Berobat Hingga ke Negeri Seberang

Rabu, 30 April 2008
Gaya Hidup

KESEHATAN adalah nikmat terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Itulah sebabnya, untuk kesehatan, manusia bersedia melakukan apa saja. Bahkan, rela mengorbankan seluruh harta yang selama ini mereka cari dengan susah payah.

Banyak cara yang dilakukan orang untuk memulihkan kesehatannya. Upaya-upaya itu tentunya berbanding lurus dengan dana yang dimiliki. Bagi yang hidupnya pas-pasan umunya memilih pengobatan sederhana, dengan cara tradisional, obat-obat warung, atau datang ke puskesmas.

Sementara bagi golongan mampu, biaya tidaklah menjadi hambatan. Oleh karena itu, pengobatan jenis apa pun diupayakan, meski harus ke mancanegara.

Ada berbagai alasan mengapa orang Indonesia memilih berobat di luar negeri. Pada dasarnya mereka mencari kenyamanan dan rasa aman. Bukan hanya mempertimbangkan kecanggihan peralatan dan kepiawaian sumber daya manusianya, tetapi juga bagaimana pelayanan, sistem, serta prosedur pelayanan mereka dalam melakukan pengobatan. Hal lain yang juga penting adalah suasana tempat berobat (rumah sakit).

Seperti diakui Dian Syarief (42) yang sudah berberapa kali berobat ke luar negeri. Dian mengaku berobat ke luar negeri bukan untuk gaya-gayaan atau karena kelebihan uang, ataupun karena tidak percaya kepada keahlian paramedis di tanah air. Menurut dia, dari segi keahlian, dokter-dokter di Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan dokter luar negeri. Bahkan, beberapa rumah sakit di Indoensia pun sudah memiliki peralatan yang canggih. Namun, pertimbangannya lebih kepada sistem dan prosedur yang dimiliki negara lain yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi di tanah air.

“Apalagi pada pengobatan pertama, saya harus menjalani operasi besar berupa bedah kepala yang memiliki risiko tinggi. Waktu itu saya tidak tahu apa-apa, keluargaku lah yang memutuskan untuk membawaku ke Singapura. Ternyata memang penanganan mereka baik sekali,” ujar sarjana farmasi lulusan ITB yang sejak tahun 1999 diketahui menderita lupus.

Dian pun menjelaskan bukan hanya saat dioperasi, namun pelayanan paripurna pun ia terima pascaoperasi. Para dokter di luar negeri benar-benar memerhatikan kondisi pasien setelah operasi karena jika perawatannya kurang tepat atau kurang higienis dapat membahayakan pasien atau pasien bisa terkena infeksi. “Sampai-sampai ada perawat khusus yang mengajari saya bagaimana merawat luka pascaoperasi sehingga ketika saya pulang tahu cara yang benar untuk merawat luka bekas operasi itu,” ungkap wanita yang sudah belasan kali menjalani operasi di Singapura itu.

Dian juga menilai etos kerja dan pelayanan medis di luar negeri juga sangat baik. Para ahli tidak segan untuk bekerja sama dan membentuk tim jika kondisi pasien memerlukan pendapat dari beberapa bidang. Bahkan, dokternya lah yang wara-wiri ke sana kemari untuk bertanya dan berdiskusi tentang keadaan pasiennya kepada pakar di bidang lain. Sedangkan si pasien tinggal menerima kesimpulan diagnosa dari dokternya.

Saat akan dilakukan operasi pun, jika pasien dalam kedaan sadar, dokter akan menjelaskan apa yang akan dilakukannya terhadap pasien sampai si pasien mengerti benar apa yang akan terjadi pada dirinya. “Bahkan, yang menandatangani operasi bukan hanya keluarga tetapi pasien pun harus membubuhkan tanda tangannya sebagai persetujuan terhadap tindakan operasi yang akan dilakukan. Itu pun setelah dokter yakin si pasein tahu apa yang akan dialaminya,” ungkap pendiri Yayasan Syamsi Dhuha ini.

