KARTINI DALAM KENANGAN

“Kamu seharusnya lahir jadi anak laki-laki; tentulah kamu akan jadi laki-laki yang tetap berani hati,” demikianlah kami dengar setiap kali sampai jemu telinga mendengarnya. (surat Kartini kepada Nyonya Ovink-Soer: Jepara, Agustus 1900)”

“Sewaktu dalam pingitan (lebih kurang 4 tahun), Kartini banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Kartini tidak puas hanya mengikuti perkembangan pergerakan wanita di Eropa melalui buku dan majalah saja. Beliau ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Untuk itulah, beliau kemudian memasang iklan di sebuah majalah yang terbit di Belanda : “Hollandsche Lelie”. Melalui iklan itu, Kartini menawarkan diri sebagai sahabat pena untuk wanita Eropa. Dengan segera iklan Kartini tersebut disambut oleh Stella, seorang wanita Yahudi Belanda. Stella adalah anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu. Ia bersahabat dengan tokoh sosialis; Ir. Van Kol, wakil ketua SDAQ (Partai Sosialis Belanda) di Tweede Kamer (Parlemen).”


RIWAYAT HIDUP KARTINI
Raden Adjeng Kartini (Jepara, 21 April 1879 – Rembang, 13 September 1904) (ejaan baru: Raden Ajeng Kartini, gelar setelah menikah: Raden Ayu Kartini).

Kartini, anak ke-5 dan anak perempuan tertua dari sebelas bersaudara (termasuk saudara tiri), lahir di Jepara, 21 April 1879. Beliau berasal dari sebuah keluarga ningrat Jawa ketika pulau Jawa masih dijajah oleh Belanda. Ayahnya, Raden Mas Sosroningrat, adalah seorang Kepala daerah Mayong. Ibunya, MA Ngasirah, bukan istri yang utama, anak perempuan dari Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara, dan Nyai Haji Siti Aminah. Kartini pun lahir dalam sebuah keluarga yang berintelektual tinggi. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, memjadi Bupati pada umur 25 tahun ketika kakak tertua kartini, Sosrokartono, adalah seorang ahli bahasa yang pandai.

Pada waktu itu, poligami merupakan hal yang biasa bagi kaum ningrat. Peraturan penjajah menetapkan bahwa seorang Bupati harus menikah dengan orang dari keturunan bangsawan. dan karena MA Ngasirah bukan keturunan bangsawan kelas atas, Ayah Kartini menikah untuk yang kedua kalinya dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan Raja Madura. setelah pernikahan keduanya, ayah Kartini diangkat menjadi kepala daerah Jepara, menggantikan Istri kedua ayahnya, RAA Tjitrowikromo.

KESEMPATAN SEKOLAH
Kartini mendapat kesempatan dari keluarganya untuk bersekolah hinga usia 12 tahun, di sebuah sekolah rendah Eropa. Di sekolah itulah, antara lain, Kartini mempelajari bahasa Belanda. Kartini cakap dalam berbicara bahasa Belanda, sebuah kepandaian yang tidak biasa bagi seorang wanita jawa pada waktu itu. Setelah usianya menginjak 12 tahun, sesuai dengan kebiasaan keluarga bangsawan Jawa, Kartini harus berhenti sekolah dan ‘dipingit’, siklus hidup tersebut menjadi hal lumrah bagi perempuan Jawa, sebagai fase persiapan tinggal di rumah untuk belajar hal-hal yang diperlukan gadis sebelum menikah.

Selama dalam masa pingitan, para gadis tidak diijinkan untuk meninggalkan orang tua mereka sampai mereka menikah. Ayah Kartini lebih lembut kepada Kartini dibanding anak-anak perempuannya. Selama dalam pingitan mendapat hak-hak istimewa, seperti belajar menyulam dan kadang-kadang tampil di depan publik dalam acara khusus.

Kemampuan Kartini bertutur bahasa Belanda mendorong dirinya tetap belajar dan mulai menulis surat kepada sahabat pena yang berasal dari Belanda. Rosa Abendanon adalah salah seorang teman pena yang menjadi teman terdekatnya.

