Kampung Asia Afrika di Jabar

Kamis, 24 April 2008
Luar Negeri

PADA 22 April 2008 tepat sudah 53 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) dirayakan di tanah air. Beberapa gagasan muncul ke permukaan untuk lebih menguatkan eksistensi KAA ini termasuk di dalamnya kemungkinan untuk memperkokoh semangat KAA bagi pembangunan Jawa Barat melalui pembangunan kerja sama luar negeri dengan Asia Afrika termasuk di dalamnya rencana pembentukan Kampung Asia Afrika.

Adanya keinginan kuat dari Jawa Barat untuk lebih mengintensifkan kerja sama luar negeri dengan negara-negara Asia Afrika melalui pembentukan Kampung Asia Afrika (Asian African Village) patut mendapatkan dukungan semua pihak. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena sebelumnya Jawa Barat sudah memiliki kerja sama luar negeri dengan beberapa negara lain, misalnya Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Secara umum dan berpijak pada hasil KTT KAA tahun 2005 lalu paling tidak manfaat KAA bagi Jawa Barat mengarah pada upaya-upaya yang konstruktif dan strategis seperti dapat meningkatkan citra Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, di mata dunia internasional, membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan Asia dan Afrika terutama di dua bidang kerja sama utama (ekonomi dan budaya). memberikan wahana untuk exchange of information and sharing of best practices and experiences yang meliputi government to government (local governments) dan Business to Business, dan bahkan kerja sama pada tataran akar rumput (people to people contact), misalnya saja dewasa ini telah berkembang Asian African Development University Networks (AADUN), Asian African News Network (AAN2), program pertukaran, pendidikan dan pertukaran budaya, serta capacity building programs (perdagangan, industri, investasi, keuangan, turisme, teknologi komunikasi dan informasi, energi, kesehatan, transportasi, pertanian, sumber daya air, dan perikanan.

Konsep pembangunan Kampung Asia Afrika yang diprakarsai Pemerintah Daerah Jawa Barat diharapkan akan mempererat ikatan emosional dari 107 negara Asia Afrika yang sudah terjalin dan terbangun sejak Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Paling tidak terdapat dua bentuk konsep Kampung Asia Afrika, yaitu Konsep Kampung Asia Afrika (Asian African Village) dan Konsep Kampung Maya Asia Afrika (Asian African Virtual Village).

Implikasi kebijakan
Keinginan untuk membangun Kampung Asia Afrika sebenarnya bukanlah masalah yang sederhana. Hal itu disebabkan belum jelasnya rencana program Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkenaan dengan apa tujuan dan manfaat yang dapat diperoleh Jawa Barat dengan adanya Kampung Asia Afrika? Sudah siapkah Jawa Barat membangun Kampung Asia Afrika? Atau sudah mampukah Jawa Barat melakukan kerja sama luar negeri dalam skala besar meliputi Asia dan Afrika?

Terdapat beberapa implikasi kebijakan yang kiranya perlu diambil Jawa Barat dalam upaya membangun dan/atau mengembangkan kerja sama dengan luar negeri dalam skala besar meliputi Asia dan Afrika. Pertama, pembangunan pangkalan data yang komprehensif dan berstandar internasional tentang potensi-potensi lokal apa saja yang dimiliki Jawa Barat. Pembangunan pangkalan data potensi lokal/daerah Jawa Barat mutlak diperlukan terutama sebagai alat kontrol bagi Jawa Barat apabila suatu ketika menghadapi perselisihan dalam proses pembangunan dan pelaksanaan kegiatan Kampung Asia Afrika.

Dewasa ini baru dua negara yang mempunyai pangkalan data yang lengkap dan komprehensif yakni India dan Brasil. Padahal, keberadaan pangkalan data ini dapat dijadikan sebagai suatu amunisi apabila negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, berselisih dengan negara-negara maju.

Kedua, perlu dikaji kemungkinan adanya pembangunan struktur baru di tingkat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Mengkaji begitu luas dan kompleksnya peluang dan tantangan yang dihadapi di dalam penjajakan pembentukan Kampung Asia Afrika, tampaknya sudah saatnya para elite pemerintahan di tingkat Provinsi Jawa Barat membuka wacana pembentukan struktur baru di Sekretariat Pemerintah Daerah yakni Biro Kerja Sama Luar Negeri.

Biro Kerja Sama Luar Negeri ini mungkin paling tidak terdiri atas empat bagian yaitu Bagian Kerja Sama Bilateral, Bagian Kerja Sama Regional dan Multilateral, Bagian Administrasi Kerja Sama, dan Bagian Humas dan Antarlembaga. Diharapkan, keempat bagian ini dapat terintegrasi secara sinergis sehingga menjadi aparat pemerintah terdepan dalam upaya pemberdayaan potensi daerah dalam membangun kerja sama dengan luar negeri sekaligus peningkatan kualitas pelayanan publik.

Implikasi-implikasi kebijakan yang termaktub di atas perlu kiranya secara saksama dikaji seluruh stakeholder Jawa Barat apabila memang roh semangat Konferensi Asia Afrika ini ingin terus dilanggengkan dan kini tampaknya sudah saatnya untuk lebih dibumikan.***

Yanyan Mochamad Yani,
Dosen Jurusan Hubungan Internasional dan Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s