Ciptakan Suasana Kondusif di Jabar

“TUJUAN penting yang harus dilakukan adalah mendorong kemajuan Jawa Barat dan terciptanya kesejahteraan bagi seluruh warga Jabar.”

Perhelatan pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Jawa Barat telah memasuki babak akhir. KPUD Jawa Barat menetapkan Selasa, 22 April 2008, sebagai hari penentuan pemenang Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Jabar periode 2008-2013. Seperti sudah diketahui, prosesi PilGub/Wagub Jabar diikuti oleh tiga pasangan calon, yaitu DA’I (Danny Setiawan – Iwan R. Sulandjana), yang diusung Partai Golkar dan Partai Demokrat, AMAN (Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim), diusung banyak partai, antara lain PDI-P dan PPP; serta HADE (Ahmad Heryawan – Dede Yusuf), diusung Partai Keadilan Sejahtara dan Partai Amanat Nasional.

Pengumuman pemenang Pilgub secara resmi memang akan diumumkan KPU Jabar pada Selasa ini. Namun, sebagai gambaran umum, penghitungan suara pilgub ini sudah diperoleh dari proses penghitungan cepat (quick count) yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey, seperti Lingkaran Survey Indonesia dan Litbang Kompas. Secara keseluruhan proses quick count tersebut menentapkan pasangan HADE sebagai pasangan yang memperoleh suara terbanyak dalam proses pilgub tahun 2008 ini.

Kemenangan pasangan HADE tersebut tampaknya menjadi titik balik perubahan dunia politik. Munculnya pemimpin tidak mululu dijamin karena senioritas untuk mendapt dukungan suara rakyat. Pengalaman pun bukan lagi menjadi “modal” untuk menang. Sebab, masyarakat saat ini sudah melek politik, walaupun baru sekadar “membuka mata”. Mungkin setelah mata terbuka belum tentu mampu mewaspadai jalan berkelok dan terjal. Inilah wujud sebuah kemajuan politik.

Banyak kalangan tampak terhenyak dengan keberhasilan pasangan Hade tersebut. Lihat berita 1 dan 2.

Bukan tanpa sebab, pasangan dengan nomor urut 3 ini memang awalnya menjadi calon underdog dalam pemilihan orang nomor 1 dan 2 di Jabar. Namun, hasil dan keinginan pemilih di Jabar berkata lain. Tampaknya 10 alasan untuk memilih No. 3 (Pasangan HADE), yang dikemukakan tim
sukses HADE sangat manjur.

Dari banyak variabel yang mengemuka, penulis menggarisbawahi beberapa variabel pendorong keberhasilan HADE. 1) pasangan muda, munculnya pasangan HADE, dengan usia yang realtif muda (keduanya berusia sekitar 40 tahun-an) tampaknya menjadi ‘senjata’ yang digunakan untuk menyasar kalangan muda di Jabar. Keduanya berumur sekitar 40 tahun-an. Sehingga tak salah apabila kelompok pemilih berusia 35 tahun ke bawah cenderung lebih memilih pasangan ini, termasuk di dalamnya adalah yang baru pertama kali ikut pencoblosan pemilu/pilkada. Terbanyak dari kalangan ini lebih memilih pasangan yang dari segi usia lebih muda daripada pasangan lainnya.

2) tokoh baru, pasangan HADE memang bisa dibilang sebagai ‘new comer’ dalam kancah perpolitikan di regional Jabar maupun nasional. Dua pasangan calon lainnya sudah lama malang-melintang dalam dunia politik. Sebut saja Danny Setiawan (DA’I) dan Nu’man Abdul Hakim (AMAN). Keduanya menjadi calon incumbent dalam pilgub 2008. Siapa pula yang tidak kenal dengan Agum Gumelar (AMAN)? Tokoh yang satu ini sudah banyak merasakan asam garam dalam dunia perpolitikan nasional. Purnawirawan TNI-AD ini merupakan mantan Menteri Perhubungan (1999; dan 2001-2004),serta Menko Bidang PolSosKam (2001).

