Pasang Surut Petani Tebu Cirebon

Rabu, 30 April 2008
Pengantin Tebu

DI wilayah bagian timur Kabupaten Cirebon terhampar sebuah potensi yang diyakini mampu memberikan penghidupan bagi skala nasional.

Hamparan kebun tebu seluas 8.900 hektare di Kabupaten Cirebon terdapat di wilayah Sedong, Lemahaabang, Waled, Beber, Pangenan, Astanajapura dan sebagian kecil wilayah barat diArjawinangun. Itu berarti Kabupaten Cirebon memiliki potensi yang luar biasa besar dari jumlah sekitar 11. 000 hektare kebun tebu di Jawa Barat.

Seperti yang disampaikan Bupati Cirebon Drs. H. Dedi Supardi, M.M. dalam pesta giling Senin (28/4), “Potensi yang dimiliki wilayah timur Kabupaten Cirebon diharapkan berdampak terhadap peningkatan kualitas ekonomi para petani tebu. Kondisi ini dapat terlaksana bila ada harmonisasi antara petani tebu, asosiasi, dan pabrik gula.”

Pada sisi lain perhatian pemerintah daerah kepada para petani tebu terus dilakukan, antara lain bantuan dana bagi tim independen yang melakukan pengukuran rendemen tebu.

“Dengan kehadiran para ahli yang independen diharapkan memberikan keuntungan dan keberpihakan kepada petani tebu. Mereka tidak hanya memperoleh informasi sepihak akan hasil rendemen dari pabrik,” kata Bupati Cirebon.

Pada kesempatan yang sama Ketua DPD APTRI Jawa Barat H.M. Anwar Asmali, menyatakan dari jumlah sekitar 11.000 hektare kebun tebu dikelola sekitar 10.000 orang petani tebu.

“Angka ini masih dianggap ideal dan mampu mengelola sejumlah lahan tersebut.”

Menyinggung adanya sinyalemen semakin menyusutnya lahan tebu, menurut Anwar, pada zaman Belanda Kab. Cirebon memiliki areal tebu seluas 12.000 hektare, namun karena banyaknya pembangunan jalan tol, perumahan nasional, dan pembangunan pabrik, kondisi ini tidak dapat dipertahankan.

Sekalipun dihadang berbagai kendala, penyusutan lahan dan hal yang berkaitan dengan produksi, kenyataannya optimisme para petani tebu di Kab. Cirebon bisa mendulang keuntungan ternyata terbukti.

Dari beberapa catatan pada musim giling 2004 petani tebu mendulang keuntungan yang luar biasa. Keuntungan dari hasil panen pada 2004 ini baru dirasakan dalam 20 tahun terakhir. Selama 2 dekade, petani tebu nyaris tidak pernah memperoleh keuntungan dan sebaliknya mereka hampir selalu menderita kerugian besar.

“Keuntungan petani tebu terlihat dari hasil panen. Secara berbarengan, peningkatan kuantitatif itu diikuti kualitatif. Sejak saat itu gairah bertanam tebu kembali meningkat hingga kini,” kata Anwar.

Namun, pasang surut tampaknya menjadi warna hidup para petani tebu, saat keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2007 tanggal 22 Juni 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 soal Sistem Resi Gudang yang ternyata tidak memasukkan gula sebagai hasil produksi pertanian yang dapat dijual dalam sistem resi gudang.

“Jelas komoditas gula pasir tidak masuk dalam peraturan dan perundang-undangan yang tidak memasukkan gula sebagai hasil pertanian,” katanya. Namun demikian, kata Anwar, petani tebu sekarang dapat bernapas lega karena pemerintah menjanjikan merevitalisasi pabrik gula yang kini berusia lebih dari satu abad.

Lagi-lagi harapan baru bersinar dan semoga memberikan kehangatan bagi para petani tebu. Bila wilayah timur Kabupaten Cirebon memiliki kebanggaan karena hamparan potensi kebun tebunya. Suatu saat akan timbul keyakinan para petani tebu akan berjalan menuju satu hidup yang lebih sejahtera. Semoga. (Suherlan/”PR”/ Titin P./ “MD”)

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s