Tafsir Lain Hasil Pilgub

Rabu, 16 April 2008
Opini
Oleh Dedi Haryadi

Hasil penghitungan cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei, lembaga penelitian, dan media massa menunjukkan, pasangan yang sementara ini unggul adalah pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (Hade). Pengalaman selama ini memperlihatkan bahwa hasil penghitungan cepat menunjukkan akurasi yang cukup tinggi. Dalam arti, prediksi pemenangan pilgub versi hasil penghitungan cepat tidak jauh berbeda dengan hasil penghitungan resmi versi Komisi Pemilihan Umum Pusat/Daerah.

Sambil menunggu pengumuman resmi dari KPUD Jabar (22 April), ada baiknya saya coba mengembangkan tafsir sementara atas hasil sementara perolehan suara Pilgub Jabar. Pesan politik pertama yang saya dapatkan dari perolehan sementara ini adalah, pertama, masyarakat pemilih Jawa Barat menganggap bahwa figur militer menjadi tidak penting dan bahkan tidak relevan. Ini bertentangan dengan asumsi atau opini yang berkembang selama ini bahwa masyarakat Jawa Barat masih perlu dipimpin oleh seseorang yang punya latar belakang militer. Pasangan Hade yang sipil, mendapat preferensi lebih kuat ketimbang dua pasangan lainnya. Kelihatannya, Partai Golkar dan juga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan keliru menghitung faktor ini.

Bagi komunitas aktivis prodemokrasi atau aktivis hak asasi manusia, latar belakang kandidat apakah dari militer atau bukan, menjadi faktor yang penting dalam menentukan preferensinya. Sebagai contoh, seorang aktivis prodemokrasi mengatakan lebih memilih pasangan Hade karena latar belakangnya sebagai sipil. Walaupun dia bukan pendukung Partai Keadilan Sejahtera atau Partai Amanat Nasional. Meskipun komunitas aktivis prodemokrasi dan aktivis hak asasi manusia di Jawa Barat masih sedikit dari segi jumlah, akan tetapi leverage mereka cukup baik dan luas.

Kedua, demikian juga latar belakang atau pengalaman sebagai birokrat tidak penting dan tidak relevan. Minus pengalaman memerintah atau pernah menjadi birokrat justru menjadi faktor yang menguntungkan. Masyarakat mulai jeli melihat bahwa pengalaman berkutat sebagai birokrat justru bisa menjadi faktor yang menghambat reformasi birokrasi. Pengalaman selama ini memang menujukkan bahwa pemerintah daerah yang sukses mengembangkan praktik pemerintah yang baik dan inovatif, dipimpin oleh orang-orang yang latar belakangnya bukan dari birokrat.

Provinsi Gorontalo yang inovatif dan reformatif dalam mengelola keuangan daerah, dipimpin oleh orang yang berlatar belakang sebagai pengusaha. Kabupaten Jembrana di Bali, misalnya, dipimpin oleh orang yang berlatar belakang akademis. Kota Solo dipimpin oleh pengusaha. Kabupaten Sragen dipimpin oleh orang yang latar belakangnya pengusaha. Masyarakat Jawa Barat berani mengambil risiko untuk menyerahkan kepemimpinannya kepada orang yang tidak punya pengalaman.

Ketiga, faktor demografik. Dari segi umur, ketiga pasangan itu mencerminkan dua generasi yang berbeda. Pasangan Da’i dan Aman bagaimanapun mewakili generasi tua, sedangkan pasangan Hade mewakili generasi muda. Wacana tentang regenerasi kepemimpinan yang digulirkan oleh pasangan Hade sukses meyakinkan, bukan hanya generasi muda tapi juga generasi tua. Seorang pemilih yang usianya sekitar 60 tahunan yang sempat saya wawancara mengatakan, “Geus ayeuna mah giliran nu ngarora nu mingpin téh” (Sudahlah sekarang mah giliran orang muda yang memimpin).

Keempat, dana penting tapi bukan segalanya. Dengan jumlah dana dan sumber daya yang lebih terbatas, pasangan Hade mampu memobilisasi sumber daya secara efektif dan efisien. Pesan politik yang disampaikan melalui berbagai medium kampanye cukup sederhana, mudah dipahami, dan mengena. Penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien bukan hanya pada tingkat organisasi tim sukses, tapi juga pada tingkat pendukung. Ini juga yang secara jelas membedakan pendukung pasangan Hade dengan pasangan lainnya.

Meskipun ketiga pasangan pendukung ini sama-sama ada dan berkerumun di lapangan Gasibu, misalnya, secara distingtif kualitas kerumunan ini jelas berbeda. Pendukung pasangan Hade, utamanya dari PKS, datang ke Gasibu sebagai barisan, bukan sebagai kerumunan. Mereka datang ke Gasibu dengan sumber dayanya sendiri: yang punya mobil bawa mobil, yang punya motor bawa motor (dengan bensinnya), yang hanja bisa jalan kaki, ya, jalan kaki. Akan tetapi, pasangan lainnya datang ke Gasibu harus diongkosan.

Kelima, meskipun pasangan Hade kelihatannya sebagai sebuah kesatuan. Akan tetapi dengan mudah dapat dilihat ada dua kekuatan yang bekerja yang menyukseskan pasangan ini. Dua kekuatan itu ialah mesin politik yang bekerja dengan baik dari sisi PKS dan popularitas Dede Yusuf sebagai artis dari sisi PAN. Meskipun pengelolaan kedua kekuatan ini mungkin tidak terlalu sinergis, nyatanya perpaduan dua kekuatan ini sukses meyakinkan publik Jawa Barat bahwa mereka pantas memimpin provinsi ini.

Pada tingkat individu, perilaku pemilih sering kali sulit ditebak. Dan mungkin setiap orang punya alasan unik mengapa memilih pasangan ini dan bukan pasangan itu. Ketika keluar dari tempat pemungutan suara (TPS) seorang ibu-ibu (mungkin usianya mendekati 60 tahunan) yang sudah saya kenali dengan baik, saya tanya, “Ceu, milih saha?” Jawabannya sungguh di luar dugaan, “Baé ah ripuh ogé, nu penting boga gubernur ngora jeung ganteng” (Biarlah hidup sulit juga, yang penting punya gubernur yang masih muda dan ganteng).

Dengan kondisi hidup yang serbasulit sekarang ini, dan juga tidak berharap banyak bahwa pasangan Hade akan dapat memperbaiki kondisi kehidupannya, dia memutuskan memilih pasangan Hade, dengan alasan yang sangat sederhana, “Yang penting punya gubernur muda dan ganteng, baé ripuh ogé.” Irasional? Saya kira itu adalah rasionalitas yang berbeda. ***

Penulis, Ketua Center for Budget Initiative (CBI).

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s