianya Hade juga jangan mabuk kemenangan di Pilgub Jabar. Karena masih ada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2009 yang harus dihadapi, khususnya oleh PKS dan PAN.

Untuk kesuksesan Hade di Gedung Sate, Hade harus berani menyiapkan staf ahli yang juga PNS untuk mendampingi mereka.

Harapan baru yang senantiasa menjadi jargon mereka, membuka peluang lebar-lebar bagi Jabar untuk meraih perubahan yang tentunya harus ke arah yang lebih baik lagi.***

Penulis, pengamat politik dan dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s