Gerakan Kafe Literasi

Kamis, 24 April 2008
Kampus/Literasi

Apa jadinya jika membaca dan cita rasa makanan didapatkan dalam satu paket? Pasti menyenangkan, sembari membaca novel favorit, mulut kita juga mencecap kenikmatan secangkir kopi hangat. Semua itu hanya bisa didapatkan jika buku dan makanan bersatu dalam kafe perpustakaan.

Kafe perpustakaan bisa dibilang merupakan gerakan kafe literasi. Gerakan kafe literasi ini sejatinya bukan gerakan baru. Pada abad 16-17, kafe di Eropa menjadi ujung tombak pertukaran informasi. Di ruang-ruang kafe itulah, kebudayaan lisan Eropa berkembang.

Di masa itu, kafe adalah sebuah inovasi baru. Sebelum dikenal kafe, kedai minuman dan tempat pemandian umumlah yang menjadi pusat pertukaran informasi sekaligus pusat komunikasi lisan. Tempat seperti itu menawarkan berbagai barang konsumsi sekaligus bermacam topik diskusi. Istambul, Turki, sangat terkenal karena jumlah kafenya yang mencapai 600-an buah. Karena menjamurnya kafe, para penutur kisah pun melakukan pertunjukan di Istambul. Dari sanalah topik diskusi berkembang luas. Di zaman sekarang, fenomena itu bisa disebut “obrolan warung kopi”.

Diskusi tentang persoalan ilmiah bisa didengar di kedai kopi Child, Grecian, atau Garraway. Di sana, orang berbondong-bondong datang mendengarkan ceramah dari ilmuwan kelas dunia, Sir Issac Newton (1642-1727). Topik asuransi lebih sering didiskusikan di Llyold`s, kafe yang tenar pada akhir abad ke-17.

Sementara itu, para seniman lebih sering menyambangi kedai kopi Slaughter. Orang yang ingin mendiskusikan agama lebih memilih Cafe de Maugis di Prancis. Procope`s yang berdiri pada 1689 juga menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan masa pencerahan, termasuk Denis Diderot (Briggs dan Burke, 2006).

“Obrolan warung kopi” abad pertengahan di Eropa tidak bisa dianggap remeh. Diskusi di kafe atau kedai kopi itu bahkan bisa memengaruhi perekonomian. Desas-desus yang disebarkan ketika membahas sebuah topik bahkan bisa menyebabkan naik atau turunnya harga komoditas. Lebih dari itu, diskusi di kafe mendorong berkembangnya komunitas yang peduli akan perkembangan budaya dan pengetahuan. Ujungnya, komunitas itu malah menerbitkan aneka macam jurnal, seperti Il Cafe di Milan dan The Curious Coffeehouse at Venice di Leipzig.

Gerakan kafe literasi di Eropa abad 16-17 setidaknya menyadarkan kita bahwa kafe yang semata-mata tempat makan juga bisa menjadi lahan menggali pengetahuan. Gambaran di Eropa tersebut bukan tidak mungkin bisa dikembangkan di Bandung yang memiliki ratusan kafe. Dimulai dari kafe perpustakaan, gerakan kafe literasi bisa dimulai di Bandung.

Bandung adalah tempat potensial untuk mendukung gerakan kafe literasi. Selain banyaknya kafe, berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta juga tumbuh subur di Bandung. Jika gerakan kafe literasi terealisasi di Bandung, gerakan masyarakat ini akan dengan mudah menyebar ke daerah lain.

Tren kafe perpustakaan di Bandung akan menambah brand tersendiri bagi Kota Bandung setelah luas dikenal sebagai kota wisata belanja dan kota wisata kuliner. Dengan gerakan kafe literasi, Bandung akan menambah gelar kota wisata intelektual.

Pada akhirnya, Bandung bisa menjadi kebebasan mutlak pengunjung untuk memilih, membaca sambil bersantap atau bersantap sembari membaca. Keduanya tentu memiliki keasyikan tersendiri. Dan menjadi kebebasan para pelaku bisnis pula untuk mendukung gerakan kafe literasi dari Kota Kembang. Yang pasti, hanya dukungan dari semua pihak yang akan mewujudkan mimpi kafe literasi dari Parijs van Java. (Ika Rahma H., mahasiswa jurnalistik Fikom Unpad)***

Sumber: Pikiran Rakyat

One response to “Gerakan Kafe Literasi

  1. “Bandung akan menambah gelar kota wisata intelektual”

    gelar yang bagus🙂

    potensi intelektual anak muda bandung memang harus didekati. kafe literasi ini mudah2an jadi solusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s