Penghidupan Desa dan Migrasi

I. Definisi Penghidupan

Pemahaman mengenai penghidupan dapat dilhat dalam konsep livelihood yang pertama kali dipopulerkan oleh Chambers dan Conway pada akhir dekade 1990-an. Proses kerja kedua tokoh tersebut dilakukan dalam institusi The Department for International Development (DFID) dan awalnya konsep ini didesain sedemikian rupa sehingga sangat relevan di kawasan negara sedang berkembang (http://www.nssd.net/references/SustLiveli/DFIDapproach.htm; http://www.livelihoods.org/SLdefn.html ; Saragih, et.al. 2007:11; Dharmawan 2006:10-11).

Chambers dan Conway (1992: 9-12) memberi pengertian bahwa:

Penghidupan melingkupi berbagai cara yang dilakukan setiap orang untuk menghimpun dan memperoleh penghasilan, termasuk kapabilitas mereka, aset yang dapat dihitung, seperti ketersediaan dan sumber daya, serta aset yang tak bisa dihitung, seperti klaim dan akses. Pengertian mengenai aset yang tidak dapat dihitung tersebut mencakup juga tentang modal sosial.

Konsep Penghidupan memiliki keluwesan dalam memperhatikan gerak, cara, jalur hidup, bahkan hubungan sosial –termasuk relasi gender- yang mengandung makna kekuasaan antar-orang ataupun antara orang dengan kelompok, institusi, serta kebijakan (de Haan dan Zoomers, 2005: 3-18). Peragaman penghidupan (livelihood diversification) memperjelas keluwesan tersebut dengan melihat lebih lanjut bahwa gerak, cara, jalur hidup, dan hubungan sosial yang dilakukan seseorang merupakan strategi penjamakan penghidupan/ multiple livelihood (Bryceson, 2000) ataupun strategi bertahan/survival strategies (Start and Johnson, 2001: 7).

Di dalam memahami penghidupan masyarakat, khususnya masyarakat miskin, perhatian terhadap gerak, cara, dan jalur penghidupan semakin diperluas dengan memperhatikan berbagai upaya yang mereka lakukan tanpa perencanaan.

Sementara itu, Carloni dan Crowley (2005) dalam modul Food and Agricultural Organisation (FAO) mengenai Rapid Guide for Missions Analysing Local Institutions and Livelihoods, menunjukkan bahwa analisis penghidupan berkaitan dengan berbagai guncangan, kerentanan dan perubahan-perubahan karena kebijakan maupun pengaruh alam. Di sisi lain, penghidupan pun terkait dengan berbagai bekal yang dimiliki suatu satuan ekonomi yang memungkinkan atau tidak memungkinkan mereka mengembangkan berbagai siasat untuk bertahan hidup.

Hal penting dalam konsep penghidupan adalah strategi mempertahankan kelangsungan hidup. Pakpahan dan Pasandaran (1990, dalam Agusanty, et.al.t.th:7) menyebutkan bahwa upaya mempertahankan kelangsungan hidup berbeda menurut derajatnya, mulai dari mempertahankan masalah hidup dan mati sampai dengan mempertahankan hidup agar dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti mampu bekerja secara normal sesuai dengan jenis pekerjaannya masing-masing.

Lapangan pekerjaan yang tersedia bagi rumah tangga merupakan sumber tersedianya pendapatan bagi rumahtangga yang bersangkutan. Seberapa luas tersedianya lapangan pekerjaan dapat dimanfaatkan sesuai dengan keterampilan yang dimiliki setiap anggota rumahtangga akan menentukan derajat tingkat pendapatan bagi rumahtangga tersebut.

II. Pemaknaan Penghidupan
Pendekatan livelihood dapat diidentikkan dengan strategi mendapatkan nafkah. Seseorang bertujuan memperoleh nafkah untuk meningkatkan efisiensi dan kesamaan perolehan manfaat pada masyarakat. Di samping itu, nafkah pun menjadi jaminan bagi seseorang untuk menggunakan segala kemampuan dan kekayaan yang dimiikinya, tanpa mengabaikan kelestarian alam, berorientasi kepada tanggung jawab untuk generasi mendatang, serta demokratisasi (Uphoff 2002; Warburton, ed. 1998; Chambers 1991).

