Siapa Bilang Hade Menang?

Jum’at, 18 April 2008
Opini

Oleh Radhar Tribaskoro

Pengumuman hasil quick count Pilgub Jabar telah menimbulkan reaksi masyarakat. Reaksi itu sangat beragam, mulai dari ucapan selamat, pertanyaan, sanggahan, termasuk sele-brasi dengan berbagai macam caranya. Kita mengkhawatirkan bahwa reaksi-reaksi itu menjadi tidak proporsional. Misalnya, bila kandidat yang dinyatakan menang sudah berbicara seakan-akan ia adalah gubernur yang sesungguhnya atau bila para pendukungnya sudah berpawai, memasang spanduk bahagia bahkan sudah selametan segala.

Reaksi yang berlebihan itu disebut euforia. Euforia ini menjadi bukan masalah bila dianggap sekadar early celebration saja apabila kenyataan memang sesuai. Akan tetapi akan lain soalnya bila kenyataan berkebalikan! Menurut Siddharth Chandra dan Angela Williams Foster dalam bukunya The “Revolution of Rising Expectations,” Relative Deprivation, and the Urban Social Disorders of the 1960’s, tidak terpenuhinya harapan yang sebelumnya dibiarkan melambung tak terkendali berpotensi merusak ketertiban sosial.

Kekhawatiran lebih mengental manakala kita menyadari bahwa rising expectations itu berkenaan dengan pemilihan umum. Pemilu adalah momen reguler yang bagi kebanyakan orang telanjur dianggap sebagai peristiwa yang sarat dengan penyalahgunaan kekuasaan. Frustrasi yang meledak di tengah anggapan seperti itu pasti sulit untuk diberi jalan keluar yang rasional.

Di sisi lain, polling atau quick count adalah peralatan ilmiah yang dipergunakan untuk membangun ilmu pengetahuan. Kita bersyukur bahwa banyak orang membaca karya ilmiah karena bangsa terbelakang seperti kita memang sangat membutuhkan panduan ilmu pengetahuan untuk bisa tegak di tengah bangsa-bangsa. Akan tetapi ilmu, bagaimanapun bentuknya, selalu berada di tengah konteks. Manfaat ilmu akan maksimal kalau kita juga memahami konteks itu.

Dalam kaitan dengan hasil quick count, konteks tersebut adalah keterbatasan-keterbatasan yang sadar atau tidak sadar dimiliki oleh quick count itu. Persoalan menafsirkan hasil quick count itulah yang menjadi pokok bahasan artikel ini. Dengan menafsir secara tepat, barulah kita menjadi bijaksana, dalam arti ing madya atau tidak berlebih-lebihan.

Apakah “quick count”?
Quick count atau penghitungan cepat adalah proses rekapitulasi penghitungan suara yang dilakukan dengan cara menjumlahkan (rekap) hasil perhitungan suara di TPS tertentu. Frasa “TPS tertentu” sengaja ditebalkan karena penulis ingin menekankan bahwa rekapitulasi itu tidak dilakukan atas semua TPS, tetapi hanya pada sejumlah TPS yang dipilih oleh pelaksana quick count. Menurut informasi, LSI (Lingkaran Studi Indonesia) telah memilih 400 TPS dari sekitar 70.000 TPS yang dibentuk untuk keperluan pilgub ini. Jumlah sampel yang dipilih oleh LSI ini sangat penting karena ia akan memengaruhi apa yang sering disebut dengan sampling error.

Sampling error adalah kesalahan yang terjadi akibat peneliti tidak mewawancarai semua anggota populasi, tetapi hanya sebagian (sample). Ukuran yang dipergunakan untuk memperkirakan besaran sampling error itu disebut margin of error. Nilai margin of error ini hanya bergantung pada jumlah sampel saja. Bila sampelnya 100, MoE (margin of error) adalah 10%, sampel 500 didapat MoE 4,5%, untuk sampel 1000 MoE-nya 3%. Bila ada lembaga survei mengklaim bahwa surveinya memiliki MoE 1%, sedikitnya ia harus mewawancarai 5000 responden.

Margin of error dipakai untuk menjelaskan batas bawah dan batas atas suatu perkiraan. Jadi bila quick count mengatakan bahwa pasangan Hade meraih 40% suara, secara statistik itu berarti dengan tingkat kepercayaan 95%, raihan suara Hade diperkirakan berkisar 40% dikurangi angka margin of error sampai dengan 40% ditambah angka margin of error. Bila lembaga penyelenggara quick count itu mengambil sampel 400 TPS, margin of error-nya tidak akan kurang dari 5%. Dengan demikian, angka sesungguhnya yang bisa diraih oleh Hade adalah 35 s.d. 40%. Artinya, quick count itu tidak salah kalau nantinya ternyata Hade meraih 36% (di dalam interval), quick count baru dibilang tidak akurat kalau raihan Hade 45% (di luar interval).

Penafsiran
Menurut liputan suatu surat kabar, paling sedikit ada lima lembaga yang menyelenggarakan quick count untuk pilgub Jabar, antara lain Litbang Kompas, LSI (Lingkaran Survei Indonesia), LSI (Lembaga Survei Indonesia), Puskapis (Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis) dan Pusat Studi Demokrasi dan HAM Surabaya. Kelima lembaga itu memprediksikan hasil pilgub jabar berkisar 40-35-25 untuk Hade-Aman-Dai. Kecuali Puskapis (+1000 TPS), kebanyakan lembaga mengambil sampel 300-400 TPS. Apakah dengan hasil ini secara definitif Hade menang?

