Hidayat Kecam Bom Molotov di Bandung

/Home/Pilkada/Jawa Barat/News
Selasa, 15 April 2008 | 20:40 WIB

JAKARTA, SELASA – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang tak lain mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid, mengecam aksi pelemparan bom molotov terhadap kantor PKS di Bandung Jawa Barat.

Politisi yang akan menikah pada 10 Mei mendatang ini juga mengecam penyebaran fitnah dan beredarnya selebaran gelap paska pelaksanaan Pilgub Jabar yang sementara ini dimenangkan oleh pasangan Ahmad Heryawan (PKS) dan Dede Yusuf (PAN).

“Saya mengimbau kepada semuanya untuk jangan ada yang menyabotase suara rakyat dengan berbagai cara. Seperti yang terjadi kemarin, dengan menggunakan bom molotov, menyebar fitnah dan selebaran gelap,” cetus Hidayat Nurwahid kepada para wartawan di DPR, Selasa (15/4).

Hidayat Nurwahid menilai, berbagai upaya yang dilakukan dengan maksud mengganggu jalannya Pilgub Jabar, jelas tidak menghormati rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Intimidasi ini, diakuinya juga akan memperkeruh suasana politik menjelang 2009.

“Apa yang terjadi di Jawa Barat sekarang ini, menurut saya merupakan salah satu bagian dari peningkatan kehidupan demokrasi di Indonesia. Rakyat bisa menghadirkan pilihannya secara relatif netral, bebas tidak terganggu faktor tokoh, parpol, tapi melihat dari apa yang mereka butuhkan secara obyektif,” papar Hidayat.

Selai itu, katanya lagi, hasil pilkada Jabar selain untuk peningkatan kehidupan demokrasi juga memberikan penegasan bahwa rakyat saat ini memang memerlukan pemimpin alternatif. Termasuk, munculnya figur alternatif pada pemilu 2009.

“Bisa jadi imbas tampilnya tokoh muda seperti hasil pilkada Jabar menyebar ke daerah lain. Walaupun memang, daerah lain mempunyai kasus tersendiri. Tapi, ini satu fakta, bahwa rakyat Indonesia masih mempunyai kemandirian dan kemampuan untuk memilih dengan merdeka tanpa ada unsur paksaan apapun,” tegasnya.

Hidayat kemudian memprediksi peluang tokoh muda untuk tampil di 2009 sama besarnya dengan peluang tokoh-tokoh senior. Dengan alasan, secara prosedural dalam UUD tidak membedakan syarat bagi yang muda maupun tua. “Nah, permasalahannya adalah tentu tidak dapat hanya mengandalkan usia muda saja tanpa dibarengi kualitas dan integritas yang bersangkutan,” ungkapnya.

Hidayat juga mengungkapkan, di internal PKS sudah ada keputusan bila suara pada Pileg 2009 mencapai 20 persen maka akan mengajukan kader sebagai capres. Tapi kata kuncinya, tandas Hidayat, adalah bukan mengajukan kader, melainkan meraih kepercayaan rakyat sebesar-besarnya berdasarkan kinerja yang bagus dari partai.

“Kalau mencapai 20 persen justru akan menimbulkan pertanyaan publik, kenapa dengan suara sebesar itu tidak mau mengajukan kader sebagai capres,” jelas Hidayat Nurwahid. (Persda Network/yat)

Sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s