Berikan Waktu Anak Untuk Bermain

Dunia anak adalah dunia bermain. Kondisi tersebut terutama berlaku pada usia balita sebagai era keemasan bagi seorang manusia. Betapa tidak pada usia-usia tersebut justru awal pembentukan kepribadian manusia dan memberi dampak pada kehidupan berikutnya.

I. Teori Perkembangan Individu
Teori perkembangan anak yang banyak dikenal dikemukakan Sigmund Freud (1940). Freud menyatakan bahwa setiap manusia pasti mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa seksualitas adalah faktor pendorong terkuat untuk melakukan sesuatu. Selain itu, masa balita pun anak-anak mengalami ketertarikan dan kebutuhan seksual.

Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. Fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap awal psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan tetap “terjebak” dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada tahap oral mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari rangsangan oral melalui merokok, minum, atau makan.

Tahap perkembangan psikoseksual yang dikemukakan Freud adalah:
1. Fase Oral (0 – 1 tahun)
Pada tahap ini sumber interaksi utama bayi adalah mulut. Hal ini menyebabkan proses dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan. Lebih penting lagi bagi bayi sebenarnya mendapat kesenangan dari rangsangan oral, seperti mencicipi dan mengisap. Kondisi tersebut menyebabkan bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral.
Konflik yang terjadi pada tahap ini adalah penyapihan. Hal tersebut menyebabkan ketergantungan anak terhadap pengasuhnya menjadi berkurang. Apabila terjadi permasalahan pada tahap ini, Freud yakin individu akan memiliki masalah dengan ketergantungan atau agresi dan oral dapat mengakibatkan masalah dengan minum, merokok, makan, atau menggigit kuku.

2. Fase Anal (1 – 3 tahun)
Freud percaya pada tahap anal ini terjadi fokus perkembangan libido pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.
Keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara pendekatan orang tua dalam proses pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif.
Sementara itu, tidak semua orang tua memberikan dukungan yang diperlukan anak-anak selama tahap ini. Respon orangtua yang tidak sesuai dapat mengakibatkan hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang terlalu longgar dapat menyebabkan individu memiliki sifat boros atau berkepribadian merusak. Jika orang tua terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa kepribadian individu menjadi ketat, tertib, kaku dan obsesif.

3. Fase Phalic (usia 3-6 tahun)
Fokus utama dari libido pada tahap ini adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang ibu. Gejala Oedipus Complex menggambarkan kondisi tersebut. Anak-anak seakan berkeinginan memiliki ibu secara penuh dan keinginan untuk menggantikan ayah. Di sisi lai, anak masih memiliki ketakutan mendapat hukuman dari ayah atas perasaan ini. Rasa takut itu disebut Freud sebagai “pengebirian kecemasan”.

4. Fase Laten (6 – 13 tahun)
Periode laten menunjukkan eksplorasi energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke kegiatan lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial, komunikasi dan kepercayaan diri.

Freud beranggapan tahap laten cenderung stabil. Tidak ada proses perkembangan seksual. Oleh karena itu, fase ini tidak selalu dianggap dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah.

5. Fase Genital (usia 13 tahun s/d dewasa)
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Fokus awal tahap ini adalah pemenuhan kebutuhan individu. Seteah kebutuhan pribadi terpenuhi kemudian mengarah pada peningkatan kesejahteraan orang lain. Keberhasilan pencapaian fokus dalam tahapan ini akan mendorong setiap individu menjadi lebih seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.

II. Dunia Anak, Dunia Bermain
Dunia anak adalah dunia bermain. Kondisi tersebut terutama berlaku pada usia balita sebagai era keemasan (The Golden Age) bagi setiap individu. Betapa tidak pada usia-usia tersebut justru awal pembentukan kepribadian manusia dan memberi dampak pada kehidupan berikutnya.

Tapi kenyataannya tidak sedikit juga anak-anak yang sejak usia dini sudah dijejali dengan berbagai akivitas yang lebih mengandalkan kekuatan otak dibanding kemampuan fisik dan bermain. Berbagai kursus maupun privat dilakukan anak-anak. Tidak salah pula apabila orang tua memiliki keinginan anaknya terlatih sejak usia dini dengan ragam kegiatan dan belajar. Alasan utama sebenarnya mengarah pada asa di masa depan agar anak-anak mereka lebih siap menghadapi persoalan dalam kehidupannya.

Idealnya, obsesi orang tua untuk mempersiapkan diri anak-anak untuk masa depannya tersebut tidak lantas mencabut diri anak dari kehidupannya, dari lingkungan dan perkembangan psikologisnya.

Proses belajar pada anak layaknya dapat dilakukan tanpa menghilangkan kegiatan bermain. Kedua hal tersebut dapat dipadukan dalam pelaksanaannya. Seorang anak dapat bermain sambil belajar. Sebaliknya, tetap ada pembelajaran sambil bermain. Ininya, dalam proses tersebut mampu Mengajak anak belajar tanpa memaksa anak. Tetapi memancing minat anak agar tergerak mau mengarungi pembelajaran. Memang berat!

Papalia (1978), seorang ahli perkembangan manusia, mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Pada proses bermain tersebut seorang anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan sekitar dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri. Dengan bermain, anak-anak menemukan, mempelajari hal-hal atau keahlian baru dan belajar (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang. Bermain tentunya merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja.