Hasrat Kartini untuk melanjutkan pendidikannya di Eropa juga diungkapkan di dalam suratnya. Beberapa teman penanya berusaha mendukung Kartini. Akhirnya ketika cita-cita Kartini dihalangi, banyak teman-temannya mengungkapkan kekecewaannya. pada akhirnya, rencananya untuk belajar di Belanda dirubah menjadi rencana perjalan ke Batavia atas nasehat Ny. Abendon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adik perempuannya, Rukmini. Di Batavia, Kartini pun belajar menjadi seorang guru.

Pengetahuan Kartini pun bertambah dengan membaca buku-buku, koran dan majalah Eropa. Hal itu membuat dirinya tertarik dengan pemikiran perempuan-perempuan Eropa, dan membantu hasratnya untuk memperbaiki kondisi perempuan pribumi yang pada waktu itu mempunyai status sosial yang sangat rendah.

Perjuangan Kartini inilah yang kelak dikenal sebagai tonggak munculnya emansipasi perempuan.

Kumala (2007), menekankan pada subjek yang berjuang dan objek yang diperjuangkan, melihat bahwa emansipasi tingkatannya lebih tinggi dari feminisme. Menurutnya, ide-ide Kartini setingkat dengan Martin Luther King Jr. yang menuntut kesamaan hak atas ras/bangsa-bangsa; I have a dream! One day in the valley, former slave and former slave-owner will sit together in the table of brotherhood (Martin Luther King Jr.). Kalimat terkenal yang diucapkan oleh Martin Luther King Jr. tersebut sebetulnya tak jauh beda dengan kalimat Kartini berikut (yang kedengarannya amat klise dan tidak terkenal); Sekaliannya kita ini bersaudara, bukan karena kita seibu-sebapa, ialah ibu bapak kelahiran manusia, melainkan oleh karena kita semuanya makhluk kepada seorang Bapak, kepada-Nya, yang bertakhta di atas langit (25 Mei, 1899).

Kartini pun tidak hanya perhatian pada hal emansipasi wanita saja, . Dia melihat bahwa perjuangan wanita untuk mendapatkan kebebasannya, otonomi dan persamaan hak menjadi bagian sebuah pergerakan yang lebih luas.

Surat-surat Kartini menunjukkan berbagai pandangan tentang kondisi sosial yang sedang berlaku pada saat itu, terutama kondisi wanita-wanita Indonesia. Mayoritas surat-surat Kartini memprotes tentang kebudayaan Jawa yang melarang wanita untuk berkembang. Dia menginginkan para wanita mempunyai kebebasan untuk belajar. Kartini menuliskan ide-ide dan cita-citanya, termasuk perikemanusiaan dan nasionalisme. Surat-surat Kartini juga mengungkapkan harapannya memperoleh mendukung dari luar negeri. Dalam surat-menyuratnya dengan Estell “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan hasratnya untuk menjadi seperti anak muda Eropa. Dia menggambarkan penderitaan wanita jawa terbelenggu oleh tradisi, dilarang belajar, dipingit, dan harus siap berpoligami dengan laki-laki yang mereka tidak kenal.

MENIKAH: TITIK AWAL BERHENTI BERSEKOLAH
Rencana Kartini terus belajar menjadi guru di Batavia sia-sia. Ia harus menghentikannya pada usia 24 tahun (1903) karena harus menikah. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini menuliskan bahwa rencananya ditinggalkan karena Kartini harus menikah… “dalam waktu dekat, saya tidak mempunyai hasrat lebih lama untuk mengambil keuntungan atas kesempatan ini, karena saya akan menikah..”. walaupun faktanya demikian, departemen pendidikan Belanda ahirnya memberikan ijin pada kartini dan Rukmini untuk belajar di Batavia.