Berdasarkan pemaparan diatas, penulis memiliki penegasan bahwa livelihood dapat dimaknai sebagai strategi mencari nafkah, yaitu berbagai upaya yang dilakukan seseorang untuk memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk mendapatkan penghasilan sehingga mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Dalam penelitiannya, Agusanty menyebutkan strategi mencari nafkah dalam ekonomi rumahtangganya teridentifikasi dalam tiga hal: (1) intensifikasi atau ekstensifikasi usaha yang digelutinya, (2) pola nafkah ganda (keragaman nafkah), dan (3) migrasi temporer. Untuk strategi pertama (intesifikasi atau ekstensifikasi) banyak terbangun melalui jaringan integrasi dari pola-pola kemitraan usaha yang dilakukkan. Jaringan relasi dan hubungan sosial merupakan pencerminan hubungan antar status-status dan peran-peran dalam masyarakat.

III. Konsep Nafkah
Nafkah dapat dimaknai sebagai strategi penghidupan untuk mempertahankan keberlangsungan penghidupannya (sustainable livelihood). Secara umum, aspek kehidupan dan penghidupan difokuskan pada kemampuan (capabilities), termasuk sumber daya material dan sosial; modal (asset); dan aktivitas (activies) sebagai komponen yang dapat menjelaskan mengapa masyarakat lokal masih bisa bertahan dan mengatasi kesulitan akibat goncangan hidupnya (Scoones 1998:5; Chambers dan Conway 1992 dan Ellis 2000, dalam Reynald dan Ali 2007:95).

Seseorang menerapkan strategi untuk mendapatkan nafkah secara berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh komponen material dan sosial. Komponen material dan sosial tersebut lebih jelasnya dilihat sebagai aset berwujud (tangible assets) dan aset tak berwujud (intangible assets) yang dimiliki seseorang. Dalam kiasan ekonomi sumber-sumber nafkah tersebut dipandang sebagai “modal”. Scoones (1998) dengan bahasa yang relatif sederhana menjelaskan konsep modal dalam sistem nafkah rumah tangga. Konsep modal tersebut digolongkan menjadi empat jenis yaitu :

  • Modal Alam (Natural Capital), merupakan proses yang berasal dari alam dan terkait dengan proses-proses alamiah, misalnya kondisi tanah, air, udara, siklus hidrologi, dan sebagainya.
  • Modal Ekonomi (Economic/Financial Capital), merupakan modal yang sangat penting terkait dengan strategi nafkah, misalnya kepemilikan aset ekonomi seperti perlengkapan produktivitas, ekologi dan infratruktur lainnya.
  • Modal Sumberdaya Manusia, terkait dengan aspek manusianya misalnya keterampilan, penyidikan atau pengetahuan, kesehatan, dan sebagainya.
  • Modal Sosial, merupakan sumberdaya sosial yang terdiri atas jaringan, klaim sosial, hubungan sosial, keanggotaan dan perkumpulan.

IV. Strategi Mencari Nafkah: Mendulang Nafkah di Negeri Orang
Berdasarkan pemaparan diatas, secara garis besar, komponen-komponen penting dalam strategi mendapatkan nafkah, termasuk bermigrasi ke luar negeri, dapat dibagi menjadi empat hal, yaitu :
1. Mata pencaharian
Mata Pencaharian, secara umum dapat dimaknai sebagai pekerjaan yang menjadi pokok penghidupan. Melalui pekerjaan ini pula diharapkan masing-masing individu mampu mendapatkan penghasilan untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari (Depdikbud 1983). Dengan kata lain sistem mata pencaharian adalah wujud karya manusia yang dilakukan guna pemenuhan kehidupan sehari-hari dan menjadi pokok penghidupan baginya.
2. Jaringan sosial
Pada banyak kasus, upaya seseorang mendapatkan nafkah pun menunjukkan perlunya “jaminan”. Salah satu jaminan yang cenderung kerap muncul dalam mendapatkan nafkah adalah jaringan sosial (modal sosial). Secara singkat, modal sosial dapat dipahami sebagai suatu jaringan yang telah terlembaga dalam waktu lama sebagai wujud dari hubungan timbal balik yang saling mengenal. Secara umum ada empat model modal sosial yang terkait dengan proses sosial secara khusus, yaitu; pemahaman nilai-nilai tertentu; pertukaran secara timbal-balik; solidaritas terbatas; dan kepercayaan (Bourdieu 1986; Portes & Sensenbrenner 1993; Portes 1998, dalam Thieme 2006:15).

