Tak Ingin Buat Orang Kecewa

Rabu, 23 April 2008

AHMAD Heryawan tak pernah menyangka, niatnya kembali ke tanah kelahiran untuk membangun dan mengabdi mendapat respons begitu luas dari masyarakat Jawa Barat. Bahkan, dalam pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat, Heryawan yang berpasangan dengan Dede Yusuf (Hade) meraih suara pemilih terbanyak yaitu 7.287.647 suara dan dipastikan menjadi pasangan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013.


“Saya sangat kaget, dan bertanya apakah ini memang kenyataan. Namun, akhirnya saya bersikap bahwa kemenangan ini memang buah dari hasil kerja keras semua pihak yang sudah membantu pasangan Hade. Dan, kemenangan memang layak kami terima,” ungkap pria yang lahir di Sukabumi, 19 Juni 1966 ini.

Namun, dia mengingatkan agar kemenangan itu tidak ditanggapi secara berlebihan. “Pada saat yang sama, kemenangan menjadi beban dan tanggung jawab. Mudah-mudahan kami dapat membawa harapan baru bagi Jabar,” ujarnya.

Embusan angin demokrasi memang membuat Heryawan terbuai dan memilih untuk berpartisipasi. Rekan-rekan PKS Jabar meliriknya sebagai kader potensial untuk diusung menjadi Calon Gubernur Jawa Barat. Berkoalisi dengan Partai Amanat Nasional (PAN), Heryawan pun disandingkan dengan figur selebritis dan politikus muda Partai Amanat Nasional, Dede Yusuf.

Mengemban amanat sebagai Gubernur Jabar berarti memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini paling disukainya. “Saya paling tidak ingin membuat orang lain kecewa, karena itu segala kegiatan yang saya lakukan, berusaha untuk menyenangkan orang lain, termasuk menjalankan amanah dari masyarakat,” ujarnya.

Konsekuensinya, Ahmad berjanji akan berusaha untuk mewujudkan ekspektasi masyarakat Jawa Barat terhadap misi perubahan yang diusungnya selama masa kampanye berlangsung. “Saya akan berusaha membawa Jabar menuju kehidupan yang lebih baik dan dapat menoreh prestasi yang membanggakan di tingkat nasional. Dengan kerja keras, saya berharap hal itu akan terwujud bersama bantuan dari seluruh masyarakat,” ujarnya.

Faktor keturunan memengaruhi Heryawan untuk terjun di kancah politik. Wajar, karena ayahnya dulu termasuk aktivis Partai Nasional Indonesia (PNI). Selain faktor keturunan, lingkungan juga menjadikan pribadi Heryawan makin memahami politik. Dalam bagian aktivitasnya di kampus Universitas Indonesia (UI), kerapkali ia berdiskusi tentang masalah dan masa depan bangsa. Dari sinilah Heryawan ikut mendirikan Partai Keadilan, sebelum akhirnya berlanjut menjadi PKS sebagai kendaraan dakwahnya. Sambil menekuni aktivitas sebagai trainer di Mind Institute Jakarta hingga sekarang, Heryawan secara paralel menjalani amanah dakwah sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta.

Selama berkiprah di partai dakwah tersebut, Heryawan begitu bersemangat ketika membuat konsep tentang jaringan partai yang efektif dari tingkat pengurus pimpinan pusat hingga tingkat RT. Dengan jaringan yang sudah dibangun kokoh, maka akan mudah untuk melakukan mobilisasi dan menyerap aspirasi rakyat dari level yang terendah.

Selain menekuni dunia politik, dunia lain dari Heryawan adalah belajar dan mengajar. Pria yang bergelar Lc ini mendapat amanah sebagai dosen di Sekolah Tinggi Al-Hikmah dan Islamic Study Al-Hikmah (1992-1994). Universitas Ibnu Khaldun Bogor juga menjadi tempat Heryawan mengamalkan ilmunya sepanjang tahun 1994-1996. Terakhir, dia sempat menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Ekonomi UI (1994-1995) dan dosen di Pusat Studi Islam Al-Manar (1996-1999).

Suami dari Netty Prasetyani dan ayah dari enam orang anak ini, menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Sukabumi. Hijrah ke ibu kota, Heryawan melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Syariah LIPIA Jakarta (lulus tahun 1992).

Sejak masih duduk di bangku kuliah, Heryawan sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas dakwah. Semangat mudanya membawa Ahmad Heryawan aktif sebagai Ketua Majelis Pemuda PP PUI (1991-1999), Ketua Bidang Kepemudaan PP PUI (1999-2004), dan hingga saat ini masih menjabat sebagai Ketua Umum PP PUI.

Kesibukan Heryawan dalam berbagai aktivitas didukung sepenuhnya oleh sang istri, Netty Prasetyani. Termasuk, upaya penghilangan budaya korupsi di kalangan birokrat setelah dia menjabat sebagai Gubernur Jabar.

“Gaya hidup istri dan keluarga seringkali menjadi penyebab suami berbuat korupsi. Karena itu, saya akan menjadi penyaring bagi suami agar tidak melakukan hal itu. Gaya hidup keluarga kami tidak akan berubah meski nanti akan menduduki jabatan sebagai orang pertama di Jabar,” ujar Netty. (Ririn N.F./”PR”) ***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s