Orang tua Kartini mengatur pernikahannya dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang, yang sudah mempunyai tiga istri. Dia menikah pada 12 November 1903. Sebenarnya rencana pernikahan itu bertentangan dengan keinginan Kartini. Namun, mendekati waktu pernikahannya, sikap Kartini terhadap adat tradisional Jawa mulai berubah. Dia menjadi lebih toleran. Dia menjadi merasa bahwa pernikahannya akan membawa keberuntungan terhadap cita-citanya untuk membangun sekolah bagi wanita pribumi, tapi dia juga menyebutkan bahwa dia akan menulis sebuah buku. Sayangnya, cita-citanya ini tidak terwujud karena Kartini meninggal lebih dulu pada 1904 di usia 25 tahun. Karena itu, ia menyetujui dan tabah menerima pernikahannya. Sikap itu pun didorong harapannya agar dapat meredakan sakit ayahnya.

Suami Kartini paham dengan sikap Kartini. Hal tersebut menyebabkan suaminya memberi kebebasan secara relatif kepada Kartini.sikapnya ditunjukkan dengan memberikan izin kepada Kartini untuk mendirikan sekolah khusus bagi wanita di serambi timur komplek perkantoran pemerintahan Rembang.

MELAHIRKAN, LALU MENINGGAL
Pernikahan Kartini dengan Raden Adipati Joyodiningrat dikaruniai seorang anak yang lahir pada 13 September 1904. Namun, beberapa hari kemudian, tepatnya 17 September 1904, Kartini meninggal pada umur 25 tahun. Dia dimakamkan di desa Bulu, Rembang.

‘HABIS GELAP, TERBITLAH TERANG’
Setelah Kartini meninggal, salah seorang sahabat penanya, Mr. JH Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Industri di Hindia Belanda, mengumpulkan dan mempublikasikan surat-surat yang dikirimkan Kartini kepada teman-temanya di Eropa. Buku tersebut diberi judul ‘Door Duisternis tot Licht’ (Habis Gelap terbitlah Terang) dipublikasikan pada 1911. Buku itu terbit lima edisi, termasuk surat-surat tambahan di edisi terahir. Kemudian, buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Agnes L. Symmers dan dipublikasikan dengan judul ‘Letters of a Javanese Princess’ (Surat-surat dari seorang putri Jawa).

Pada 1922, oleh Empat Saudara, ‘Door Duisternis Tot Licht’ disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran”. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara. Pada 1938, buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. . Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.

Penulis Armijn Pane (panerjemah)
Negara Indonesia
Bahasa Indonesia
Genre Biografi
Penerbit Balai Pustaka
Tanggal terbit 2005
Halaman IX, 204 halaman
ISBN ISBN 979-407-063-7

Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah “Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900- 1904”. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam “Door Duisternis Tot Licht” versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong “sensitif” dan tidak ada dalam “Door Duisternis Tot Licht” versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.

Buku “Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900- 1904” memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.
Buku-buku kumpulan surat Kartini, sampai saat ini masih terus dicetak dan beredar di pasar. Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer. Buku “Panggil Aku Kartini Saja” merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.
Banyaknya buku yang membicarakan tentang Kartini sampai saat ini menjadi suatu indikasi keistimewaan pribadi dirinya. Namun, selain mengundang decak kagum banyak kalangan di berbagai negeri, surat-surat Kartini juga mengundang gugatan dan perdebatan. Gugatan-gugatan tidak hanya ditujukan pada surat-surat Kartini saja, juga konsistensi pada apa yang ia kritik dan perjuangkan. Kartini dianggap mengkhianati perjuangannya sendiri dengan “menerima” poligami.

Ada kalangan yang meragukan “kebenaran” surat-surat Kartini. Ada dugaan JH Abendanon, Abendanon merekayasa (baca: memalsukan) surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena buku-buku Kartini dipublikasikan pada waktu ketika pemerintahan penjajah Belanda menerapkan “politik etis” di negara-negara jajahannya, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan. Apalagi, hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Terakhir, menurut Sulastin Sutrisno, Pemerintahan Belanda tidak dapat melacak keturunan JH Abendanon.

