Menjaga Mitos Musim Panen

Rabu, 30 April 2008
Pengantin Tebu

MATAHARI belum tinggi benar, masih bersinar malu-malu dan semburatnya tidak terlalu menyengat. Seorang ibu dari Cipejeuh Wetan Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon, sebut saja Ny. Eti, berteriak keras kepada sang anak, “Ike cepat berangkat. Jangan sampai kita terlambat melihat pengantin tebu. Cepat ke alun-alun.”


Teriakan ini nyatanya bentuk kesungguhan dan kekhawatiran tidak bisa menyaksikan prosesi pengantin tebu. Kenyataannya bukan hanya Ny. Eti yang melangkah tergesa dan meninggalkan segala aktivitas di rumah. Hampir seluruh penduduk di Sindanglaut dan desa lainnya turun ke jalan dan bergerak ke alun-alun, Senin (28/4).

Jalan desa yang sempit semakin tak tampak lantaran begitu banyaknya masyarakat keluar rumah. Mereka bergabung dan saling beradu untuk melihat di posisi depan.

Sementara itu, belasan petani yang sengaja berpakaian rapi dengan motif batik, berbaris tenang. Salah seorang petani menggenggam batang tebu yang tingginya mencapai tiga meter. Namun, tebu yang dipegang ternyata berhiaskan warna warni kertas menarik.

Nyatanya, tebu terhias inilah yang ditunggu kehadirannya oleh ribuan masyarakat. Mereka menyebutnya pengantin tebu. Sang mitos yang perkawinannya ditunggu-tunggu.

Prosesi ini merupakan rangkaian dari ritus yang dilakukan sebelumnya, saat tebu akan ditebang, para petani penggarap sudah melakukan selamatan di kebun tebu hulu Dayeuh Desa Sindanglaut, Kecamatan Lemahabang. Di kebun ini pulalah batang tebu dihias yang mengumpamakan pasangan laki-laki dan perempuan. Tentu saja, dengan sebuah ritus yang hanya mampu dilakukan oleh orang tertentu.

Setelah didandani layaknya pasangan pengantin laki-laki dan perempuan. Pasangan pengantin tebu ini diarak menuju Desa Leuwidingding, Desa Tuk Karang Suwung, Desa Lemahabang, dan sampai alun-alun di Kecamatan Lemahabang.

Seluruh rangkaian ini nyaris diikuti seluruh masyarakat yang tidak ingin kehilangan momen mengarak pengatin tebu. Arak-arakan makin ramai saat pengantin tebu sampai di alun-alun. Di sana, kerumuman masyarakat makin banyak dan bergabung dengan rombongan pendukung lain, termasuk hadirnya orang nomor satu di Kabupaten Cirebon–Bupati Cirebon Drs. H. Dedi Supardi, M.M., beserta istri Hj. Heviyana dan hampir seluruh pejabat di Kabupaten Cirebon.

Kalau ada pertanyaan iseng, pasangan pengantin mana yang iring-iringannya paling panjang. Jawabannya pasti pengantin tebu. Setidaknya iring-iringan sepasang pengantin tebu dibuka dengan posisi paling depan, drum band dengan anggota hampir delapan puluh orang. Disusul iring-iringan pengantin tebu.

Pada bagian belakang sebuah mobil terbuka tampak dinaiki Bupati Cirebon H. Dedi Supardi dan istrinya. Selanjutnya, beragam seni tradisional seperti burok, genjring dog dog, bahkan barongsai menambah lengkap iring-iringan yang mengantar pengantin tebu.

Pemandangan yang paling luar biasa, seluruh masyarakat sekitar tumpah ruah memenuhi jalan. Jangan heran bila sekolah pun diliburkan agar siswanya bisa melihat pengantin tebu.

Pesta mengarak pengantin tebu setelah para petani memanennya, sebenarnya merupakan ritus sebelum memulai giling.

Konon , pesta giling atau masyarakat menyebutnya bancakan yang ditandai pengusungan pengantin tebu ini telah menjadi tradisi sekaligus mitos. Jika tidak dilaksanakan, masyarakat sekitar, terutama para petani dan karyawan pabrik mempercayai hasil giling bakal tidak menguntungkan.

Sejarah mencatat, prosesi pengiring pengantin tebu sudah dilakukan sejak zaman Hindia Belanda, bertepatan dengan pendirian pabrik gula tersebut. Namun , versi lain menyatakan pengantin tebu hanyalah pesta rakyat yang sengaja digelar Pemerintah Hindia Belanda agar masyarakat bersemangat menanam tebu.

Dampak positif digelarnya bancakan ini mengandung unsur hiburan sekaligus berbagi terhadap kaum duafa di sekitar lokasi pabrik gula.

Prosesi pesta rakyat sendiri lebih kental dengan nuansa budaya Sunda. Dari mulai pakaian adat sunda yang dikenakan para penari yang menyambut rombongan saat memasuki lokasi pabrik gula hingga nyanyian dengan bahasa Sunda.

Bagian akhir prosesi ditandai dengan penyerahan pengantin tebu dari petani kepada pengelola pabrik gula. Tentu saja dengan sejumlah lirik yang mengisyaratkan agar penyerahan pengantin tebu ini membawa manfaat dalam proses penggilingan dengan hasil memuaskan.

Pada malamnya, pesta pun berlangsung meriah dan merupakan puncak dari keramaian. Pada malam puncak setelah pengantin tebu masuk pabrik inilah pesta rakyat berlangsung termasuk tanggapan wayang semalam suntuk.

Lantas, betulkah bila prosesi ini tidak dilaksanakan dapat berdampak buruk terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar dan para petani?

Wallahualam, nyatanya prosesi ini menjadi ritus yang sangat dinanti masyarakat dan tidak ada satu pihak pun yang berani mengesampingkannya. (Suherlan/”PR”/Titin/”MD”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s