27 Agustus 2009

Baby Born

Penantian dan pengharapan panjang akhirnya datang juga. Berselang 3 bulan dari”cobaan” di kehamilan sebelumnya, akhirnya si istri kembali dinyatakan positif hamil kembali. Kemudian berselang sembilan bulan kemudian tepat pukul 14.10 wib, tanggal 27 Agustus 2009 (6 Ramadhan 1430H) lahir juga pujaan hati. “Alhamdulillah… Terima kasih Ya Allah”.

Hanya kalimat itu yang tidak henti-hentinya keluar dari mulut dan terus berbisik dalam hati. Tiada kata lain yang mampu diungkap. Bukan tanpa sebab, kehamilan ang kedua ini pun sarat perjuangan dan kekhawatiran. Awal kehamilan hingga usia menjelang 4 bulan, “morning sickness” kerap menghadang. Bahkan cukup sulit juga memasukkan sesuap nasi karena kembali ”jackpot”.

Tak berhenti disitu. Kekhawatiran kembali menghadang ketika flek-flek kembali muncul. Sungguh cobaan yang tiada terkira. Berkaca dari pengalaman kehamilan sebelumnya, flek menjadi pertanda ada masalah dalam kehamilan hingga akhirnya kehamilan yang pertama tidak tertolong.

Semua dilandasi atas kesabaran dan keikhlasan. Kehamilan kedua ini kami terima sebagai anugerah sekaligus tantangan. Anugerah karana sangat diharapkan. Tantangan karena perlu menjaganya ekstra hati-hati. Hingga akhirnya, tantangan terakhir, semoga menjadi yang terakhir, adalah ketika masa-masa menjelang persalinan.
Di bulan ke Sembilan kami berusaha semakin menjaga kondisi kehamilan si istri. Salah satu caranya adlah memeriksakan kehamilan realtif lebih intens. Dua minggu bahkan ketika sudah menunjukkan beberapa tanda kelahiran seminggu sekali kali mengunjungi dokter kandungan. Ketika dua mingu menjelang persalinan, sebenarnya dokter sudah memberitahukan adanya tanda-tanda awal persalinan. Pembukaan sudah muncul, ketika itu memang masih pembukaan 1. Dokter pun member saran ika ada tanda-tanda mulas dan sebagainya, segera datang kembali. Namun ditunggu-tungu pun tanda-tanda seperti yang disampaikan dokter tidak kunjung muncul.

Kami mencoba untuk tenang karena dokter pun menyebutkan kami masih bisa menahan waktu persalinan. Saya pun masih melanjutan pekerjaan di Bandung. Sementara istri ditinggalkan di Cianjur. Hingga menjelang dua minggu berikutnya. Tanggal 24 Agustus 2009 tanda-tanda mulai muncul. Istri mulai mengalami mulass-mulas. Sementara saya masih di Bandung. Waktu itu sebenarnya sudah berencana untuk ke Cianjur. Namun istri meminta jangan dulu Karen amasih belum pasti juga akan melahirkan saat itu. Istri pun diantar oleh mertua langsung meuju dokter kandungan tempat kami biasa memeriksakan kehamilan. Dokter kembali menyatakan tanda-tanda sudah muncul namun waktu persalinan belum juga. Penyebabnya, pembukaan yang dialami istri saya ternyata belum beranjak membesar. Masih berkutat pada pembukaan 1. Istri pun kembali pulang.

Mulai dari hari tersebut perasaan sebagai seorang suami mulai gundah. Tidak bisa berpikir tenang dan jauh-jauh dari istri. Namun saya baru berangkat ke Cianjur hari Rabu selepas pulang kerja. Di rumah kami malah menjadi bahan guyonan. Keluarga berkelakar, “SI utun teh hoyong nungguan bapana meureun.” Begitulah kira-kira candaan yang terlontar. Waktu berselang. Saat menjelang waktu sahur, istri punikut terbangun. Tadinya hanya ingin membantu menyiapkan makan sahur. Namun, ternyata ia mulai mengalami tanda-tanda lainnya. Mulai keluaran cairan, hingga membasahi (maaf…) CD yang dikenakannya. Kalut, khaatir. Bingung berkecamuk. Saya sendiri belum tahu apa yang akan dilakukan. Ditengah kebingungan hanya ingat untuk menghubungi dokter saja. Beruntung kami diberikan nomor ponsel dokter bersangkutan. Kami pun menelepon beliau. Menurut perkiraannya, air yang keluar adalah air ketuban. Kami pun diminta langsung datang ke rumah bersalin (RB).

Ya tepat jam 06.00 wib kami sampai ke RB tersebut. Kami langsung ditangani perawat karena dokter belum datang. Sekitar pukul 07.00 dokter datang. Menurut pemeriksaan, pembukaan yang dialami istri masih belum bertambah. Si dokter pun menyarankan untuk melakukan induksi melalui infus. “Kita coba untuk bersalin normal, jika tidak ada reaksi setelah habis 1 labu, tidak ada cara lain,” kata dokter.memberi isyarat agar kami bersiap untuk melakukan proses kelahiran cesar. Ya Allah…tidak ada yang bisa saya ucapkan. Dalam hati hanya berharap agar proses persalinan istri bisa lancara dan istri serta si jabang bayi bisa selamat. Selama proses induksi tersebut pertanda mulas memang muncul, namun tidak mendorong terjadinya pembukaan yang lebih besar. Hingga akhirnya jam 13.00 kami berkonsultasi kembali dengan dokter. Tidak ada cara lain cesar harus dilakukan. Pertimbangannya, air ketuban istri sudah keluar, cukup rentan juga jika membiarkan si jabang bayi terlalu lama setelah keluarnya air ketuban tersebut.

Tepat jam 13.45 wib istri saya mulai masuk ke ruang observasi untuk persiapan operasi. Berbagai peralatan disiapkan. Keluarga pun diminta menunggu di luar Ruang Instalasi Bedah. Tepat pukul 14.10 wib, kami mendengar suara tangis bayi kecil. Lambat namun lantang. Alhamdulillah Ya Allah. Dibalik berbagai tantangan dan kekhawatiran si jabang bayi yang kami idamkan terlahir dengan selamat.
More pict…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s