Hal tersebut memberi gambaran bahwa surat-surat karya Kartini begitu ‘menjual’ dan diperebutkan. Namun sayang disayangkan, di negeri asalnya kesulitan, bahkan masih banyak yang belum pernah melihat wujud buku kumpulan surat Kartini, apalagi membacanya.

MENGENANG KARTINI
Terinspirasi oleh perjuangan Kartini, Keluarga Van Denter membangun yayasan Kartini yang dibangun untuk wanita, “Kartini’s School” di Semarang pada 1912, diikuti oleh sekolah sekolah wanita lain di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah-daerah lainnya.

Pada 1964, Presiden Soekarno menetapkan tanggal kelahiran Kartini, 21 April, sebagai “Hari Kartini”, hari besar Nasional di Indonesia. Keputusan ini mendapat kritikan. Hari Kartini diusulkan seharusnya dirayakan bersamaan dengan hari ibu Indonesia, 22 Desember, sehingga pilihan menjadikan Kartini menjadi pahlawan nasional tidak membelakangi wanita lain, selain Kartini, yang ikut berjuang menentang penjajah.

MENGAPA KARTINI?
Sebagian besar subbagian ini merupakan tulisan Ratna Kumala (2007. Makalah untuk diskusi “Quo Vadis… Semangat Emansipsi Perempuan” di STT Telkom Bandung, April 2007).

Perempuan pejuang di Indonesia cukup banyak. Bahkan ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sebut saja Tjut Nyak Dien, Dewi Sartika, atau Martha Christina Tiahahu. Namun mengapa saat ini hanya Kartini saja yang selalu dikenang (tanggal 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini). Peringatannya cukup istimewa. Masih ingat dalam kenangan, bahkan terus berlaku sampai saat ini. Momen hari Kartini diisi dengan perayaan istimewa. Anak-anak perempuan tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), bahkan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ‘didandani’ (BACA:umumnya karena kebiasaan sekolah atau keinginan orang tua) menggunakan pakaian adat (lengkap dengan kain kebaya dan konde) mengikuti karnaval.

Bagian dari kisah hidup Kartini yang sebetulnya tidak pernah betul-betul terbuka, yaitu surat-surat Kartini kepada Dewi Sartika. Keinginan Kartini untuk membuat sekolah sebetulnya banyak dipengaruhi oleh Dewi Sartika yang sudah memulainya terlebih dahulu. Cut Nyak Dien yang betul-betul ikut bergerilya dan bahkan memimimpin pasukan tidak mendapat penghargaan setinggi Kartini yang hanya sekedar berkirim surat dan curhat tentang kehidupan dan cita-citanya. Lantas kenapa baik Dewi Sartika maupun Cut Nyak Dien tidak mendapat penghargaan setinggi Kartini?

Dewi Sartika berasal dari Jawa Barat, ada kode-kode tertentu yang tak tertulis bahwa budaya Jawa yang sebenarnya adalah Jawa Tengah, lagipula perjuangan Dewi Sartika sepertinya dianggap kebablasan karena dianggap sudah keluar dari kodrat perempuan yang seharusnya menurut. Begitu pula dengan Cut Nyak Dien yang berasal dari Aceh. Ia tak meninggalkan berkas-berkas tertulis seperti halnya Kartini, namun sebagai perempuan yang memimpin pasukan perang tidak bisa dihitung sebagai perjuangan yang kecil. Aceh merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang tidak bisa betul-betul bisa ditaklukan oleh Belanda. Ketika Indonesia mereka, Aceh dengan sukarela bergabung. Berbeda dengan Jepara, wilayah Indonesia yang sudah memang betul-betul sudah dikuasai Belanda.
Disadari ataupun tidak, ada beberapa kepentingan politis yang melibatkan Belanda sebagai mantan penjajah Indonesia, juga ada unsur kepentingan mempertahankan sistem patriarki yang sudah mengakar dan ingin mengembalikan perempuan kepada fitrah-nya; yang kodratnya adalah masak-macak-manak (bahasa Jawa = memasak-berdandan-melahirkan). Karena itu, perempuan tidak lepas dari sosok ‘penguasa’ Dapur, Sumur, Kasur’.

