Singapura Manjakan Pasien-pasien Mancanegara

Rabu, 30 April 2008
Gaya Hidup

SINGAPURA adalah negara tujuan dari kebanyakan warga Indonesia yang akan berobat ke luar negeri. Selain jaraknya paling dekat, kecanggihan peralatan dan kualitas sumber daya manusianya juga tidak diragukan lagi.


Keunggulan Singapura dalam bidang pelayanan kesehatan juga diakui organisasi kesehatan dunia (WHO). Tahun 2000 badan dunia ini menyatakan Singapura sebagai negara yang memiliki sistem pelayanan kesehatan terbaik di Asia.

Bukan hanya fasilitas menggiurkan yang mereka tawarkan, melainkan service dan berbagai kemudahan pun diberikan kepada calon pasien. Mulai dari membuat appointment, pendaftaran, tindakan, dan perawatan, sampai pemantauan pascatindakan. Tak heran jika setiap tahun sekitar 400 pasien mancanegara, termasuk dari Indonesia, memercayakan perawatan kesehatannya di negeri ini.

Calon pasien dengan mudah melakukan pendaftaran dan appointment melalui internet. Melalui dunia maya ini berbagai informasi mengenai prosedur yang harus dilakukan calon pasien jika akan berobat di negeri singa ini, jadi dapat diperoleh.

Untuk menunjukkan apa yang mereka miliki, Singapore Board Tourism mengundang sejumlah wartawan Indonesia untuk datang ke Singapura guna menyaksikan sendiri bagaimana kondisi beberapa rumah sakit di sana. Enam wartawan di antaranya diajak berkunjung ke empat rumah sakit ternama, 10-11 April lalu. Keempat rumah sakit yang dikunjung masing-masing Singapore National Eye Centre (SNEC), National Neuroscience Institute (NNI), Mount Alvernia, dan National University Hospital (NUH).

Singapore National Eye Centre (SNEC), sesuai namanya, khusus merawat dan mengobati pasien yang berpenyakit atau mempunyai kelainan seputar mata. Di rumah sakit ini ada sekitar 50 dokter ahli (spesialis) mata yang siap melayani pasien dalam dan luar negeri. Selain memiliki peralatan canggih, mereka juga menggunakan metode dan teknik-teknik terbaru dalam menangani penyakit/kelainan mata.

Tak heran jika berbagai penyakit dan kelainan mata mampu ditangani rumah sakit ini dengan baik. Mulai dari rabun jauh dan dekat, katarak, radang, hingga melakukan transplantasi kornea dengan cara mencangkok kornea pasien dengan kornea donor ataupun dengan metode stem cell.

Menurut Ravi Chandran, Senior Corporate Communications Executive SNEC, setiap tahun SNEC melayani 250 pasien rawat jalan, melakukan 14.000 bedah mata dan 13.000 prosedur laser. Karena rumah sakit ini melakukan transplantasi (pencangkokan) kornea, maka di sini juga terdapat bank mata.

Diakui Ravi, awalnya SNEC memperoleh pasokan donor mata dari Thailand, tetapi sudah beberapa tahun ini dialihkan. “Sekarang kami mendapatkan donor mata dari USA (Amerika Serikat-red.) yang kualitasnya terjamin,” ujarnya.

Untuk pasien dari luar negeri SNEC juga memberikan pelayanan khusus serta kemudahan. SNEC membantu pasien dalam appointmen dan rujukan, pelayanan concierge, menyediakan penerjemah, penukaran valuta asing dan porter, permohonan serta perpanjangan visa, akomodasi serta transportasi.

Lain lagi dengan Rumah Sakit National Neuroscience Institute (NNI). Rumah sakit ini bukan hanya mengobati, melainkan juga melakukan research seputar penyakit dan kelainan pada saraf. Sim Hwee Peng, Senior Executive Corporate Development NNI menjelaskan sejak diresmikan, 25 Juli 2000, NNI terus melakukan reseach terutama untuk mencari cara dan teknik terbaik guna menangani penyakit dan kelainan seputar saraf, di antaranya untuk stroke dan parkinson.

Di antara rumah sakit umum yang ada di Singapura, RS Mount Alvernia memiliki kekhasan tersendiri. Rumah sakit yang pendiriannya dipelopori oleh tiga suster misionaris dari Inggris pada 1949 ini, amat mengedepankan keramahan dalam merawat pasiennya. Lihat saja, kini seluruh karyawannya wajib mengenakan pin yang bergambar wajah orang tersenyum.

“Di sini kami memang diwajibkan untuk selalu tersenyum kepada semua orang, sesama karyawan maupun kepada pasien,” ujar Mei Chong, Executive Corporate Development RS Mount Alvernia yang memang selalu tersenyum saat memberikan penjelasan kepada wartawan.

Layaknya sebuah rumah sakit umum, RS ini memberikan pelayanan perawatan dan pengobatan untuk berbagai penyakit. Peralatan canggih serta keramahan dalam pelayanan membuat rumah sakit yang memiliki 303 bed ini kerap dikunjungi pasien mancanegara, termasuk dari Indonesia. Metode yang diterapkan juga sudah demikian maju, misalnya dalam melakukan operasi, sudah tidak lagi melakukan sayatan besar, tetapi dengan teknik endoskopi dan laparoskopi.

Rumah sakit umum lainnya yang sempat dikunjungi adalah National University Hospital (NUH). Rumah sakit milik pemerintah ini tak kalah canggihnya dengan rumah sakit-rumah sakit swasta, secara fisik maupun managerial. Bahkan kini, RS NUH memiliki bagian yang dinamakan Advance Surgery Training Centre (ASTC), tempat untuk training sekaligus reseach para dokter untuk mendapatkan teknik terbaik seputar operasi , khususnya jantung.

Manager National Healthcare Croup NUH, Marcus Foo menjelaskan, ASTC yang pendiriannya didanai taipan Singapura Tan Sri Khoo Teck Puat memiliki berbagai fasilitas research lengkap dengan peralatan canggih yang di up grade secara berkala.

Sebagai rumah sakit milik pemerintah Marcus menegaskan para dokter tidak diperbolehkan untuk berpromosi. Namun diakuinya, NUH memiliki “kelebihan” dibanding RS swasta. Selain berbagai fasilitas dan peralatan canggih, biaya perawatan di NUH relatif lebih murah ketimbang di rumah sakit-rumah sakit swasta. “Di NUH tidak ada dokter umum, semuanya spesialis. Mereka juga tidak sembarang dalam melakukan operasi karena ada prosedur tersendiri,” ujarnya.

Kendati berobat di luar negeri lebih nyaman, bukan berarti masyarakat Indonesia lebih baik memilih berobat ke luar negeri. Yang paling penting justru harus berupaya agar tidak terkena penyakit. Bagaimanapun canggihnya peralatan dan nyamannya pelayanan pengobatan, tidak akan nikmat karena badan kita sedang sakit. Apalagi kemudian, segala kenyamanan itu harus ditebus dengan biaya mahal. (Yeni EPA/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s