Satu lagi yang membuat Dian merasa nyaman berobat di luar negeri adalah para dokter yang sangat hati-hati dalam memberikan obat. Kalaupun diberikan, yang diresepkan adalah obat-obat bagus dengan efek samping yang minimal. Padahal, harga obat di luar negeri relatif lebih murah daripada harga obat-obatan di dalam negeri.

Diakui Dian, biaya perawatan di luar negeri terbilang mahal, tetapi sebanding dengan pelayanan dan rasa aman yang diterima pasien. Namun, jika sedikit jeli maka sebenarnya pasien bisa memilih rumah sakit milik pemerintah setempat yang biayanya relatif lebih murah dibandingkan dengan rumah sakit swasta. “Sistem dan prosedurnya pun tidak berbeda. Kondisi rumah sakit pemerintah di sana (luar negeri-red.) juda tidak berbeda dengan rumah sakit swasta, baik dari segi fisik, kebersihan, maupun lingkungannya,” katanya.

Kalaupun Dian pernah pindah rumah sakit dari Singapura ke Belanda, itu hanya untuk mencari second opinion karena ia ingin benar-benar yakin tentang kondisi penyakitnya.

Oleh karena pertimbangan-pertimbangan itu pula Dian pun membawa sang suami, Ir. Eko P. Pratomo yang sempat mengalami gangguan di bagian mata, untuk mendapat perawatan (diopersi) di Singapura. “Sebenarnya Mas Eko sudah pernah dirawat di Bandung dan Jakarta, tapi tak kunjung sembuh. Setelah mendapat perawatan di Singapura mata Mas Eko kini kembali normal,” ungkap Dian.

**

HAL senada dialami Wahono. Mata anaknya, Maria (4), juling sejak lahir. Kondisi itu sangat menghawatirkannya. Kelainan tersebut sangat mengganggu aktivitas dan tumbuh kembang Maria. “Putri saya sering jatuh tiba-tiba akibat kedua penglihatannya tidak sinkron,” ujar Wahono.

Di Indonesia, kata pebisnis di bidang keuangan ini, pakar mata juling yang dinilai bagus hanya ada dua orang. “Karena jumlahnya amat sedikit itu maka untuk membuat janji konsultasi saja sangat sulit. Sampai harus menunggu hingga satu bulan. Karenanya saya memilih membawa anak saya ke Singapura,” tuturnya.

Dalam memilih rumah sakit di Singapura pun tidak sembarangan. Ia terlebih dulu mencari infomasi dan rekomendasi dari beberapa kenalan sampai akhirnya ia memutuskan menyerahkan perawatan anaknya ke satu rumah sakit.

Upaya yang dilakukan Wahono tidak sia-sia karena setelah mendapat perawatan selama enam bulan, kini penglihatan Maria mulai membaik. Gadis cilik berambut keriting itu sudah amat jarang terjatuh. Kendati demikian, terapi masih terus dilakukan. Itu pun tidak selalu harus membawa Maria ke Singapura. “Cukup saya yang diberi petunjuk oleh dokter di sini. Petunjuk itu saya terapkan sendiri kepada Maria di Jakarta,” ujar Wahono yang ditemui “PR” di Singapore National Eye Centre (SNEC), 10 April lalu.

Kendati sakit bukanlah suatu kebahagiaan, berobat ke luar negeri tampaknya menjadi gengsi tersendiri bagi kalangan tertentu. Bukan saja menunjukkan status sosial, tetapi bisa juga mencirikan tingkat kepeduliannya terhadap penanganan kesehatan.

Kalaupun takdir menentukan lain, dan si pasien tak tertolong alias meninggal dunia , paling tidak ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Ceuk paribasa Sunda mah, teu panasaran. (Yeni EPA/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s