Tak Putus Dirundung Malang

Sudah bukan rahasia lagi, belakangan ini rumah tangga di Indonesia mengalami kesulitan soal bahan bakar.

Minyak tanah, yang sudah direncanakan pemerintah di’tukar-guling’ dengan subsidi gas LPG, hilang dari peredaran. Kalaupun ada, harganya melambung tinggi. Pun demikian dengan LPG. Antrian masyarakat di depot pengisian LPG pun tak terhitung setiap harinya. Di tangan pengecer? Jangan ditanya lagi. Masyarakat pun banyak mengejar walaupun dengan harga yang jauh berbeda.

Di tengah gejolah hidup keseharian soal bahan bakar. Kita pun perlu bersiap-siap dengan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah memang sudah mengumumkan rencana kenaikan itu. Kenaikan harga BBM tersebut sebagai upaya menyelamatkan APBN 2008 akibat melonjaknya harga minyak dunia yang menembus 120 dolar AS per barel.

Hal tersebut dikemukakan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kenaikan harga BBM memang belum pasti nilainya. Namun, rencana pastinya berkisar antara 20 persen sampai 30 persen.

“Kebijakan” pemerintah menaikkan harga BBM tersebut konon karena kenaikan harga minyak dunia. Jadi, mau tidak mau pemerintah harus menaikkan harga BBM juga. Rencana kenaikan BBM, sebagai langkah penyesuaian subsidi BBM dengan menaikkan harga BBM, pun sudah mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia (BI). Menurut padangan Miranda S. Goeltom, kenaikan harga BBM di Indonesia tersebut dapat memberi arah yang lebih pasti bagi BI dan pemerintah untuk mengendalikan tekanan inflasi yang menguat. BI sudah memperhitungkan angka inflasi akibat kenaikan BBM itu.

Janji Tinggal Janji
Kenaikan harga BBM tersebut menurut wakil presiden memang akan diimbangi dengan penyaluran (kembali) bantuan tunai langsung (BLT) plus. Hal sama pun diungkapkan Meneg PPN/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta. Dana kompensasi kenaikan harga BBM mencapai Rp 35 triliun dan akan dialokasikan untuk program pengentasan kemiskinan, di antaranya BLT plus bagi masyarakat miskin.
Namun tampaknya sayang disayangkan. Upaya pemerintah menyalurkan dana kompensasi kenaikan BBM tersebut rencananya menggunakan basis data kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk kenaikan harga BBM pada 2005, yaitu 19,1 juta rumah tangga miskin (RTM).

“Kalau kenaikannya 30 persen, maka akan digunakan basis BLT 2005 dengan besaran yang sama,” katanya. Itu berarti, setiap RTM akan menerima sekitar Rp 100.000,00/ bulan selama setahun. Selain itu, pemerintah akan memberikan tambahan bantuan kepada masyarakat berupa bahan makanan, di luar skema raskin.
Sumber: Suzetta

Entah apa landasannya pemerintah masih menggunakan data ‘usang’ tersebut. Apakah memang pemerintah tidak berupaya untuk memperbaharui data angka kemiskinan tersebut? Atau memang pemerintah kita sudah begitu ‘miskin’ hingga tidak mampu membiayai kegiatan pencarian data terbaru? Tampaknya pemerintah tidak sampai berpikir, dalam rentang 3 tahun sampai sekarang angka kemiskinan pasti berubah. Terlepas dari meningkat atau menurunnya angka tersebut.

Namun yang pasti, penyaluran dana BLT sebesar Rp. 100 ribu/bulan selama satu tahun tidak sebanding dengan besarnya biaya hidup yang harus ditanggung oleh rakyat, terutama rakyat miskin.

Dampak kenaikan BBM
Secara sambil lalu pun dapat diperkirakan bahwa kenaikan harga BBM tersebut akan menimbulkan gejolak di masyarakat. Pro-kontra pasti muncul. Namun penulis merasa bahwa gejolah penentangan pasti akan lebih menggema. Kalangan DPR pun menganggap bahwa sikap pemerintah untuk menaikkan harga BBM sebagai kebijakan terburu-buru. Bagaimana tidak, dampak kenaikan BBM tahun 2005 saja masih belum pulih.

Dapat dibayangkan, bagaimana kondisi masyarakat nantinya. Beratnya menjalani kehidupan sudah pasti semakin membelenggu kehidupan mereka. Jangankan setelah ada kepastian kenaikan harga BBM tersebut. Saat ini saja, ketika pemerintah baru mengumumkan rencana kenaikan BBM, harga barang-barang kebutuhan pokok di pasaran mulai merangkak.

Sulit rasanya membayangkan himpitan hidup yang akan semakin dirasakan masyarakat, terutama golongan miskin. Beban untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin menjadi. Apalagi, jika memang benar kenaikan harga BBM akan terealisasi pada bulan Juni 2008. Beban dampak kenaikan BBM tersebut semakin berat dirasakan bagi mereka yang akan mulai menyekolahkan anak-anak mereka. Biaya sekolah sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. SAYANG TINGGI. Belum lagi untuk pembelian buku dan berbagai peralatan sekolah lainnya.

Apakah kenaikan harga BBM memang hanya satu-satunya pilihan yang bisa ditempuh? Apakah ada upaya lain yang bisa dilakukan untuk mengamankan APBN 2008 atau menekan tekanan inflasi?
Penulis tidak akan banyak memberi saran. Namun yang terpenting, tempatkan diri anda (para pengambil keputusan) pada posisi rakyat di bawah. Setidaknya kenaikan harga BBM mengambil waktu yang paling tepat, tanpa mengabaikan beban hidup yang semakin menghimpit.

2 responses to “Tak Putus Dirundung Malang

  1. Memang berat yach! Sepertinya Pemerintah mau-tidak mau harus menaikan BBM. Saya sendiri cukup salut dengan SBY-Kalla dimana harusnya tebar pesona menjelang Pemilu 2009 (seperti tokoh lain) tetapi dengan berat hati dia naikkan juga BBM. Saya yakin ini nanti dipakai lawan beliau utk jegal di Pemilu.
    Sepertinya kita harus bersama-sama menanggung sakit sekarang daripada nantinya lebih parah lagi krn utang negara makin segunung gara-gara mempertahankan subsidui BBM yang sebenarnya pengguna BBM bersubsidi adalah golongan berduit. Tragis kan?

  2. Memang berat Mas, harga minyak dunia memang terus naik. Tapi saya sendiri tidak terlalu ngerti apa yang ada dipikiran SBY-JK. Apa memang mereka juga tidak memikirkan popularitas masing2 menjelang Pemilu mendatang?

    Yang saya pikir, dan lebih saya anggap tragis adalah: “kenapa indonesia yang kaya akan sumber minyak bumi (walaupun produksinya mulai menurun) koq masih kerap kesulitan akan persediaan minyak?”
    Apa minyak di Indonesia habis dijual ke luar negeri, sementara rakyat membeli dgn harga dari penjual (produk) luar?

    Lain lain tak kalah tragisnya adalah dampak luas dari kenaikan BBM. Rakyat miskin yang masih mengandalkan minyak tanah pun kena getahnya. Mereka bisa saja kembali lagi menggunakan kayu bakar. Tapi dari mana mendapat kayu bakar? Hutan2 habis dibabat. Orang di kota lebih susah nyari kayu. Lebih jauh lagi, harga sembako yang pasti melonjak. Ongkos angkot pasti naik juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s