Contoh kasus, Mulyanto,et.al (2009, et. al.) menunjukkan bahwa fenomena buruh migran memilih kerja di luar desanya karena sudah ada “jaminan” akan mendapatkan kerja di kota tujuannya. Ada beberapa model jaringan yang mereka gunakan dalam pencarian kerja, antara lain adalah unit pertemanan, pertetanggaan atau melalui agen tenaga kerja.

Pada kasus tenaga kerja migran, jaringan sosial pun berperan dalam menjaga hubungan baik antara pekerja migran dengan desa asalnya. Nugroho (2006:35, mengutip Connel dalam Effendi 1989) melihat bahwa hubungan migran dengan desa asal di negara-negara berkembang dikenal sangat erat, sehingga menjadi salah satu ciri fenomena migrasi di negara berkembang. Hubungan tersebut, baik secara langsung atau tidak langsung, antara lain diwujudkan dengan pengiriman uang, barang-barang, bahkan ide-ide pembangunan di daerah asal.

Di sisi lain, setidaknya desa masih bisa dianggap sebagai ‘jaring pengaman’ ketika para migran mengalami krisis atau kekurangan pemenuhan kebutuan hidupnya. Studi Dona, et.al. (2008:68-69) menunjukkan peran desa bagi para pekerja migran, antara lain: 1) desa menjadi tempat menitipkan anak ketika para pekerja migran pergi bekerja di perkotaan. Dari aspek ekonomi, menitipkan anak kepada keluarganya danggap lebih murah dibanding menitipkan di tempat penitipan anak; 2) desa sebagai tempat tinggal sementara ketika pekerja migran terkena PHK;3) sebagai tempat pulang kampung.

3. Aset
Seperti dijelaskan sebelumnya, suatu penghidupan dapat berjalan secara berkelanjutan apabila ditopang oleh kepemilikan aset atau modal. Kemampuan untuk memperoleh strategi sumber penghidupan yang berbeda tergantung pada kepemilikan sumber daya alam dan sosial, baik harta berwujud (gudang, toko, sumber daya material, dsb) maupun tidak berwujud (klaim dan akses). Apabila dikaji dalam metafora ekonomi, sumber penghidupan bisa dilihat sebagai “modal” dasar dari berbagai sumber penghidupan yang dibangunnya (Chambers and Conway 1992: 10; Scoones 1998:5).

Pendekatan aset berfokus pada pengembangan persediaan kekayaan kelompok miskin untuk mencapai tingkat keberlanjutan kesejahteraan. Aset dalam kerangka ini digambarkan terkait dengan keuangan, seperti uang tabungan, kepemilikan lahan, kegiatan usaha dan perumahan. Sementara definisi lebih luas lagi asset meliputi pengetahuan dan keahlian masing-masing individu, hubungan sosial dan komunitas, dan kemampuan mereka mempengaruhi keputusan yang berpengaruh bagi kehidupan mereka. Aset, dengan kata lain, menunjukkan komposisi yang luas terkait sumber daya yang memungkinkan masing-masing individu atau komunitas menjadi pengendali dalam kehidupannya dan berpartisipasi dalam masyarakat mereka. Pemberian akses terhadap asset diperlukan setiap orang agar mendapat kebebasan untuk mendapatkan mata pencaharian yang produktif, mengatasi bencana yang mengancam kehidupannya dan menghadapi ketidakadilan (http://www.tessproject.com/products/seminars&training/seminar%20series/asset_building.htm).