Secara definitif (atau sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku pada quick count itu sendiri). Sayangnya, harus dikatakan bahwa pilgub Jabar belum ada pemenangnya!

Pada jumlah sampel 300-400 TPS, margin of error tidak akan kurang dari 5%. Dengan MoE sebesar itu perolehan suara Hade berkisar 35 s.d. 45%. Sementara itu, perolehan suara Aman berada 30 s.d. 40%, sedangkan Dai ada sekitar 21-31%.

Yang ingin kita tekankan di sini, quick count tidak bicara tentang suatu angka, tetapi sebuah interval. Dengan perolehan seperti di atas, quick count tidak bisa memastikan siapa pemenang pilgub itu. Hade menang bila, seperti tafsiran beredar, semua perolehan berada di angka rata-rata. Namun, quick count juga tidak dapat disalahkan bila ternyata Aman menang dengan meraih 40% suara, sementara Hade hanya meraih 35%. Semuanya masih berada di dalam kisaran perkiraan yang diberikan.

Bagaimana dengan Dai, apakah Dai masih mungkin menang? Ya. Pertandingan masih terbuka. It is still everybody game!

Mengapa? Perlu kita catat, kesalahan yang bisa terjadi pada suatu survei banyak ragamnya. Dalam hal pengambilan sampel, misalnya, perlu ditanya bagaimana teknik sampling-nya. Angka-angka yang disajikan di atas adalah angka standar berdasarkan anggapan bahwa pengambilan sampel dilakukan secara random atau acak.

Untuk pengambilan sampel secara acak, peneliti harus memiliki daftar lengkap TPS berikut alamatnya. Ia mengocok daftar 70.000-an TPS baru kemudian secara acak memilih 300 TPS daripadanya. Tidak peduli di mana alamat TPS itu, sekali pun di puncak gunung, peneliti tidak punya jalan kecuali mendatanginya untuk mendapatkan datanya. Hal ini biasanya sangat berat, bukan saja mahal, melainkan daftar seperti itu tidak ada, bahkan KPU pun tidak memilikinya.

Oleh karena itu, peneliti biasanya mencari cara mudah dengan menggunakan teknik lain yang disebut stratified sampling. Teknik ini dilakukan dengan memilih acak secara bertahap. Pertama, ia akan memilih acak kabupaten/kota yang akan disurvei. Dari 26 kabupaten/kota akan dipilih 50%-nya saja, misalnya 13 kabupaten kota. Pada tahap kedua pada setiap kabupaten/kota terpilih akan dipilih kecamatan mana yang akan disurvei. Selanjutnya, akan dipilih desa yang disurvei, baru kemudian pewawancara akan memilih sendiri responden yang diambil dari setiap desa.

Teknik stratified sampling paling sering dipergunakan oleh para peneliti karena mudah. Akan tetapi, teknik itu mengorbankan prinsip acak, yaitu adanya peluang yang sama bagi responden untuk dipilih. Penggunaan teknik itu biasanya dikompensasi dengan menaikkan margin of error. Bila tadinya MoE adalah 5%, penggunaan stratified sampling men-jadikan MoE 6%.

Koreksi tidak cukup di situ. Sekali lagi, hasil survei harus ditafsirkan berikut dengan segala keterbatasannya. Selain sampling error, total survey error mencakup coverage error, measurement error, dan non-response error. Coverage error adalah kesalahan yang berkaitan dengan ketak-mampuan menjangkau sebagian populasi. Teknik stratitified sampling seperti dilukiskan di atas jelas mengabaikan TPS yang berada di rumah sakit, pen-jara, atau TPS khusus lainnya.

Measurement error adalah kesalahan yang terjadi bila survei tidak mengukur apa yang ingin diukur. Hal ini berkaitan dengan kekeliruan dalam alat survei, penggunaan kata, pengurutan pertanyaan, kesalahan pewawancara, waktu wawancara, dan sebagainya. Adapun non-response error adalah kesalahan akibat tidak berhasil melakukan wawancara. Masyarakat memiliki banyak alasan untuk menolak suatu wawancara. Sampai sekarang, kesalahan ini belum bisa diukur.

Oleh karena itu, dengan sekian banyak potensi kesalahan yang bisa terjadi pada suatu survei, bagaimana seharusnya kita menyikapi hasil survei? Paling penting adalah memahami bahwa bukan hanya survei, pengetahuan apa pun berangkat dan berada di dataran kenisbian. Memercayai sesuatu di dunia nisbi itu haruslah dengan reserve. Dengan kata lain, tanggapan yang pas adalah menerima dengan hati-hati. Prinsip kehati-hatian ini terutama perlu dimiliki oleh para pemimpin karena mereka adalah panutan orang awam. Sangat menyesal bila seorang pejabat publik, hanya dengan hasil quick count, sudah men-declare selebrasi.

Semua masih bisa berubah. Marilah kita bersabar sambil menunggu hasil rekapitulasi KPU. Karena itulah hasil definitif!***

Penulis, anggota KPU Jawa Barat.

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s