Catatan untuk Kemenangan Hade

Kamis, 24 April 2008
Opini
Oleh Y. Herman Ibrahim

Tidak ada alasan untuk tidak memberi dukungan pada pasangan Hade. Kedua orang tersebut muda dan relatif bersih. Tidak ada kisah apa pun tentang keduanya yang negatif. Tentu saja mereka bebas KKN jika ukurannya karena mereka belum pernah duduk di level eksekutif.

Faktanya, kendati bersih, tidak terkait dengan isu-isu miring, keduanya adalah pejabat negara yang duduk di lembaga legislatif, institusi negara yang sarat dengan suap dan isu-isu korupsi. Keduanya bukanlah orang yang berada di luar sistem.
Mereka bagian dari sistem dan terlibat aktif dalam sistem itu. Ini harus dijelaskan karena ada juga sekelompok orang yang terpaksa berada dalam sistem tapi tidak pernah mampu memengaruhi apalagi mengubah sistem.

Banyak komentar tentang keberhasilan pasangan Hade. Saya menerima SMS dari Rektor Unpas Didi Turmudzi, yang menegaskan bahwa kemenangan Hade menunjukkan bahwa rakyat sedang memasuki negara ini lewat pilihan-pilihannya sendiri. Menurut dia, (kemenangan Hade) adalah antitesis terhadap segala yang berlangsung konyol selama ini terutama di era Orde Baru.

Saya ingin menggaris bawahi antitesis atas “segala yang berlangsung konyol” sebagai sebuah sistem. Kata-kata ini mengisyaratkan seakan-akan sistem akan berubah tatkala anak muda mengambil alih kepemimpinan dan keburukan sistem selalu terkait dengan generasi tua. Kita semua maklum, Orba yang dipahami sebagai kepemimpinan militer-birokrat telah dikoreksi lewat reformasi.

Akan tetapi, Orde Baru sebagai sistem kekuasaan yang korup sebenarnya masih berlanjut dengan cara dan pelaku yang berbeda. Perubahan terjadi pada pelaku, tetapi tidak pada perilaku. Korupsi bahkan dijalankan secara berjamaah, meluas, dan bahkan semakin ganas. Korupsi bahkan menjadi sesuatu yang sangat biasa. Dijadikan tersangka sepertinya bukan aib yang memalukan. Pelaku korupsi yang diseret ke pengadilan senantiasa tampil dengan senyum bahkan melambaikan tangan layaknya seorang pahlawan.

Pasangan Hade
Dalam diskusi yang saya baca, pasangan Hade menawarkan program memotong rantai kemiskinan dengan cara meningkatkan pendidikan. Pasangan ini akan berikhtiar di tengah segala keterbatasan anggaran untuk mencapai angka 20% APBD bagi pendidikan. Tentu saja rencana ini menarik dan harus memperoleh respons positif dari masyarakat luas. Pendidikan dijanjikan gratis sampai level tertentu.

Janji pendidikan gratis selama kampanye lantas sedikit berubah setelah keduanya diperkirakan memenangkan pilgub. Janjinya ditambahi, “…pendidikan gratis khususnya untuk orang miskin atau paling tidak semurah mungkin.” Ini menunjukkan adanya keraguan pasangan Hade untuk dapat merealisasikan janji gratis tersebut.

Segera tampak bahwa mereka menyadari, kemiskinan tidak mungkin diatasi secara instan lewat program pendidikan. Investasi sumber daya manusia adalah investasi jangka panjang yang hasilnya hanya bisa dirasakan paling tidak 15 tahun ke depan. Sementara itu, perut tidak bisa menunggu. Kemiskinan akan terus meningkat sebagai imbas dari resesi dunia yang memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Tentu saja hal ini tidak boleh mengendorkan semangat Hade dan tidak boleh mengurangi dukungan masyarakat Jabar pada niat baiknya. Kepercayaan harus diberikan tetapi pada saat yang sama Hade harus benar-benar terbuka untuk bisa diakses oleh masyarakat bahwa dalam menjalankan pemerintahannya mereka akan menghadapi berbagai kendala.

Kendala pertama adalah sistem nasional yang tidak pernah berpihak kepada rakyat kecil. Semua orang yang sedikit mengenyam pendidikan pasti tahu bahwa ekonomi politik yang dijalankan negara sampai saat ini hanyalah bagian dari mesin kapitalisme global. Islam memandang bahkan di balik demokrasi sebenarnya bersembunyi ideologi neo-liberal yang lebih jahat dari kapitalisme itu sendiri. Gubernur sebagai kepanjangan pemerintah pusat tidak mungkin berbeda atau melawan kebijakan yang patuh terhadap dominasi kekuatan global.

Kendala kedua adalah birokrasi yang sampai hari ini tidak tertata secara efisien. Birokrasi adalah kekuatan politik yang memiliki tujuannya sendiri. Birokrasi hanya bisa dikendalikan dengan kompromi. Janji ihwal reformasi birokrasi akan sulit dilakukan kecuali birokrasi itu dibubarkan dan diganti dengan yang baru. Akan tetapi, itu tidak mungkin dilakukan.

Idealisasi yang acapkali dilontarkan dalam kampanye Hade tentang reformasi birokrasi akan mendapat tantangan keras. Birokrasi tidaklah berdiri sendiri yang direpresentasikan oleh sosok satu-dua pejabat. Birokrasi adalah jaringan yang berurat-berakar lintas eselon dan lintas kepangkatan. Struktur birokrasi tidak bisa diganti oleh political appointee yang sejalan dengan kehendak pejabat politik di atasnya.

Kendala ketiga adalah DPRD Jabar yang didominasi oleh partai Golkar dan PDIP paling tidak sampai habis periode 2004-2009. Tekanan wakil rakyat ini akan berkurang jika PKS menang Pemilu 2009 dan menempati mayoritas keanggotaan DPRD Jabar. Jika kita percaya bahwa preferensi pilgub selalu berbeda dengan preferensi pemilu legislatif, sulit atau tidak mudah bagi PKS untuk menjungkirbalikkan tradisi kemenangan partai besar, khususnya Golkar di Jawa Barat.

Asumsinya adalah, sekali pun PKS akan terdongkrak dengan kemenangan yang lebih besar daripada pemilu sebelumnya, tetap tidak akan mengalahkan koalisi Golkar-PDIP di parlemen. Jika asumsi ini benar, Gubernur Jabar harus terus menerus melakukan kompromi dengan DPRD dan ini sangat mengganggu serta memperlambat proses pengambilan keputusan.
Pada tingkat tertentu, keputusan yang diambil bahkan bisa berbeda dengan niat awal serta janji kampanye.

Tua-muda
Masyarakat Jabar telah menjatuhkan pilihannya kepada pasangan muda. Isu tua muda ini sangatlah tidak adil. Usia muda dan tua hanyalah rentang waktu dan pengalaman hidup. Korupsi bukanlah soal usia, tetapi soal moral dan sistem yang percaya dengan hukum yang dibuat oleh manusia.

Saya melihat syariat Islam sebagai alternatif. Pilgub Jabar yang memenangkan pasangan muda akhirnya tidak lebih dari sindrom Teletubbies, kesadaran palsu bahwa kebaikan, kesucian berkolerasi dengan usia tua dan muda. Wallahualam.***

Penulis, pengamat politik.

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s