Meminum Bakteri, Diganjar Hadiah Nobel

Kamis, 24 April 2008
Cakrawala/Eureka!

Barry James Marshall (1951-Sekarang)

JIKA ada peneliti yang “nekat” menggunakan tubuhnya sendiri untuk membuktikan keyakinan dan hipotesisnya, ya Prof. Barry J. Marshall orangnya.

Mungkin, dialah satu-satunya peneliti di dunia yang mau meminum bakteri untuk membuktikan bahwa bakteri bisa hidup dalam perut manusia. Kenekatannya berbuah penemuan dan penemuannya mampu mengubah kepercayaan kalangan medis yang sebelumnya berkeyakinan bakteri tidak dapat hidup dalam perut manusia yang memiliki kandungan asam tinggi (pH sekitar 2).

Kisah Marshall berawal dari pertemuannya dengan Dr. J. Robin Warren dalam sebuah pelatihan di Royal Perth Hospital, Australia, pada 1975. Mereka kemudian mempelajari keberadaan bakteri yang terkait dengan gastritis. Setahun kemudian mereka mengembangkan hipotesis bahwa bakteri dapat menjadi penyebab kanker perut dan radang lambung.

Pada 1984, untuk membuktikan hipotesisnya, Marshall meminum sendiri cawan petri berisi bakteri Helicobacter pylori dan kemudian segera terjangkit gastritis, dengan gejala rasa tidak nyaman di perut, mual, muntah, dan bau mulut. Dua minggu setelah infeksi, hasil pemeriksaan perut Marshall tak menunjukkan adanya bakteri. Bagaimanapun, karena dipaksa istrinya, Marshall kemudian meminum antibiotik segera setelah itu sehingga tak dapat mengecek ulang hasil negatif dari pemeriksaan tersebut. Percobaan ini dipublikasikan pada 1985 di Medical Journal of Australia. Penelitian ini akhirnya berujung pada penemuan kombinasi obat-obatan yang dapat membunuh bakteri Helicobacter pylori dan menyingkirkan luka lambung secara permanen.

Helicobacter pylori merupakan bakteri berbentuk spiral yang sensitif terhadap pH. Bakteri ini termasuk golongan gram negatif, dan bersifat mikroaerofilik yang hidup di antara lapisan mukus dan epitel permukaan di dalam lambung.

Tubuhnya yang berbentuk spiral dan keberadaan flagella membuat Helicobacter pylori dapat berpindah dari lumen lambung (pH rendah) ke lapisan mukus (pH netral). Helicobacter pylori memproduksi sejumlah besar enzim urease yang dapat menguraikan urea di dalam cairan lambung menjadi amonia dan karbondioksida. Amonia yang dihasilkan dapat melindungi Helicobacter pylori dari pengaruh asam. Helicobacter pylori memproduksi protein penghambat asam yang membuatnya mampu beradaptasi pada lingkungan pH rendah dalam lambung.

International Agency for Research into Cancer (IARC) mengklasifikasikan Helicobacter pylori sebagai “Class-I-Carcinogen” yang termasuk dalam kategori yang sama dengan bahaya merokok terhadap kanker paru-paru dan saluran pernafasan.

Gastritis merupakan kondisi dasar yang pada akhirnya dapat menyebabkan luka dan keluhan pencernaan lainnya, bahkan dapat menyebabkan terjadinya kanker lambung. Penyakit ini diderita oleh hampir 50 persen penduduk dunia. Hipotesis yang menyatakan bahwa H. pylori adalah faktor penyebab kanker perut pada akhirnya diterima WHO tahun 1994.

Berbuah Nobel
Marshall menerima sejumlah penghargaan dari lembaga bergengsi di bidang kedokteran, baik dari dalam negeri (Australia) maupun dari internasional. Di antaranya ia memperoleh Warren Alpert Prize pada 1994, Australian Medical Association Award (1995), Albert Lasker Award for Clinical Medical Research (1995), Gairdner Foundation International Award (1996), The Paul Ehrlich Prize (1997), Benjamin Franklin Medal for Life Sciences (1999), The Keio Medical Science Prize (2002), dan The Australian Centenary Medal (2003). Puncaknya adalah anugerah Nobel pada 2005.

Deretan penghargaan ini menunjukkan komitmen dan kompetensinya pada penelitian kesehatan. Pada Maret 2008, Marshall berkunjung ke Indonesia, bertemu dengan Presiden SBY dan sempat memberikan kuliah umum di lembaga penelitian Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Lippo Karawaci, yang dihadiri oleh hampir sekitar 2.000 orang yang terdiri atas kalangan mahasiswa dan ilmuwan bidang kedokteran.

Barry J. Marshall yang lahir pada 30 September 1951 di Kalgoorlie, Australia Barat, pada usia tujuh tahun pindah ke Perth. Ia mendapat gelar sarjana kedokteran dari Universitas of Western Australia (UWA) pada 1975. Ia menikah dengan Adrienne pada 1972. Saat ini Barry J. Marshall menjadi Kepala Penelitian Senior di sekolah biomedik, biomolekul, dan konsultan ilmu kimia Gastroenterologi UWA.

Fajar Ramadhitya Putera
Alumnus Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s