Lebih jauh, Hughes (1999), seorang ahli perkembangan anak mengatakan setidaknya ada 5 (lima) unsur dalam suatu kegiatan yang disebut bermain. Kelima unsur tersebut adalah:

  1. Tujuan bermain adalah permainan itu sendiri dan anak mendapatkan kepuasan. Proses bermain tersebut tidak mengarah pada tujuan tertentu, misalnya untuk mendapatkan uang.
  2. Dipilih secara bebas. Permainan dipilih sendiri, dilakukan atas kehendak sendiri dan tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa.
  3. Menyenangkan dan dinikmati.
  4. Ada unsur khayalan dalam kegiatannya. Hal ini untuk mendorong daya imajinasi anak
  5. Dilakukan secara aktif dan sadar.

Parten (1932, dikutip Turner & Helms 1995) mengamati ada enam bentuk interaksi antar-anak yang terjadi saat mereka bermain yang tampil secara berurutan dan menunjukkan perkembangan kegiatan bermain pada anak. Pada setiap tahapan tersebut terlihat adanya kadar interaksi sosial, mulai dari kegiatan bermain sendiri sampai bermain bersama. Tahapan perkembangan bermain tersebut antara lain:

  1. Unoccupied play (bermain tidak sibuk). Pada tahap ini anak tidak benar-benar terlibat dalam kegiatan bermain, melainkan hanya mengamati kejadian di sekelilingnya yang menarik perhatian anak.
  2. Solitary play (bermain sendiri). Biasanya tampak pada anak yang berusia sangat muda. Anak sibuk bermain sendiri, dan tampak tidak memperhatikan kehadiran anak-anak lain di sekitarnya. Perilakunya egosentris, dengan ciri-ciri antara lain tidak ada usaha untuk berinteraksi dengan anak lain.
  3. Onlooker play (penonton/pengamat). Pada tahapan ini anak bermain melalui mengamati anak-anak lain yang melakukan kegiatan bermain dan tampak adanya minat yang semakin besar terhadap kegiatan anak lain yang diamatinya. Umumnya tampak pada anak usia 2 tahun. Ketiga jenis permainan ini, oleh Berk (1994) dikategorikan sebagai Non-social play, karena sangat minimnya faktor interaksi sosial yang terjadi.
  4. Parallel play (bermain paralel). Permainan model ini dilakukan secara bersama-sama oleh dua atau lebih anak, namun belum tampak adanya interaksi di antara mereka. Mereka melakukan kegiatan yang sama, tapi tidak ada kerja sama di antara mereka, karena mereka masih sangat egosentris dan belum mampu memahami atau berbagi rasa atau bekerja sama dengan anak lain.
  5. Assosiative play (permainan bersama). Permainan ini ditandai dengan adanya interaksi antar-anak yang bermain, saling tukar alat permainan, tetapi jika diamati akan tampak bahwa mereka sebenarnya tidak terlibat dalam kerja sama. Kegiatan bermain ini biasa tampak pada anak usia pra-sekolah.
  6. Cooperative play (permainan bekerja sama). Permainan ini ditandai dengan adanya kerja sama atau pembagian tugas dan pembagian peran antara anak-anak yang terlibat dalam permainan, untuk mencapai satu tujuan tertentu, misalnya bermain dokter-dokteran. Kegiatan bermain ini biasanya tampak pada anak usia lima tahun, namun tergantung pada sejauh mana mereka diberi kesempatan dan dorongan agar mau bergaul dengan sesama temannya.

Sementara itu banyak ahli pun mendefinisikan apapun aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak seharusnya memberikan kesan menyenangkan dan dinikmati (pleasurable and enjoyable). Bermain dapat menggunakan alat (mainan) ataupun tidak. Hanya sekedar berlari-lari keliling di dalam ruangan, kalau kegiatan tersebut dirasakan menyenagkan oleh anak, maka kegiatan itupun sudah dapat disebut bermain.

III. Simpulan
Sebagai simpulan berdasarkan pemaparan diatas, seorang anak tentunya memerlukan bermain. Orang tua mungkin merasa khawatir banyaknya waktu bermain yang dilakukan anak menyebabkan tidak mau belajar. Idealnya dalam proses belajar setiap anak masih memiliki waktu untuk bermain. Hal terpenting yang perlu ditinjau ulang para orang tua adalah memastikan setiap anak tetap termotivasi agar tetap mau belajar. Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk membimbing anaknya dalam bermain sehingga benar-benar berguna bagi anak tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Memastikan di tengah padatnya jadual belajar, setiap anak masih memiliki waktu cukup luang untuk bermain.
  2. Mendukung kreativitas permainan anak, sejauh apa pun yang dilakukan anak dalam permainan bukan sesuatu yang tidak melanggar norma kesopanan, tidak merugikan atau menyakiti orang lain serta tidak membahayakan diri anak maupun orang lain.
  3. Membimbing dan mengawasi anak dalam bermain, tapi tidak terlampau banyak melarang atau bahkan mengekang. Proses bimbingan terhadap anak dilakukan ketika dalam proses bermainnya anak melakukan kesalahan atau membahayakan.
  4. Sesekali ikut bermain bersama anak, pahami dirinya, kegembiraan, ketakutan dan kebutuhannya.

Referensi:
Berk, Laura E. 1994. Vygotsky’s Theory: The Importance of Make-believe Pay. Young Children, vol. 50 No. 11 p30-39 Nov 1994

Freud, Sigmund. 1940. An Outline of Psycho-Analysis.

Hughes, Fergus P. 1999. Children, Play, and Development (4th Edition). Boston: Allyn & Baco

Papalia, Diane E. 1978. Human Development. New York : McGraw-Hill,

Parten, M. 1932. Social Participation among Pre-school Children. Journal of Abnormal and Social
Psychology
, 27, 242-269.

Turner, Jeffrey S.; Helms, Donald B. 1995. Lifespan Development (5th edition). Fort Worth: Harcourt Brace College Publishers

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s