Ironi Dunia Pendidikan Kita

Kamis, 24 April 2008
Pendidikan

TIDAK dapat dimungkiri jika pelaksanaan Ujian Nasional, selalu menjadi sorotan setiap tahunnya. Bahkan, UN seakan menjadi ajang pertarungan gengsi antardaerah. Tidak ada daerah yang ingin angka kelulusan siswanya minim. Kepala daerah, kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua berlomba agar siswanya dinyatakan lulus UN 100 persen.

Keinginan semacam ini tentunya positif. Sayangnya, target lulus 100 persen tidak dibarengi dengan upaya positif. Tidak sedikit pelanggaran terjadi di setiap pelaksanaan UN. Kebocoran soal yang terjadi di sejumlah daerah, peredaran pesan singkat (short message service) kunci jawaban di kalangan pelajar, sampai pada oknum guru yang memberikan kunci jawaban kepada siswanya, ketika ujian berlangsung yang disebut dengan tim sukses UN. Kesemuanya itu bertujuan agar siswa terhindar dari kata “tidak lulus”.

Akibatnya, siswa justru tidak terpacu untuk belajar ketika ujian datang. Beberapa di antaranya bahkan hanya menunggu datangnya kunci jawaban, karena merasa tidak percaya diri dengan jawaban sendiri.

Sebut saja Adi. Siswa salah seorang sekolah swasta di Bandung ini, mengaku mendapat kunci jawaban semua soal UN dari salah seorang guru di sekolahnya. Sebelum ujian berlangsung, sang guru sudah terlebih dahulu mengerjakan soal dan kemudian memebrikan kunci jawaban kepada para siswa.

“Iya salah seorang dari kita dipanggil, terus dikasih kunci jawaban, untuk disebarain ke teman-teman yang lain juga,” katanya.

Meski sudah mempersiapkan diri dengan belajar dan mengikuti berbagai pengayaan, namun Adi mengaku tidak percaya diri jika harus menjawab sendiri. Terlebih, dia mengetahui secara persis jika jawaban yang beredar tersebut berasal dari gurunya.

“Kalau jawab sendiri nggak PD. Takut salah dan lebih tenang juga kalau jawabannya sama dengan teman-teman yang lain,” ujarnya.

Siswa lainnya Angga, mengaku kunci jawaban yang dia terima dijadikan bahan perbandingan. Kalau setelah dicoba dan ternyata jawabannya sama, maka dia akan menyalin semua jawabannya tanpa harus melihat soalnya lagi. “Kerjakan dulu beberapa soal, kalau cocok diikuti. Tapi, kalau tahu jawabannya dari guru ya ikuti saja semuanya. Pasti benar kan,” ujarnya.

Proses belajar selama tiga tahun akhirnya sia-sia, karena siswa hanya mengandalkan kiriman jawaban. Kita tidak bisa menutup mata, kalau hal ini memang terjadi di lingkungan pendidikan.

Ada yang mengatakan hal ini terjadi, karena guru tak ingin siswanya tidak lulus. Bahkan kepala sekolah, kepala dinas, atau kepala daerah tidak ingin mendapat malu, karena angka ketidaklulusan siswanya tinggi.

Namun, apakah cara seperti ini mampu menciptakan tujuan akhir peningkatan mutu pendidikan di Indonesia? Bukankah itu semu jika hasil maksimal yang dicapai ternyata dari pengatrolan nilai yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Mentalitas menerabas, salah satu ironi dari dunia pendidikan kita! (Nuryani/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s