Peci pun Jadi Bagian dari Strategi Kampanye

Selasa, 15 April 2008
Utama

DALAM pandangan Islam formal di Indonesia, pemakaian peci diartikan sebagai simbol kesalehan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Tak selamanya simbol itu diadopsi oleh masyarakat, terutama karena ukuran ketakwaan seseorang tidak dapat dihitung oleh manusia.

Mengenakan peci atau tidak, juga turut menjadi perdebatan panjang ketika calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) melakukan sesi pemotretan untuk keperluan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat. Setelah dihitung-hitung, pasangan nomor urut tiga ini memutuskan tak mengenakan peci yang juga banyak dipakai oleh kalangan pejabat nasional ataupun daerah.

“Kalau saya pakai peci, jadi kelihatan lebih tua. Padahal, kami mengikrarkan diri sebagai pasangan termuda. Makanya, peci kami tanggalkan, biar usia mudanya lebih kentara,” ujar Heryawan di sela-sela kunjungan ke kantor Redaksi Pikiran Rakyat Jln. Soekarno-Hatta 147 Bandung, Senin (14/4).

Dua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar yakni pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulandjana (Da’i) dan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim (Aman) memasang foto menggunakan peci hitam dari bahan beludru di surat suara, sementara Hade tidak.

Heryawan mengaku, pemilihan tampilan foto menjadi salah satu faktor pendongkrak perolehan suara. “Dengan usia 40 tahunan, dari aspek visual kami terlihat lebih ganteng,” ucapnya berseloroh.

Tim sukses Hade sempat membuat penelitian kecil soal kemudahan orang mengingat figur lewat penampilan. Hasil penelitian menunjukkan, hanya 10% anggota masyarakat yang menyukai penggunaan peci. Itu pun dipakai saat mau salat Jumat saja. “Jadi, potensi di luar itu jauh lebih besar, makanya kita pilih penampilan yang bisa diterima semua pihak,” katanya.

Akhirnya, foto yang digunakan untuk surat suara, baliho, pamflet, spanduk, dan selebaran, menggunakan foto yang seragam. Posisi tubuh keduanya sedikit miring dan saling berhadapan, menggunakan jas hitam, kemeja putih, dasi warna merah, dan tentunya tanpa peci.

Keputusan tidak menggunakan peci menjadi bahan pembicaraan dan banyak ditentang karena dianggap tidak mencerminkan orang saleh. Protes dari kalangan ulama pun bermunculan, bahkan ada sindiran, masa calon gubernur tidak bisa beli peci.

Heryawan mengemukakan, sedikitnya 15 persen pemilih mengubah pilihannya pada menit-menit terakhir sebelum pencoblosan. “Dalam waktu yang sempit, masyarakat diburu untuk menentukan pilihan. Foto yang kami pasang cukup membawa andil untuk mudah diingat, jadi pengaruhnya cukup besar,” ungkap Heryawan.

Urusan penggunaan pakaian khas Indonesia, batik pun menjadi hal kecil yang diperhatikan tim sukses. “Tidak dimungkiri, masyarakat mudah jatuh hati pada pandangan pertama. Nah, supaya mudah diingat, buat penampilan yang sedikit berbeda dengan yang lainnya,” ujar Heryawan menambahkan.

Namun, penampilan bukan segalanya. Dengan visi dan misi yang jelas dan terukur, hasil penghitungan sementara KPUD hingga Senin (14/4) pukul 18.00 WIB, menempatkan pasangan Hade sebagai pengumpul suara terbanyak. Mereka meraih 39% suara, diikuti pasangan Aman 34%, dan Da’i 26%.

Apakah Hade tetap unggul pada penghitungan suara hasil Pilgub Jabar? Kini pemakaian peci tidak lagi membawa perubahan berarti. Kepastian menduduki jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013 akan diperoleh tanggal 22 atau 23 April 2008 mendatang. (Ririn N.F./”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s