Memaknai Dasasila Bandung Melalui Budaya

Kamis, 24 April 2008
Utama

PEMUKULAN gong perdamaian Asia Afrika oleh Gubernur Jawa Barat H. Danny Setiawan, dilanjutkan dengan pertunjukan oratorium “Spirit Dasasila Bandung”, menandai pembukaan “Asia Africa Art & Culture Festival 2008” di depan Gedung Merdeka Jln. Asia Afrika, Bandung, Rabu (23/4).

Festival seni dan budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar itu akan berlangsung Kamis (24/4) di Gedung Merdeka. Tercatat, 11 negara akan menampilkan keseniannya masing-masing. Ke-11 negara itu adalah Indonesia (Dodong Percussion), India (Antaradhawani), Mesir (NIIE Music Singing), Cina, Jepang (Sanshin & Eisa Art Performance), Filipina, Myanmar, Iran, Nigeria, Thailand, dan Korea Selatan.

Pertunjukan oratorium yang digarap sejumlah alumni STSI Bandung bekerja sama dengan sejumlah sanggar tari itu mengangkat tema pentingnya isi “Dasasila Bandung” di tengah situasi sosial politik yang memanas dewasa ini, baik di kawasan Asia Afrika maupun di kawasan benua lainnya.

Pentingnya makna perdamaian tersebut diungkap lewat sejumlah karya tari, yang tidak hanya bersumber dari karya tari tradisional Sunda, tetapi juga karya tari tradisional India, Melayu, dan bahkan Cina.

Acara pembukaan dilanjutkan dengan arak-arakan pertunjukan seni helaran, diselingi pawai bendera negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang dibawakan oleh anak-anak SD, SMP, dan SMA di Kota Bandung.

Seni tradisional Sunda yang tampil pada acara helaran itu antara lain pertunjukan egrang/jajangkungan (Karawang), sisingaan (Subang), kuda renggong (Sumedang), genjring buroq (Cirebon), dan bebegig (Ciamis). Penampilan seni helaraan berlangsung amat sederhana, tanpa kejutan. Imperialisme ekonomi Dalam sambutannya, Gubernur Jabar Danny Setiawan mengatakan, Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 mempunyai arti penting bagi negara-negara peserta yang ingin merdeka dan memerdekakan diri dari berbagai bentuk penjajahan yang melanggar hak asasi manusia (HAM).

“Kita semua menyadari, Konferensi Asia Afrika dan Spirit Bandung yang terkenal dengan Dasasila Bandung, telah menjadi inspirasi bagi banyak negara di kawasan Asia dan Afrika untuk merdeka, maju, dan setara dengan bangsa lain di dunia. Juga telah menjadi penentu sikap bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang antiimperialisme dan kolonialisme dalam pengertian yang seluas-luasnya, termasuk persoalan ekonomi di dalamnya,” ujar Danny.

Hadir dalam acara pembukan itu para tamu undangan dari sejumlah negara, termasuk Duta Besar Mesir untuk Indonesia Prof. Dr. Mohammed As Sayyid Taha. Danny Setiawan menambahkan, momentum politik tersebut diharapkan menjadi kekuatan tersendiri bagi kebangkitan Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumnya, dalam upaya akselerasi pencapaian visi dan misi Jawa Barat.

“Kesenian sebagai bagian dari kebudayaan, di samping harus dapat berkembang juga harus dapat berdialektika dengan perkembangan zaman. Sebab, jika kesenian tidak dapat merespons perkembangan zaman, niscaya akan kehilangan eksistensinya,” ujar Danny.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Jabar H. Budhyana, M.Si. mengatakan, penyelenggaraan “Asia Africa Art & Culture Festival 2008” selain untuk memperingati hari jadi ke-53 Konferensi Asia Afrika, juga untuk mempererat tali silaturahmi antarbangsa lewat pertunjukan kesenian. “Di samping itu, tentu saja untuk meningkatkan arus wisatawan asing dan domestik berkunjung ke Jawa Barat. Semoga kebudayaan dan pariwisata dalam konteks yang demikian itu bisa memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan devisa kita,” ujar Budhyana.

Revitalisasi Museum KAA Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Departemen Luar Negeri, Andri Hadi, menilai penyelenggaraan “Asia Africa Art & Culture Festival 2008” selain punya arti penting mengingat sejarah masa lalu, juga bisa menumbuhkan hubungan diplomatik yang lebih erat lagi di antara negara-negara di kawasan Asia dan Afrika.

“Dalam program kerja yang telah dirancang, Departemen Luar Negeri saat ini berencana melakukan revitalisasi Museum Asia Afrika bertaraf internasional, yang dimulai pada tahun 2008 hingga tahun 2012 mendatang. Di Museum Asia Afrika, kelak ada kafe. Selain itu, ada pula pusat edukasi, perpustakaan yang lebih lengkap. Semua ini dilakukan agar pengenalan masyarakat terhadap Konferensi Asia Afrika bisa lebih maksimal,” ujar Andri Hadi.

(Soni Farid Maulana/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s