Beberapa ahli menegaskan bahwa asset digambarkan secara luas. Beberapa ahli tersebut berpendapat bahwa modal sosial termasuk ke dalam asset secara keseluruhan. Sherraden, et.at. (2004) menyebutkan bahwa asset yang mungkin dimiliki seseorang terdiri dari: a) Kekayaan keuangan; b) Hak milik terukur; c) Modal manusia; d) Modal sosial; e) Partisipasi politik dan pengaruh; f) Modal budaya; dan g) Sumber daya alam. Hal tidak jauh berbeda dikemukakan pula Scoones (1998:7-8).

4. Kiriman (remittances)
Salah satu isu penting terkait antara migrasi dan nafkah (penghidupan) adalah dampak ekonomi, khususnya aspek remitan. Penggunaan istilah “ekspor tenaga kerja” memunculkan harapan agar para pekerja migran membawa remitan tidak hanya bagi keluarganya tetapi juga untuk negara. Pemerintah bisa saja mendapat “keuntungan” dari pengiriman remitan, seperti pemotongan remitan untuk digunakan dalam penyediaan sarana pelayanan umum. Secara makro pun berdampak pada beberapa dampak strategis sisi perspektif nasional, yaitu: 1) peningkatan devisa negara; 2) peningkatan keterampilan kerja; dan 3) pengurangan masalah pengangguran (Mantra, Kasnawi, dan Suharmadi 1986; Mantra, dkk 1989:82; Mantra 2000, dalam Nugroho 2006:36). Sementara itu, Cursor (1981, dalam Nugroho 2006:37) menunjukkan bahwa tujuan pokok pengiriman remitan adalah digunakan untuk: 1) membantu keluarga; 2) peningkatan hidup keluarga; 3) membantu migran potensial di daerah asal dengan cara mengirim uang untuk ongkos bermigrasi; 4) membayar utang; dan 5) untuk investasi.
Dampak penggunaan remitan untuk pembangunan ini menjadi satu isu yang dapat diperdebatkan dalam konteks kebijakan pembangunan. Bahkan, keterkaitan antara migrasi dengan remitan ini dianggap sebagai bentuk penyesuaian ekonomi yang sebenarnya terhadap kelompok miskin dalam sebuah negara. Beberapa temuan penelitian menunjukkan bahwa remitan yang diperoleh para pekerja migran, umumnya dikirimkan ke desa asal, diharapkan dapat menjadi penghasilan yang bisa diinvestasikan dan digunakan ketika mereka kembali, sehingga mampu meningkatkan status mereka di dalam masyarakatnya. (Chant 1998:12; Deans, et.al. 2006; Ramos 2002, dalam Portes 2007:74).

Remitan memiliki dampak positif terhadap di tataran ekonomi lokal (meningkatkan konsumsi ekonomi, membawa peningkatan permintaan barang dan jenis pekerjaan lainnya). Lopez-Cordoba dan Olmedo (2006:18-19) berargumentasi bahwa “Remitan membantu rumahtangga keluar dari kemiskinan, menurunkan angka kematian, dan meningkatkan pencapaian tingkat pendidikan…remitan dapat digunakan sebagai bentuk investasi dalam proses produksi yang menguntungkan”. Hal itu pun membuktikan mengenai hubungan positif antara remitan dengan bentuk investasi. Rumahtangga menerima remitan, sebagian kecil digunakan untuk konsumsi, dan sebagian besar lagi diinvestasikan, khususnya untuk investasi sosial, seperti pendidikan dan perumahan (Farrant, et.al 2006, dalam Deans, et.al. 2006:4). Pandangan seperti itu diperkuat pula dengan pernyataan Mantra, dkk (1989:80-81) yang menunjukkan kesimpulan secara umum tentang pola investasi pendapatan migran, yaitu:
1) Sebagian besar investasi digunakan untuk investasi material. Hal ini menggambarkan keinginan untuk memiliki barang, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, salah satunya sebagai simbol status sosial masih berperan penting bagi sebagian migran.
2) Penggunaan investasi untuk pendidikan pun menjadi salah satu yang cukup penting bagi sebagian migran. Buktinya adalah tingginya tingkat pendidikan anak/adik para migran.
3) Sebagian kecil migran melakukan investasi pendapatan dalam bentuk investasi modal, baik untuk pembukaan usaha atau pun pengembangan usaha. Paling banyak usaha yang dilakukan adalah bentuk warung-warung kecil. Sesuai dengan pendapatannya yang kecil, bentuk usahanya pun relatif kecil.
4) Sementara itu, bentuk investasi sosial untuk menyantuni orang tua malah kurang nampak

