Bandung Terkena Dampak Badai Rosie

Kamis, 24 April 2008
Utama

BANDUNG, (PR).-
Masyarakat Jawa Barat perlu mewaspadai perubahan cuaca akibat timbulnya badai tropis Rosie di perairan Samudera Hindia. Sebab, badai tersebut berpotensi mengakibatkan terjadinya hujan lebat disertai angin dan memicu timbulnya gelombang tinggi di perairan laut selatan Jawa Barat sampai 3 hari mendatang.

Demikian diungkapkan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Kelas I Hendri Subakti, ketika ditemui di kantornya di Jln. Jurang, Bandung, Rabu (23/4). “Badai yang sudah tumbuh sejak dua hari terakhir, memengaruhi peningkatan curah hujan dan gelombang tinggi akibat embusan angin yang cukup kencang,” katanya.

Sejak Senin (21/4) sampai Rabu (23/4), kawasan Kota Bandung dan sekitarnya dilanda hujan dengan intensitas curah cukup tinggi dan berlangsung tiap pagi hari. “Karakter hujan di Jawa Barat yang biasanya berlangsung sore menuju malam, karena terkena dampak badai Rosie, muncul di pagi hari,” ujarnya.

Menurut dia, potensi curah hujan tinggi ditandai dengan citra satelit yang memperlihatkan kawasan Jabar tertutup awan tebal. Dasarian pertama April, tercatat curah hujan di Kota Bandung mencapai 182 mm, dasarian kedua mencapai 96 mm, dan pada tiga hari terakhir mencapai 54 mm. Kejadian ikutan akibat timbulnya curah hujan tinggi adalah munculnya pergerakan tanah (longsor). Hal itu harus diwaspadai masyarakat, agar kejadian longsor tidak memakan korban jiwa.

Kecepatan angin di kawasan perairan mencapai 40-45 knot, sehingga memicu munculnya gelombang tinggi yang diperkirakan akan terjadi di kawasan pesisir selatan Jawa Barat. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 2 – 3 m sehingga membahayakan bagi perahu nelayan dan tongkang.

Badai Rosie termasuk siklon tropis yang biasa terjadi di atas lintang 80-100 LS. Saat ini masih terdeteksi berputar-putar secara tetap (stasioner) di atas perairan Samudera Hindia.
“Meski terjadi di dekat wilayah Jabar, namun jejak badai tersebut diperkirakan menjauh menuju selatan belahan bumi,” ungkapnya.

Badai Durga
Selain badai Rosie, badai Durga juga terdeteksi pada 23 April 2008 pukul 7.00 WIB di sebelah selatan barat daya Bengkulu. Badai Durga diprediksi ikut memengaruhi tinggi gelombang di perairan laut selatan Jawa Barat hingga mencapai 3 m.

Hendri menyatakan, pemantauan badai siklon di perairan laut wilayah Indonesia sudah dapat dilakukan sendiri oleh BMG melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC). “World Meteorological Organization (WMO) telah memberi kewenangan kepada Indonesia untuk memantau kejadian badai siklon yang terjadi di kawasan Indonesia. Biasanya, kami mendapat informasi kiriman dari Australia atau Jepang.
Dengan teknologi yang dimiliki, BMG sudah mampu memantau siklon tropis yang terjadi, sehingga dapat membantu pemerintah melakukan antisipasi dampak cuaca ekstrem,” ungkapnya.

Bahkan, ahli meteorologi BMG dapat memberikan nama terhadap badai yang ditemukannya, seperti badai Rosie. “Nama badai diambil dari orang yang pertama mendeteksi kejadian badai tersebut,” ujarnya.

Selain itu, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tsunami, BMG membangun 150 alat pemantau Tsunami Warning System (TWS) di seluruh perairan Indonesia. “Projek kerapatan stasiun diharapkan selesai tahun 2009 dengan 180 seismograf dan sejumlah alat pendukung lainnya, agar potensi tsunami dapat dideteksi lebih cepat dan dapat diambil langkah antisipasinya,” tandasnya. (A-158)***

Sumber: Pikiran Rakyat
Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s