Partisipasi Warga Rendah

JPPR Perkirakan Angka Golput 35%
Senin, 14 April 2008

BANDUNG, (PR).-
Tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilgub Jabar sangat rendah. Masyarakat lebih banyak yang memilih untuk bekerja daripada memilih. Beberapa hasil survei juga menyebutkan angka “golongan putih” (golput) cukup tinggi.

Di Kab. Indramayu, gairah masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya mengendur. Hal itu terbukti dengan banyaknya petani dan nelayan yang lebih memilih pergi ke sawah dan melaut daripada datang ke TPS untuk mencoblos, Minggu (13/4). Seperti di perkampungan nelayan Desa Karangsong, Kec./Kab. Indramayu, ratusan nelayan sejak dini hari tetap berangkat melaut. Mereka enggan datang ke TPS untuk memberikan suara karena alasan ekonomi.

“Cari makan untuk keluarga lebih penting. Kalau ikut nyoblos apa yang didapat?” kata Rasika, nelayan di Kompleks Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong.

Dari Kota Cirebon, sebanyak 964 narapidana (napi) dan tahanan di LP Kesambi dan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Cirebon tidak dapat menggunakan hak pilihnya karena kartu pemilihnya tertahan di tempat tinggalnya masing-masing. Berdasarkan data, jumlah napi dan tahanan di Rutan Kelas I Cirebon, Jln. Benteng, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon adalah 590 orang. Dari jumlah itu, 95% adalah warga Jawa Barat, sedangkan sisanya warga Jawa Tengah dan Banten.

Di Kab. Bekasi, Ketua KPU Kab. Bekasi Adi Susila bahkan melihat tingkat partisipasi pilgub di Kab. Bekasi ini menurun dibandingkan dengan pemilihan Bupati Bekasi 2007.

Rendahnya tingkat partisipasi warga juga terlihat di Kab. Cirebon yang rata-rata berkisar antara 40-45%.

Suasana saat pemungutan suara berlangsung pun terlihat sepi. Bahkan, panita pemungutan suara di tiap TPS harus mengajak pemilih agar segera datang untuk mencoblos.

“Sampai pukul 13.00 saat pencoblosan ditutup, partisipasi rata-rata TPS maksimal 45%,” kata Humas KPU Samsu Rizal.

Rendahnya partisipasi bisa dilihat dari jumlah suara masuk. Meski baru di 37 kecamatan, jumlah yang masuk secara keseluruhan sekitar 750.000 suara. Padahal, jumlah total hak pilih yang tercatat mencapai 1.507.880 pemilih.

Di Desa/Kec. Suranenggala, misalnya di TPS 3, banyak warga yang hadir tak bisa mencoblos karena tidak terdaftar di daftar pemilih tetap (DPT), mereka akhirnya hanya menonton di luar arena TPS, sementara warga yang mencoblos sangat jarang.

Kuwu Suranenggala Rakiya mengatakan, sekitar 150 warga tidak terdaftar, khususnya di RT 1/2. Hanya seorang warga yang terdaftar dari sekitar 100 warga yang mempunyai hak pilih.

Hasil survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan, tingkat partisipasi masyarakat untuk memilih pada Pilgub Jabar hanya 64,92%. Dengan kata lain, sebanyak 35,08% pemilih tidak menentukan pilihannya alias golput. Akan tetapi, Puskaptis justru mencatat tingkat partisipasi masyarakat yang cukup tinggi dalam pilgub, yakni mencapai 83%-85%.

Banyak faktor

Sorotan tentang minimnya angka partisipasi masyarakat juga disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Jeirry Sumampow di Bandung, Minggu (13/4). JPPR melihat minimnya pengetahuan pemilih tentang para kandidat gubernur dan wakil gubernur yang bisa dipilih dalam Pilgub Jabar. Dalam catatan JPPR, dari 26 kab./kota, hanya 27% yang masyarakat pemilihnya dianggap mengenal kandidat dengan baik. JPPR menurunkan sebanyak 2.383 relawan di TPS untuk memantau 629 desa, 77 kecamatan, di 26 kab./kota di Jabar.

“Kami memperkirakan angka masyarakat yang tak berpartisipasi dalam pilgub cukup tinggi. Berdasarkan hasil pemantauan kualitatif JPPR, umumnya di TPS yang terpantau pemilihnya berkisar 70%. Bahkan, ada yang 50%-60%. JPPR memperkirakan tingkat golput mencapai 35%,” kata Jeirry.

Menurut dia, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan angka partisipasi rendah. Salah satunya banyak masyarakat yang tak terdaftar ataupun terdaftar, namun tak memiliki kartu pemilih, serta sosialisasi KPU yang kurang. Selain itu, banyak masyarakat yang lebih memilih untuk berlibur dan pemilih kurang mengenal kandidat.

JPPR memprediksi bahwa persoalan banyaknya masyarakat yang tak terdaftar dan tak dapat memilih ini berpotensi menjadi masalah setelah pencoblosan dan akan dipersoalkan pasangan calon yang kalah.

Realitas
Anggota KPU Jabar Ferry Kurnia Rizkiyansyah mengatakan, KPU Jabar sebelumnya telah memperkirakan angka partisipasi masyarakat dalam pilgub mencapai 70%. Saat menanggapi hasil penghitungan cepat yang menunjukkan tingginya angka golput ini, Ferry hanya mengatakan,” Itulah realitas yang terjadi di masyarakat.”

“Menurunnya angka partisipasi masyarakat ini harus dikaji lagi. Terlepas apakah itu karena faktor sosial, ekonomi, sosial budaya, serta pragmatis, namun kenyataannya memang seperti itu,” kata Ferry.

Namun demikian, ia tetap meminta untuk menunggu hasil penghitungan manual dari KPU hingga hasil lebih akurat tentang angka partisipasi ini hingga dapat tergambar dengan jelas. (A-92/A-96/A-124/A-153/A-93/CA-179)***

sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s