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang pun awalnya diterbitkan dalam bahasa Belanda terlebih dahulu dengan judul Door Duisternis Tot Licht, surat-surat Kartini dibukukan atas usul. Seolah-olah kepada generasi baru, dikatakan, “beginilah cara berjuang yang baik dan benar.” Dengan kata lain, tak usah ikut bergerilya, tak perlu susah-susah mendirikan sekolah, tapi tetap pintar/tidak bodoh sehingga tidak memalukan nama keluarga, dan tetap menyadari kodratnya sebagai perempuan. Bahkan dalam surat-suratnya setelah ia menikah, Kartini menunjukkan bahwa dia bersyukur telah menikah, padahal awalnya ia seperti kehilangan semangat hidup atas pernikahannya; Saya mengucap syukur, membiarkan saya dibimbing oleh orang yang ditunjukkan oleh Allah Yang mahakuasa menjadi kawan saya seperjalanan menempuh hidup yang luas yang kerapkali sangat sukarnya ini. (Rembang, 11 Desember 1903).

Kartini ditundukkan oleh pernikahan, momok yang sangat ditakutinya terutama ketika ia harus menjalani masa pingit saat usia 12-16 tahun. Ia toh akhirnya harus tunduk kepada ayahnya yang sudah memilihkan calon baginya. Kartini, yang dikatakan Armijn Pane sebagai ’seolah-olah bunga teratai hendak beralih, tetapi tertahan oleh tangkainya dan akarnya, cuma dapat seolah-oleh berayun perlahan-lahan, tertahan-tahan’ mau tak mau sebagai bukti menunjukkan baktinya harus menurut kepada ayahnya untuk menikah dengan Raden Adipati Djaja Adiningrat.

Pram dalam bukunya Panggil Aku Kartini Sadja, menceritakan sebetulnya ada kekhawatiran yang timbul dari pihak Belanda akibat surat-surat Kartini yang dianggap terlalu kritis, maka pihak Belanda pun menyurati R.M. Adipati Ario Sosroningrat, memerintahkan agar Kartini segera dinikahkan. Belanda memiliki rumus, untuk menghadapi orang-orang keraton yang terlalu kritis (apalagi perempuan), dengan cara dinikahkan agar sibuk dengan urusan rumah tangga. Rumus tersebut agaknya betul-betul berhasil, mengingat ayahanda Kartini yang menjabat sebagai Bupati Jepara tentu harus tunduk kepada pemerintah Belanda yang berkuasa pada masa itu.

4 responses to “KARTINI DALAM KENANGAN

  1. Insya Allah , semangat emansipasi yang diperjuangkan oleh Ibu Kartini pada masa dahulu tidak diartikan salah kaprah oleh perempuan yang mengaku modern saat ini
    semoga menyikapi dengan arif dan bijaksana arti kata ” emansipasi wanita “

  2. Sekarang mungkin muncul pertanyaan, bagaimana sebenarnya peran gender itu dalam perspektif Kartini? Ulasan ini sangat membantu untuk mencari jejak-jejak pertanyaan di atas.

    Regards,

    Any Rufaidah

  3. adi sifatuh rachman

    Perjuangan kartini merupakan sebuah bentuk perjuangan pemikiran untuk merubah kondisi sosial waktu itu yang sangat terikat adat, tidaklah mudah menjadi seorang KARTINI yang hanya seorang perempuan berani berbicara kritis, bermimpi merubah keterbelakangan, kartini berpoligami bukanlah sebuah pengkhianatan atas perjuangannya sendiri, tetapi sebuah hasil pemikiran kritis dari perempuan, poligami tak ada hubunganya dengan keterbelakangan, poligami bukanlah kelemahan, asal didasari pemikiran yang benar dan adil. saya bangga dengan KARTINI. Mampukah dalam kondisi seperti yang dialami KARTINI para pengkritik KARTINI bisa berbuat yang lebih baik dari KARTINI tolong dibuktikan jangan hanya bicara saja, kalau asal ngak nguk aja monyet juga bisa

