Menjalankan Negara dengan Kontrak Sosial

Kamis, 24 April 2008
Kampus/Resensi Buku

Judul Buku: Du Contract Social (Perjanjian Sosial)
Penulis: Jean Jacques Rousseau
Penerbit: Visimedia
Tahun Cetak: Agustus 2007
Tebal: 260 Halaman


NEGARA berbeda dengan bangsa. Negara ditandai adanya pemerintahan, presiden dan rakyat, ada peraturan dan undang-undang. Sedangkan bangsa tidak memerlukan itu karena bangsa merupakan sekumpulan besar manusia yang memiliki kesamaan dalam identitas, ras, budaya, dan sejarah.

Maka, bangsa Indonesia adalah kita semua yang sekarang berada dalam satu wilayah Indonesia yang mempunyai ras dan sejarah yang sama. Dalam analoginya, bangsa bisa diibaratkan rombongan yang hendak mencapai satu tujuan dan negara adalah kendaraan yang akan dan dibuat untuk membawa rombongan tersebut menuju tujuannya, sedangkan pemerintah adalah pengemudinya. Lalu yang dimaksud dengan kontrak sosial adalah tujuan itu sendiri.

Dalam situasi dan kondisi lingkungan kita saat ini, seiring dengan semakin linglungnya aparatur pemerintah terhadap tugasnya sebagai pengelola negara dan masyarakat yang semakin tidak mengerti akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, apakah kita harus selalu berharap akan kehidupan yang lebih baik dari negara? Atau hanya menuntutkah? Maka, ada baiknya pemikiran Rousseau dalam buku ini dijadikan salah satu refensi ataupun bahan kajian terhadap situasi tersebut.

Jean Jacques Rousseau adalah seorang pemikir dari Prancis berkebangsaan Swiss. Dalam buku The 100 A Rankin of the Most Influental Person in History (100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah), Michael H. Hart menempatkan J.J. Rousseau pada urutan ke-78. Buku berjudul Du Contract Social (Perjanjian Sosial) ini merupakan salah satu dari karya penting pria yang lahir di Jenewa tahun 1712 ini.

Menurut Rousseau, keluarga adalah lelulur dari semua kelompok masyarakat dan merupakan satu-satunya kelompok sosial yang paling alami. Rousseau menjabarkan, dalam keluarga, seorang anak akan tetap bergantung pada ayahnya selama anak itu membutuhkan perlindungan. Namun seiring waktu, sang anak akan melepaskan ketergantungannya pada sosok ayah. Begitu pun sebaliknya, sang ayah akan telepas dari kewajibannya menjaga dan melindungi anaknya. Selanjutnya hubungan keduanya hanyalah berdasarkan kesepakatan atau kontrak. Ada aturan yang disepakati kedua pihak.

Dari kasus di atas, Rousseau menyebut bahwa keluarga merupakan model pertama bagi masyarakat politik. Seorang ayah diibaratkan sebagai penguasa dan anak-anaknya diibaratkan masyarakatnya. Hubungan yang tercipta adalah dilandasi dari kebutuhan atau kepentingan. Lebih jauh, Rousseau mengatakan bahwa walaupun memiliki model yang sama, namun ada perbedaan antara konsep keluarga dan pemerintahan sebagai sama-sama model masyarakat politik. Jika dalam keluarga, cinta seorang ayah menjadi balasan atas perlindungan yang diberikan terhadap anaknya dalam pemerintahan, kepuasan memerintah menggantikan cinta yang tidak dimiliki penguasa terhadap rakyatnya.

Rousseau dalam bagian pertama buku ini dengan tegas membedakan penggunaan istilah negara, pemerintahan, kekuasaan, penduduk, warga negara, dan masyarakat. Negara menurut Rousseau adalah persekutuan yang bersifat pasif, sedangkan dalam kondisi aktifnya disebut pemerintahan. Dalam perbandingannya dengan kekuatan lain disebut kekuasaan. Sedangkan, mereka yang tergabung dalam kesatuan bernama negara itu disebut penduduk dan ketika penduduk dihubungkan dengan pemerintahan disebut warga negara sedangkan dihubungkan dengan hukum negara disebut masyarakat.

Pemerintahan yang menurut Rousseau didirikan atas keseluruhan individu yang membentuknya, tidak bisa memiliki kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan mereka yang membentuknya (rakyat). Pemerintahan dan negara adalah buah dari terciptanya kekompakan sosial, di mana setiap individu pembentuknya merasa memiliki kepentingan untuk menyatukan diri dalam pemenuhan kebutuhannya. Namun seiring waktu, tentu kepentingan atau disebut juga kehendak umum akan beragam bersamaan dengan semakin kompleksnya masyarakat, dan di sinilah kemudian fungsi pemerintah berperan yakni untuk memprioritaskan kehendak umum yang didahulukan pemenuhannya.

Pada hakikatnya, kontrak sosial sudah tercipta sejak awal sebelum negara atau pemerintahan berdiri dan dijalankan. Jika merujuk pada pemahaman ini, dalam kaitannya dengan Indonesia, kita bisa melihat sisi historis dari landasan dan latar belakang berdirinya negara ini, yang senyatanya bisa kita lihat pada pembukaan UUD ’45 alinea IV di mana diterangkan tujuan berdirinya NKRI. Di antaranya, (1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (2) Memajukan kesejahteraan umum; (3) Mencerdaskan kehidupan bangsa; (4) Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Merujuk pada kontrak sosial (perjanjian sosial) di atas adalah menjadi kewajiban pemerintah yang menjalankan negara untuk mengantarkan bangsa Indonesia mencapai keempat tujuan tersebut. Adapun jika senyatanya tujuan tersebut diabaikan atau bahkan dikhianati, pemerintah telah melanggar kontrak sosial dengan rakyat yang dipimpinnya.

Kajian Rousseau tentang bentuk pemerintahan dalam buku ini mengingatkan penulis pada kajian dalam banyak diskusi yang mempertanyakan apakah bentuk negara dan pemerintahan Indonesia saat ini sudah menjadi yang paling cocok untuk tetap dijalankan, karena menurut pandangan banyak pakar bahwa bentuk federasi atau ferederal seperti Amerika Serikat dengan negara bagiannya adalah yang cocok dipakai juga di Indonesia yang terdiri atas kepulauan. Apakah kemudian juga konsep otonomi daerah yang diberlakukan sejak 2002 sudah bisa menjawab solusi permasalahan bangsa, yakni pemerataan pembangunan?

Buku ini akan melengkapi wawasan kita juga para founding fathers bangsa ini sekarang dan untuk ke depannya dalam menjalankan dan memenuhi kontrak sosial yang sudah ditegaskan dalam UUD 45 dan juga kehendak umum lainnya. (Deni Andriana, mahasiswa Fikom Unisba, http://www.deniborin.multiply.com)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s