Kondisi tersebut diatas menunjukkan bahwa remitan lebih banyak digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar konsumsi rumahtangga, masih jauh digunakan untuk pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Sangat jarang remitan digunakan sebagai sumber pembayaan investasi atau kegiatan produktif lainnya. Di samping dampak secara ekonomi, mobilitas penduduk pun membawa dampak sosial budaya. Kondisi ini terjadi antara lain terkait intervensi nilai budaya baru yang dibawa kaum migran dari daerah tujuannya. Gambaran negatif penggunaan remitan dalam rumahtangga pekerja migran, antara lain konsumsi barang-barang mewah berlebihan.

Kondisi ini setidaknya bisa menjadi pemicu semakin menajamnya perbedaan antara penerima remitan dan bukan penerima, bahkan bisa saja memunculkan kecemburuan sosial dan konflik, hingga menyebabkan terjadinya inflasi di tingkat lokal (Mantra, dkk 1989:86; Setiadi 2002; Deshingkar 2004; Mayers 1998 dan Ruiz-Arranz 2006, dalam Deans, et.al. 2006:4). Apabila ditelaah lebih lanjut sebenarnya biaya yang dibutuhkan menjadi pekerja migran pun tidak sedikit. Beberapa diantaranya memang biaya yang tidak terlihat secara nyata (hidden cost), misalnya biaya yang diberikan kepada calo-calo tenaga kerja agar mereka dapat bekerja di tempat tujuannya. Mulyanto (2009; akan terbit) menunjukkan kondisi calon tenaga kerja migran yang harus kehilangan tanah warisannya karena membutuhkan biaya untuk bekerja.

Di sisi lain, biaya-biaya sosial (social cost) yang harus dibayar para pekerja migran selama mereka bekerja pun perlu diperhitungkan. Secara umum, biaya-biaya sosial yang harus dibayar para pekerja migran selama mereka berada di negara tujuan, antara lain seperti; perpisahan sementara dengan keluarga, suami (para TKW) yang mungkin berpaling pada wanita lain, perubahan relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, ketegangan dalam keluarga migran, bahkan perceraian dengan suami tercinta. Pemahaman tentang dampak negatif migrasi perlu mendapat perhatian yang cukup (Wirawan 2006:15-16; Deans, et.al.2006:2).

Penelitian tentang perempuan migran kembali dari Arab Saudi (Sukamdi. et. al.. 2001) di Yogyakarta menunjukkan bahwa migran kembali mengalami berbagai persoalan sosial dan psikologi. Di negara tujuan mereka memperoleh berbagai perlakuan tidak senonoh. Dalam perjalanan pulang, migran menjadi sasaran perampokan, dan ketika mereka sampai di tempat tujuan, mereka harus menyesuaikan dengan permasalahan adaptasi sosial dan psikologi. Mungkin benar bahwa keuntungan ekonomi yang mereka terima pada dasarnya tidak sebanding dengan pengorbanan-pengorbanan yang harus dilakukan oleh migran.

Catatan Kaki:

