Engkoy, Nenek “Perkasa” Penambal Ban

Rabu, 30 April 2008
Utama

“BI Engkoy… Bi Engkoy, ada yang mau nambal ban!” teriak Deden, tetangga Engkoy, di Jln. Warung Sumedang, Desa/Kec. Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, Selasa (29/4).


Bi Engkoy yang dimaksud Deden adalah Ny. Engkoy Rokayah (60), seorang nenek yang bekerja sebagai penambal ban. Tidak lama kemudian, ibu tiga anak itu muncul di tempat tambal ban di halaman rumahnya.

Seorang kernet angkutan bak terbuka menunjuk ban mobil yang akan ditambal. “Ini Bi, minta ditambal bannya. Tidak tahu kenapa, bannya bocor,” kata si kernet.

Dua tangan Engkoy langsung meraih ban mobil yang bocor dari tangan kernet itu. Dalam hitungan menit, Engkoy telah membuka ban dalam. Setelah itu, dia memeriksanya.

“Wah, ini bocornya gede. Mau ditambal atau diganti saja?” tanya Engkoy.

Si kernet minta agar ban ditambal saja, karena untuk membeli ban dalam yang baru tidak ada uangnya.
Selama kurang lebih 10 menit, dia menyelesaikan penambalan ban dalam tersebut. Kemudian ban dalam tersebut dimasukkan kembali dan diberi angin (udara). Tuntas menyelesaikan pekerjaan tersebut, Engkoy mendapat upah Rp 6.000,00. “Nuhun,” katanya sambil mengusap cucuran keringat yang membasahi dahi dan pipinya.

Pekerjaan sebagai penambal ban sebenarnya sudah dilakoninya sejak tahun 1992. Namun, waktu itu dia hanya membantu suaminya, Ahmad Rosidin. Sejak suaminya meninggal dunia pada awal tahun 2005, akhirnya dia meneruskan usaha tersebut.

Semula, Engkoy sendiri ragu untuk meneruskan usaha tambal ban, mengingat usaha ini umumnya dilakukan kaum pria. Namun, dengan berbagai pertimbangan, Engkoy akhirnya berketetapan hati untuk menjalankan usaha tambal ban almarhum suaminya itu.

“Saya tidak punya sawah, padahal saya harus makan. Sementara tiga anak saya sudah berkeluarga semua dan tidak lagi tinggal bersama saya. Masing-masing punya tanggung jawab. Saya akhirnya memutuskan untuk menekuni usaha tambal ban untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yang penting halal,” katanya.

Bagi seorang perempuan, usaha tambal ban memang cukup berat. Sebab, harus mengeluarkan tenaga ekstra, terutama ketika mencopot ban dari mobil, kemudian mengeluarkan ban dalam, serta memasukkan dan memasangkan kembali ban ke mobil. Apalagi, jika yang harus dihadapinya adalah ban truk yang cukup besar dan sangat berat.

“Sesekali, saya minta tolong kepada kernet, untuk mencopot ban truk. Kadang saya tidak kuat, untuk mencopot ban truk yang masih terpasang,” ujarnya.

Engkoy merasa bersyukur karena setiap hari selalu ada yang memanfaatkan jasa tambal bannya, baik itu ban sepeda motor maupun ban mobil. Dari usahanya sebagai tukang tambal ban, setiap harinya Engkoy rata-rata mendapat uang Rp 20.000,00.

Untuk ongkos tambal ban sepeda motor, biasanya Engkoy memasang tarif Rp 4.000,00, sedangkan mobil antara Rp 5.000,00 hingga Rp 7.000,00. Kalau ada yang hanya minta tambah angin, Engkoy memasang tarif Rp 1.000,00.

“Tidak jarang ada juga yang memberi ongkos tambahan, sehingga dapur saya bisa terus ngebul,” katanya.

Pembicaraan dengan Engkoy akhirnya terputus, ketika ada dua pria yang mengendarai sepeda motor datang membawa ban mobil yang akan ditambal. “Wah, ini rezeki datang lagi. Maaf yah, saya tinggal,” ujarnya.

Sosok Engkoy bukan saja seorang nenek yang perkasa. Namun lebih dari itu, Engkoy juga menunjukkan kesungguhannya sebagai perempuan pekerja keras. (Undang Sudrajat/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s