Pendapat Mereka: Berobat Ke Luar Negeri

Rabu, 30 April 2008
Gaya Hidup

Profesional Tapi Manusiawi
Sri Hartati (55), Organisator

SUAMI menginginkan pengobatan yang terbaik untuk penyakit kanker mulut rahim saya. Dia membawa saya ke Rumah Sakit Gleneagles Singapura tahun 2003. Penanganannya sangat profesional, tetapi manusiawi. Dokter ahli menguraikan penyakit saya begitu detil sehingga saya paham betul tahapan apa yang akan saya jalani. Dari mulai operasi, kemoterapi, hingga tahap radiasi. Pengobatannya begitu pasti, tidak ada istilah coba-coba. Walaupun begitu saya tidak ketakutan karena mereka juga menyentuh sisi psikis saya. Saya tak dibiarkan melamun, baik dokter maupun paramedis terus mengajak berkomunikasi. Bahkan, saya juga disuruh shopping biar tidak stres ha…haha. Saya juga reugreug, merasa tenang karena dokter memberikan akses telefonnya selama 24 jam nonstop. Alhamdullilah, saya sembuh dari penyakit yang menakutkan ini. Kini saya hanya diharuskan cek ke sana 6 bulan sekali setelah sebelumnya 3 bulan sekali. (Uci)***

Cepat Penanganannya
Dedeh Saodah (67), Pengurus Pesantren Persis Bandung

YANG saya kagumi dari rumah sakit di Singapura adalah soal kesigapan dalam menangani pasien. Begitu pesawat yang dinaiki anak saya Irfan Hakim (kini almarhum) mendarat, sudah ada ambulans dari Rumah Sakit Mount Elizabeth menunggu. Kamis masuk rumah sakit, Sabtu saya menyusul ke Singapura, Irfan sudah menjalani kemoterapi untuk penyakit kanker tonsilnya. Irfan sudah agak terlambat diobati setelah kankernya masuk dalam stadium empat. Walaupun sebenarnya semua memang sudah takdir. Sumber penyakitnya lambat diketahui. Ia sempat mengecek penyakitnya di banyak rumah sakit di tanah air. Berangkat ke Singapura pun atas anjuran pihak rumah sakit di Indonesia. Pengobatan di rumah sakit terdahulu sudah maksimal, tetapi mereka menganjurkan agar Irfan mendapat pengobatan yang lebih maksimal lagi di Singapura. (Uci)***

Berobat Sambil Belanja
Ruswana Anwar (46) dr. Sp.O.G., K.F.E.R., RSHS Bandung

PENYEBAB banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri, khususnya rumah sakit-rumah sakit di Singapura ada tiga hal. Pertama, karena kecepatannya dalam memberikan diagnosis. Ini berhubungan dengan alat diagnosis canggih yang sudah banyak mereka miliki. Kedua, karena memiliki banyak dokter ahli. Bukan berarti dua hal ini tidak dimiliki rumah sakit Indonesia. Ada, tetapi masih terbatas pada rumah sakit Pusat rujukan pemerintah seperti RSHS. Sementara itu, di Singapura sudah sangat merata. Yang ketiga, adalah soal kenyamanan. Selagi pasien beristirahat, kerabat bisa belanja di sekitar Orchard Road atau pusat-pusat belanja yang ada di dekat rumah sakit. Mereka yang berobat ke luar negeri adalah mereka yang sudah tidak memikirkan uang lagi, artinya dananya memang ada. Berobat ke luar negeri berlipat dananya. Operasi jantung di sini 125 juta rupiah, di sana bisa 300 juta rupiah. (Uci)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s