  1. Pendekatan pembangunan ala sustainable livelihood merupakan pendekatan pembangunan kontemporer dengan tujuan mengoreksi pendekatan pembangunan ala modernisasi yang dikenal sangat tidak akrab dengan lingkungan. Pendekatan sistem nafkah berkelanjutan berusaha mencapai derajat pemenuhan kebutuhan sosial, ekonomi dan ekologi secara adil dan seimbang. pencapaian derajat kesejahteraan sosial didekati melalui kombinasi aktivias dan utilisasi modal-modal yang ada dalam tata sistem nafkah.
  2. Saragih, S. Jonatan Lassa dan Afan Ramli. 2007. Kerangka Penghidupan Berkelanjutan dalam [http://www.zef.de/module/register/media/2390_SL-Chapter1.pdf].
  3. Dharmawan, A.H. 2006. “Pendekatan-Pendekatan Pembangunan Pedesaan dan Pertanian: Klasik dan Kontemporer”. Tulisan ini dikembangkan dari makalah penulis yang disampaikan pada acara “Apresiasi Perencanaan Pembangunan Pertanian Daerah bagi Tenaga Pemandu Teknologi Mendukung Prima Tani”, diselenggarakan di Hotel Jaya-Raya, Cisarua Bogor, 19-25 November 2006.
  4. 4. Agusanty, H. dan A.A. Arief. Kemitraan Usaha dan Jaringan Sosial Pembudidaya Rumput Laut di Kabupaten Takalar (Studi Kasus Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang). Jurnal Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.
  5. 5. Warburton, D., 1998, ‘A passionate dialogue: Community and sustainable development, in Warburton’, D., (ed), Community and Sustainable Development, London: Earthscan Publishing Ltd.
  6. Sementara itu, Scones (1998) menggolongkan strategi nafkah petani setidaknya menjadi tiga golongan besar, antara lain : a) Rekayasa sumber nafkah pertanian; b) Pola nafkah ganda yang merupakan usaha yang dilakukan dengan cara mencari pekerjaan lain selain sektor pertanian untuk menambah pendapatan (diversifikasi pekerjaan); dan c) Rekayasa spasial merupakan usaha yang dilakukan dengan cara mobilisasi/ perpindahan penduduk baik secara permanen maupun sirkuler (migrasi).
  7. Reynald, R. dan M.S.S.Ali. 2007. “Adaptasi Ekologi Petani Menurut Status Penguasaan Tanah dan Agroekosistem di Dua Desa Kabupaten Pinrang” dalam Jurnal Sains & Teknologi, Agustus 2007, Vol.7 No.2:93-102.
  8. DfID. 1999. Sustainable Livelihoods Guidance Sheets. Departement for International Development, adopted from http://www.ceciasia.org/utthan/sla.htm.
  9. Tim penyusun. 1983. Sistem Ekonomi Tradisional Sebagai Perwujudan Tanggapan Masyarakat Terhadap Lingkungannya Daerah Kal-Sel. Banjarmasin: DEPDIKBUD dalam [http://fuzah07.wordpress.com/2009/04/04/sistem-mata-pencaharian/].
  10. Thieme, Susan. 2006. Social Networks and Migration: Far West Nepalese Labour Migrants in Delhi. Development Study Group, University of Zurich
  11. Michael Sherraden, M. & B.E. Youngdahl. 2004. “Asset-Based Development Approaches in the United States” dalam Workshop Asset Building for Sustainable Livelihoods”, Washington, D.C. January 14 thru 16, 2004.
  12. Chant, Sylvia. 1998. “Households, Gender and Rural-Urban Migration: Reflections on Linkages and Considerations for Policy.” In Environment and Urbanization, Vol. 10, No. 1, April 1998:5-22 [http://sagepub.com].
  13. Portes, Alejandro. 2007. “Migration, Development, and Segmented Assimilation: A Conceptual Review of the Evidence” dalam The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science 2007:73-97 [http://ann.sagepub.com/cgi/content/abstract/610/1/73]
  14. Lihat juga Sukamdi (2001, dalam Setiadi 2002. “Is International Migration A Way Out Of Economic Crisis?” dalam Jurnal Populasi Bulan Desember 2002.
  15. Deshingkar, Priya. 2004. “Understanding the Implications of Migration for Pro-poor Agricultural Growth” paper prepared for the DAC POVNET Agriculture Task Group Meeting, Helsinki, 17 – 18 June, 2004.
  16. Wirawan, Ida Bagus. 2006. Migrasi Sirkuler Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Luar Negeri: Studi Tentang Proses Pengambilan Keputusan Bermigrasi oleh Wanita Pedesaan di Jawa. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya [tidak dipublikasi]
  17. Setiadi dan Sukamdi. 2002. Migrasi Internasional: Strategi Kelangsungan Hidup pada Era Krisis Ekonomi [Versi lengkap paper ini akan terbit dalam Jurnal Populasi Bulan Desember 2002 dengan judul “Is International Migration A Way Out Of Economic Crisis?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s