Indahnya Saling Memaafkan

Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad
Allâhumma bârik lanâ fî rajabin wa sya`bân, wa ballighnâ syahra ramadhân, wa a`inna `alash shiyâmi wal-qiyâmi wa hifzhil lisân wa ghadhdhil basher, walâ taj’al hazhzhanâ minhul jû`a wal-`athasy.


Artinya:
“Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan. Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, melakukan shalat malam, menjaga lisan dan memelihara pandangan; dan jangan jadikan puasa kami hanya sekedar lapar dan dahaga.”

1.
Marhaban Ya Ramadhan…
Tak terasa saat ini kita sudah memasuki bulan Sya’ban. Artinya, sebentar lagi kita pun akan kembali berjumpa dengan bulan yang sangat dinanti-nantikan, bulan Ramadhan. Betapa istimewanya bulan tersebut karena didalamnya Allah menghimpun segala rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan), dan itqun minan naar (terselamatkan dari api neraka). Bulan Ramadhan juga disebut dengan “shahrul Qur’an”, bulan diturunkannya al-Qur’an.

2.
Layaknya menjadi tradisi, sebelum memasuki bulan Ramadhan kita kerap diarahkan untuk saling bermaaf-maafan terutama kepada orang tua, keluarga dan tetangga. Landasan kebiasaan ini konon berawal dari Doa Malaikat Jibril yang mendatangi Rasulullah ketika sedang berhotbah pada suatu Sholat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamin sampai tiga kali.

Ketika selesai sholat jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan:

“Ketika aku sedang berhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah aamin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril itu adalah sbb:
“Ya Allah tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
a) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada).
b) Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri.
c) Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Dalil tersebut konon masih menjadi kontroversi karena dianggap belum jelas sumbernya.

Dalam versi lain, hadits yang mirip dengan redaksi hadits yang ditulis di atas datangnya melalui Abu Hurairah :

(bahwasanya) Rasulullah SAW pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?”
Beliau bersabda. “Artinya : Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin….”

Hadits di atas bisa kita temukan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah 3/ 192, Musnad Ahmad 2/246 dan 245, serta dalam kitab Imam Bayhaqi 2/204. Adapun asalnya hadits tersebut dalah kitab Shohih muslim 4/1978.

Sementara itu, dalil yang lebih panjang dan lebih rinci didapatkan dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam.

“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”.
Para sahabat bertanya. “Kenapa engkau berkata ‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”.


Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai penafsirannya, namun perlu kita garis bawahi bahwa inti dari semua itu adalah penekanan bahwa setiap umat Islam perlu menjalankan ibadah, khususnya di Ramadhan, secara bersungguh-sungguh dan memohon banyak ampunan.

Dalilnya adalah sebagai berikut:
“Siapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu. “(Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Secara singkat hadits tersebut dapat dimaknai bahwa siapapun yang ibadah puasa yang kita jalankan merugi apabila dosa yang telah lalu masih menumpuk dan tidak diampuni.

Konsepsi mengenai pentingnya saling memaafkan secara umum, tidak terkait dengn masuknya bulan Ramadhan, sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Begitu banyak dalil untuk meminta maaf dan memberi maaf. Salah satunya adalah firman Allah SWT berikut ini:
“Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah: 109).

Demikian juga di dalam ayat lain disebutkan bahwa memaafkan orang lain adalah sifat orang bertaqwa. Sementara tujuan kita berpuasa adalah juga agar kita menjadi orang yang bertaqwa.
“…Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Baqarah: 237).

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 133-134).

Memaafkan kesalahan orang lain adalah sebuah ibadah yang mulia. Dan sebagai muslim, Allah SWT telah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain. Sehingga hukum memberi maaf itu adalah wajib’”ain, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (Q.S. Al-Araf: 199).

“Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nuur: 22).

3.
Ramadhan, Momen Saling Memaafkan
Berdasarkan ulasan singkat yang dikemukakan diatas, saling memaafkan tidak perlu menunggu datangnya bulan Ramadhan atau Idul Fitri. Namun, terlepas dari berbagai silang pendapat mengenai dalil saling bermaafan menjelang bulan Ramadhan, hal terpenting justru menjadikan bulan tersebut menjadi saat yang baik untuk saling memaafkan. Pikiran positifnya, sungguh lebih baik apabila kita memulai ibadah di bulan tersebut dengan melebur kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya kepada orang-orang di sekitar kita.

Indahnya Saling Memaafkan!…

[berbagai sumber]

2 responses to “Indahnya Saling Memaafkan

  1. Ya betul… Kita ambil nilai positifnya saja. Toh, meminta maaf merupakan perbuatan yang baik.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

  2. @Muhammad: Betul Mas, tidak ada ruginya kita meminta maaf.

    Salam juga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s