Pesan untuk Jakarta

Selasa, 15 April 2008
Opini
Oleh KARIM SURYADI

“kemenangan” pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (Hade) menarik untuk dikaji. Hal yang menarik dicermati, pertama, tawaran pesan kampanye. Kesediaan Hade menandatangani kontrak politik untuk menyediakan lapangan kerja dan membebaskan sumbangan pembiayaan pendidikan (SPP) terasa lebih konkret bagi calon pemilih, dibanding dengan janji peningkatan kesejahteraan, perbaikan di berbagai bidang, hingga jargon perubahan dalam banyak aspek.

Janji ini terasa lebih kontras mengingat kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Banyak pemilih menilai kinerja pemerintahan dari realitas politik yang mereka rasakan sehari-hari. Oleh karena itu, janji memperbaiki jalan yang rusak, membebaskan SPP, hingga penyediaan lapangan kerja, akan lebih nyaring ketimbang janji apa pun.

Kedua, pasangan the young guns pun mendapatkan berkah dari usianya yang lebih muda dibandingkan dengan pasangan mana pun. Berkah ini kian berlipat karena kedua pasangan lainnya pun –dalam batas-batas tertentu– mengidentifikasi sebagai pilihan anak muda. Lebih dari itu, penampilan kandidat yang mencitrakan sebagai muda, dinamis, dan gaul secara tidak langsung menegaskan pentingnya faktor kemudaan yang memang melekat pada pasangan Hade.

Di atas semuanya, kebingungan sebagian calon pemilih yang belum memutuskan pilihannya hingga detik-detik terakhir menjelang pencoblosan, menguntungkan pasangan Hade. Kehadiran Dede Yusuf sebagai aktor dan bintang iklan, telah memberi andil bagi raihan suara pasangan ini. Klaim “muda dan kasép” menjadi pemandu bagi pemilih yang masih bingung.

Namun, di balik semua faktor yang menguntungkan tadi, janji untuk membebaskan SPP, menyediakan lapangan kerja, dan perbaikan infrastruktur jalan, akan menjadi tantangan pasangan Hade ke depan. Dalam pendulum desentralisasi yang memberi keleluasaan lebih besar kepada kabupaten/kota, pasangan ini akan dihadang kebutuhan pembiayaan yang besar. Kecukupan anggaran dan rentang kewenangan akan menjadi ujian bagi realisasi janji.

Dalam situasi ekonomi yang sulit, rakyat sulit diajak bersabar. Lebih-lebih bila harapan dilambungkan, maka ketidaksabaran masyarakat akan berlomba dengan waktu.

Mereka pun akan sama tidak pedulinya, apakah jalan yang rusak adalah jalan nasional, provinsi, atau jalan kabupaten. Di sisi lain, mewujudkan janji menyediakan jutaan lapangan kerja di tengah kondisi banyak perusahaan yang berguguran, akan menjadi tantangan tersendiri.

Kedua, klaim pasangan Hade sebagai “terbebas dari beban masa lalu” menyiratkan minimnya pengenalan terhadap kultur dan kinerja birokrasi di Jabar. Kultur birokrasi yang sudah terbangun sejak lama dan berjalin berkelindan dengan berbagai jaringan masyarakat akan menjadi batu sandungan pasangan ini dalam merealisasikan janjinya.

Perubahan konfigurasi

Pasangan Hade bukan saja minim dari sisi biaya, tetapi juga paling sedikit menampilkan tokoh yang selama ini dinisbatkan sebagai ikon politik nasional.

Tudingan Hade sebagai pasangan yang lama di Jakarta, menyadarkannya untuk merapat ke dalam kultur Sunda. Kesadaran ini bukan saja membuat keduanya tidak banyak menghadirkan otoritas Jakarta, tetapi lebih memilih bunyi suling sebagai backsound iklan politik pasangan ini.

Kehadiran beberapa tokoh nasional yang selama ini dinisbatkan sebagai ikon partai ternyata tidak mampu merebut simpati pemilih. Pasangan ini mampu mencuri suara dari tempat-tempat di mana tokoh nasional tadi berkampanye untuk pasangan lain. Hal ini paling tidak mengandung dua pesan berikut. Kesatu, perilaku pemilih yang “tidak menempatkan telur dalam satu keranjang” tervalidasi dalam Pilgub Jabar.

Dukungan terhadap partai politik tidak identik dengan pilihan terhadap kandidat yang dimajukan partai politik. Implikasinya, seruan tokoh yang dikesankan sebagai ikon partai untuk memilih kandidat boleh jadi tidak semanjur titah mereka kepada kader partai.

Bagi sebagian pemilih, pertimbangan menyangkut kandidat gubernur atau presiden, lebih independen dibandingkan dengan memutuskan pilihan untuk parpol atau kandidat legislatif. Kampanye pilgub yang tertuju pada enam orang figur akan mempermudah pengenalan kandidat ketimbang ketika mereka harus meraba platform partai atau menebak sosok calon legislatif yang jumlahnya puluhan.

Identifikasi kepartaian yang belum terbangun menyebabkan plasenta yang menghubungkan calon pemilih dengan kebijakan partai menjadi lemah. Selain munculnya kebijakan partai yang kerap mengusung kandidat dari luar kadernya, posisi partai terhadap isu yang bersifat gradual, mengaburkan positioning partai di dalam pasar politik.

Sikap partai terhadap sebuah rancangan undang-undang, jarak yang diambil partai terhadap sebuah isu, dan kandidat yang diusung partai, sejatinya mencerminkan nilai dasar yang melandasi partai. Bila suara partai terhadap isu dan rancangan undang-undang yang menyangkut kepentingan orang banyak seragam, atau kandidat dicomot dari luar partai, maka preferensi terhadap partai politik sulit terbangun. Bila pilihan belum didasarkan atas preferensi dan identifikasi kepartaian, tidak ada alasan untuk mengonversi raihan suara dalam pemilu legislatif terhadap dukungan pada kandidat dalam pilgub atau Pilpres.

Kedua, kemunculan Hade pun mengoreksi nama-nama yang selama ini beredar dan dinominasikan sebagai presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2009. Kemunculan pasangan Hade menegaskan bahwa ketokohan bukan segalanya.

Kemunculan Hade mengoreksi bursa calon presiden yang masih diramaikan nama-nama lama. Figur yang selama ini merasa mapan dengan jaringan yang kuat, harus waspada. Perilaku pemilih lebih cair. Pasar politik sulit diterka.

Kesulitan ekonomi yang melilit sebagian pemilih akan menjauhkan mereka dari birokrasi dan orang-orang yang dekat dengan birokrasi. Asumsi Jabar sebagai representasi peta politik nasional menegaskan, kuatnya isyarat perubahan konfigurasi politik nasional yang kerap melupakan pentingnya mempertimbangkan kekuatan baru. Pasar politik memiliki logikanya sendiri, yang bisa berbeda dengan kalkulasi sebelumnya. ***

Penulis, dosen Jurusan PKn dan Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s