Selain itu, ia pun pernah mencalonkan diri dalam pemilihan presiden RI tahun 2004, berpasangan dengan Hamzah Haz, yang diusung PPP. Bahkan, pada Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2007, pun nama Agum ramai dibicarakan menjadi salah satu kandidat.

3) Harapan baru
Munculnya tokoh baru dalam pemilihan kepala daerah tampaknya menjadi alternatif bagi para pemilih menentukan pilihannya. Kondisi ini dipengaruhi oleh pengalaman para pemilih terhadap gaya kepemimpinan ‘lama’. Pemilih tampaknya kehilangan daya tarik terhadap calon pemimpin yang pernah memangku jabatan dan tidak membawa perubahan berarti. Di tengah jenuhnya pemilih terhadap pemimpin lama itulah yang mendorong pasangan pemimpin baru mendulang sukses raihan suara.

4) Popularitas Dede Yusuf sebagai selebriti yang sudah dikenal masyarakat.
Masyarakat pemilih di tingkat basis pun sudah mengenal siapa sosok Dede Yusuf. Bahkan, popularitas Ahmad Heryawan pun, seakan tergilas dengan nama besar keartisan Dede Yusuf. Namun, hal itu ditampik oleh Ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum (Bappilu) pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade), Uum Syarif mengaku, kemenangan Hade bukan karena popularitas Dede sebagai artis. Di balik keartisannya, Dede Yusuf pun dipandang memiliki kapasitas dan kualifikasi sebagai calon wakil gubernur Jabar. Sebelum dipasangkan dengan Ahmad Heryawan, kata Uum, Dede beberapa kali mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya dalam bidang kepemimpinan.

5) Militansi Mesin Partai
Tidak dapat dipungkiri kemenangan pasangan HADE pun dipengaruhi oleh kerja efektif mesin-mesin partai pengusung, yaitu PKS dan PAN. Dukungan legal-formal dari struktur kedua partai itu dan dukungan riil dalam kampanye-kampanye, baik dari kader maupun para petinggi partai dengan militansi tinggi memberi demonstration effect (efek tontonan) yang memengaruhi psikologi pemilih.

Terlepas dari banyak faktor kemenangan pasangan HADE, gempuran ketidakpuasan dari pasangan lain pun muncul. Salah satunya adalah ketidakpuasan massa pendukung pasangan AMAN. Massa pendukung Aman menyatakan penolakan hasil pemilihan gubernur Jabar karena menganggap muncul kecurangan. Alhasil, massa tersebut melakukan beberapa tindakan untuk mengaspirasikan ketidakpuasannya.

Namun, itu adalah pilihan. Penulis menganggap segala sesuatu pasti bakal ada pro-kontra. Termasuk hasil pemilihan gubernur. Banyak berita memperlihatkan di beberapa daerah gelombang tidak puas menerima hasil terlihat. Bahkan kekerasan dan bentrok fisik pun terlihat.
Apakah harus kondisi seperti itu terjadi di Tatar Parahyangan ini? Rasanya lebih arif apabila ketidakpuasan diwujudkan dalam tindakan yang wajar dan bersikap santun. Acil Bimbo, mengutip trilogi sastrawan Sunda Tatang Sumarsono, menyebut beberapa sikap, yaitu <em>Ngajaga lembur!, akur jeung dulur! Panceg na galur!.

Sikap seperti itu tampaknya sangat perlu dijunjung oleh seluruh elemen warga Jawa Barat. Jangan sampai ajang ‘Pesta Demokrasi’ di bumi Pasundan ini dikotori oleh sikap dan perilaku yang merugikan banyak pihak. Marilah kita berlapang dada dan menerima segala hasil penghitungan suara dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Terlepas siapa saja yang terpilih nanti, sudah selayaknya warga Jabar mendukung dan terlibat dalam pemerintahan baru tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s