  4. Jawaban utk realylife:

    Amiin… upaya Ibu Kartini mewujudkan emansipasi hendaknya dilihat dari esensi. Tampaknya tujuan yang ingin dikejar Kartini bukan berarti perempuan mengalahkan laki-laki. Semangat emansipasi hendaknya tidak dilihat sebagai sikap mencari siapa yang menang dan kalah. Inti dari emansipasi hendaknya dilihat sebagai upaya mewujudkan persamaan dan kebebasan memperoleh hak bagi laki-laki dan perempuan. Tidak ada lagi istilah perempuan dinomorduakan.

    Jawaban utk Mbak Any:

    Jangan anggap saya bagai “mengajarkan bebek berenang”, karena saya yakin Mbak Any jauh lebih paham mengenai peran jender dalam perspektif Kartini🙂.

    Tapi, sependek pemahaman saya, tampaknya pemahaman jender sangat erat dengan pergulatan yang dilakukan Kartini. Intinya seperti yang sudah saya tulis untuk Mas Said (realylife). Semangat emansipasi ehndaknya tidak dilihat sebagai pencarian yang menang atau kalah, tapi lebih pada membuka peluang memperoleh sesuatu secara sama.

    Pandangan Kartini pada zaman itu pun tidak ‘muluk-muluk’ persamaan yang ingin diwujudkannya adalah dalam hal PENDIDIKAN. Saya menganggap itu sangat hebat. Pendidikan menjadi kunci penting untuk membuka berbagai belenggu yang memenjarakan perempuan.

    Memang tak bisa kita pungkiri, latar belakang budaya bangsa kita yang beraneka ragam menyebabkan terjadinya perbedaan cara pandang mengenai apa yang dikatakan “persamaan” (BACA PERSAMAAN HAK ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN). Sesuatu yang bisa terjadi dalam satu budaya belum tentu berlaku dalam budaya lain.

    Perbedaan latar belakang budaya sudah pasti sangat berpengaruh dan jelas ada dampak positif dan negatifnya. Satu hal penting yang perlu tercipta adalah persamaan persepsi. Apa sebenarnya yang kita tuju? Itulah poin pentingnya, terlepas dari berbagai ‘pisau’ yang kita gunakan.

    Jawaban utk Mas Adi:

    Menarik sekali menerima komen dari teman-teman semua. Memang saya melihat ketiga komen teman-teman saling berkaitan. Termasuk dengan komen Mas Adi ini. Saya anggap inilah wujud dari perbedaan ‘pisau’ (alat analisis, maksudnya :)) yang digunakan. Adanya pandangan poligami sebagai penghianat perjuangan Kartini saya pikir sah-sah saja. Mengapa? Saya pikir cara pandang Mas Adi inilah yang membedakan dengan yang lain.

    Komen Mas Adi,

    … poligami tak ada hubunganya dengan keterbelakangan, poligami bukanlah kelemahan….

    pun menyiratkan hal itu. Poligami memang tidak mutlak dianggap sebagai suatu kelemahan. Dalam ajaran agama saya pun ada dalilnya. Poligami malah bisa dilakukan hingga 4.

    Mas pun sudah menjawab sendiri:

    …asal didasari pemikiran yang benar dan adil….

    Inilah kuncinya. …asal didasari pemikiran yang benar dan adil….

    Kita semua sudah tahu apa yang dianggap benar dan adil (semoga).

    Nah, anggapan poligami sebagai bentuk penghianatan emansipasi tampaknya didasari oleh keyakinan bahwa poligami sebagai bentuk pembelengguan terhadap perempuan. Bisa jadi menganggap poligami sebagai pengkerdilan atau penomorduaan terhadap perempuan. Karena poligami dilakukan atas ketidakterimaan salah satu yang di’dua’kan, di’tiga’kan, atau di’empat’kan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s