Janji “Ka Rahayat” Akan Ditagih

Jum’at, 18 April 2008
Pendidikan

PUSING. Kata itulah yang terlontar dari bibir seorang wanita paruh baya saat ditanya bagaimana dengan biaya pendidikan anaknya saat ini. Usianya baru 48 tahun, namun beban hidup membuatnya tampak lebih tua. Uun Sumarni nama wanita itu.

“Pendidikan sekarang mah enggak ada yang murah Neng. Beban hidup makin susah untuk golongan ekonomi lemah seperti kami,” kata Uun. Ia dan suaminya, Atang (57) harus membanting tulang. Bukan saja untuk biaya hidup mereka sehari-hari, tetapi juga untuk biaya dua dari lima anak mereka yang masih bersekolah di SD.

Ady Nugraha (12) adalah anak keempat Uun yang saat ini duduk di kelas VI SD Margahayu XII. Itu berarti Ady akan lulus dari SD dan akan meneruskan ke SMP. Hal itu membuat dahi Uun semakin berkerut mengingat biaya yang harus ia persiapkan untuk anaknya masuk SMP. Belum lagi biaya ujian Ady yang harus segera dibayarkan. Tidak hanya itu, ia dan suaminya pun masih harus memikirkan biaya sekolah anak bungsunya, Winda Anggraeni (9) yang kini masih duduk di kelas III SD Margahayu XII.

Uun sudah lebih dari 15 tahun berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Sementara suaminya bekerja sebagai petugas pertahanan sipil (hansip). Penghasilan yang diperoleh mereka berdua dirasa belum cukup untuk memenuhi segala kebutuhan mereka.

Untuk menutupi kekurangan tersebut, Atang melakoni kerja sampingan sebagai pengumpul barang rongsokan. “Enggak seberapa sih Neng hasilnya, tapi lumayan buat nambah-nambah,” kata Atang.

Meskipun di sekolah anaknya tersebut tidak dikenakan biaya SPP, namun masih banyak biaya lain yang harus dikeluarkan. Contohnya untuk membeli buku, peralatan sekolah, dan seragam, serta biaya kursus komputer Rp 40.000,00 tiap anak per bulannya.

Hingga kini pun Uun belum melunasi biaya pembangunan untuk anak bungsunya. “Saya mah bayarnya dicicil. Itu juga baru kebayar Rp 200.000,” kata Uun. Uang pembangunan yang harus dibayar oleh Uun sebesar Rp 350.000. Mungkin, jumlah itu terbilang kecil jika dibandingkan dengan jumlah yang harus dibayar oleh mereka yang bersekolah di daerah perkotaan. Namun, bagi Uun tetap saja terasa mahal.

Seperti kebanyakan orang tua lainnya, Uun dan suaminya pun berharap agar semua anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. Tidak seperti dirinya dan suami yang hanya bisa sekolah sampai SD. Ia berharap anak-anaknya kelak memiliki hidup yang lebih baik.

Meskipun biaya pendidikan tiap tahun melambung, seperti tidak mengenal kata turun, selalu saja naik. Namun, Uun memiliki harapan suatu saat biaya pendidikan bisa jadi murah atau bahkan gratis seperti yang sering dijanjikan oleh para calon pemimpin sambil mengacungkan jari mereka saat berkampanye.

“Dalam kampanye lalu, para pemimpin teh janjinya sekolah bisa murah bahkan gratis. Mudah-mudahan ketika sudah benar-benar terpilih, mereka teh tidak lupa janjinya. Sebab, janji ka rahayat nu leutik mah nanti akan ditagih oleh Allah SWT,” kata Uun.

Harapan Uun, mungkin saja adalah harapan ratusan atau bahkan jutaan orang tua lain yang bernasib sama sepertinya.

Menunggu dan terus menunggu janji-janji sang penguasa untuk menjadikan biaya pendidikan bersahabat, tidak saja bagi mereka yang mampu, tapi juga bagi mereka yang tidak mampu.

Biaya hidup yang kian mencekik, ditambah lagi biaya pendidikan yang jauh dari kata murah, membuat mereka semakin terimpit. Apa mungkin harapan mereka akan terwujud? Mudah-mudahan jawabannya bukan terletak pada rumput yang bergoyang! (Fitri Rumantris)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s